RINGKASAN MANASIK HAJI DAN UMROH

Manasik Haji2Berikut ini adalah ringkasan kegiatan manasik haji yang dilakukan sejak tanggal 8 Dzulhijjah hingga tanggal 13 Dzulhijjah.  Diambil dari buku Meneladani Manasik Haji dan Umrah Rasulullah  yang disusun oleh  Mubarak bin Mahfudh Bamuallim. Lc,  terbitan Pustaka Imam Syafi’i – Cetakan Pertama 2003.

Harapan kami apa yang penulis sampaikan di bawah ini dapat bermanfaat dan melengkapi pengetahuan pembaca khususnya dalam melaksanakan ibadah  haji yang sesuai dengan sunnah Rasulullah – shollalloohu ‘alayhi wasallam dengan dalil Al-Qur’an dan Hadits yang tidak lemah apalagi palsu.

  • HAJI

I. Rukun Haji adalah:

a) Ihrom dengan niat karena Allah.

b) Wuquf di ‘Arofah.

c) Thowaf Ifadhoh.

d) Sa’i.

II. Wajib Haji adalah:

a) Ihram dengan pakaian ihram

b) Mabit / menginap di Mina pada malam hari-hari tasyrik.

c) Melempar Jumroh ‘Aqobah pada hari ‘Idul ‘Adha.

d) Melempar tiga Jumroh (Shugro, Wustho, ‘Aqobah) secara berurutan pada  hari-hari tasyrik.

e) Thowaf Wada’  kecuali bagi wanita haidh atau nifas sementara ia harus segera pulang/pergi dari Makkah.

f) Mencukur rambut (hingga bersih atau sekedar memendekkan)

III. Sunnah-Sunnah Haji, lihat di amalan selama hari-hari haji.

>> Amalan selama hari-hari haji <<

1. Hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah)

a) Ihrom  dengan niat di hati karena Allah.  Dari penginapan masing-masing  dengan melalui miqot (tempat diniatkan Ihrom) dengan mengucapkan talbiyah Ihrom: “Labayka Alloohumma Hajjan” atau “Labayka Alloohumma bi hajjajtin”.  Bagi yang haji Qiron talbiyah Ihromnya: “Labayka Allohumma Hajjan wa Umrotan” atau “Labayka Allohumma bi hajajtin wa umrotin”.  Jika khawatir tidak dapat menyelesaikan seluruh manasik, boleh mengucapkan “Alloohumma mahillii haytsu habastanii” (Ya Allah tempat tahallulku dimana saja Engkau menahanku) – sehingga jika terhalang menyelesaikan manasik, dapat tahallul dari Ihram dan juga tidak terkena dam (denda berupa memotong kambing).

Pakaian Ihrom pria hanya terdiri dari dua lembar kain putih.  Satu lembar untuk penutup bagian bawah dan satu lembar untuk penutup bagian atas termasuk pundak.  Membuka pundak kanan (idhthibaa’) hanyalah saat Thowaf Qudum (pendahuluan ketika baru datang ke Makkah).

Sedangkan pakaian ihrom bagi wanita adalah pakaian biasa yang menutup aurat dengan sempurna, tidak menyerupai laki-laki atau pakaian kaum kafir serta tidak berhias/menarik perhatian (tabarruj). Tidak ada warna khusus bagi wanita, boleh warna selain putih. Bahkan sebenarnya pakaian putih terlebih yang tipis lebih rawan terlihat bayangan tubuh menerawang – dan ini sungguh terlarang dalam Islam, satu-satunya agama yang diridhoi Allah Sub-haanahu wa ta’ala.

Sunnah:
Sebelum Ihrom: mandi, memakai wangi-wangian di tubuh, memakai 2 kain Ihrom berwarna putih menutupi bagian bawah dan atas termasuk kedua pundak  (sedangkan untuk wanita dengan pakaian biasa yang tidak berhias dan melepas cadar dan kaos tangan, namun boleh menutup wajah dengan menggunakan kudungnya bila bertemu laki-laki non mahramnya), sholat (wajib/sunnah) di Wadi ‘Aqiq bagi yang berangkat dari kota Madinah (Dzul Hulaifah / bir ‘Ali – tempat miqot, sholat ini bukan dikhususkan untuk Ihrom),  membaca: tahmid (pujian yaitu Alhamdulillah), tasbih (mensucikan yaitu Subhanallah) dan takbir (memuliakan yaitu Allahu Akbar) di padang terbuka dan dilanjutkan dengan talbiyah Ihrom.

Membaca Talbiyah dengan suara keras (bagi laki-laki): Labayka Allohumma labayk(a).  Labayka laa syariika laka labayk(a), inna’lhamda wanni’mata laka wa’lmulk(u) laa syariika lak(a)  sambil ke arah kiblat.

b) Menuju Masjidil Haram di Mekkah dan melaksanakan Thowaf Qudum dan Sa’i haji.  (Tatacara lihat nomor 3 h dan i)
Bagi yang melaksanakan haji tamattu maka tidak melakukan thowaf qudum dan sa’i  karena telah melaksanakan thowaf dan sa’i umrah ketika datang ke kota Makkah pada hari-hari sebelum tanggal 8 .

c) Berangkat menuju Mina sambil masing-masing tetap bertalbiyah dan sesampainya di Mina menginap di sana.
Sholat wajib dilakukan dengan cara qoshor dan sesuai waktunya (tidak di jama’) yaitu:  Dzuhur 2 raka’at, Ashar 2 raka’at, Maghrip 3 raka’at, Isya’ 2 raka’at, Subuh 2 raka’at.
Tidak mengerjakan sholat sunnah rawatib atau lainnya, kecuali witir atau sholat sunnah Fajar.

2. Hari Wukuf (tanggal 9 Dzulhijjah)

a) Berangkat dari Mina ke padang Arofah setelah matahari terbit.  Sunnah membaca Talbiyah.  Para muhrim, (arti muhrim adalah orang yang sedang Ihrom) tidak berpuasa sunnah.

b) Jika memungkinkan, disunnahkan turun di Masjid Namiroh (di sisi padang Arofah) untuk sholat Dzuhur dan Ashar dengan cara 1 x Adzan 2 x Iqomah, yaitu : jama’ (mengumpulkan 2 sholat wajib dalam satu waktu) taqdim (memajukan waktu sholat, dalam hal ini sholat Ashar ke waktu Dzuhur)  qoshor (menyingkatkan jumlah raka’at), yaitu setelah adzan Dzuhur kemudian iqomah (perintah) untuk segera sholat Dzuhur (2 raka’at).  Setelah selesai Dzuhur, iqomah (perintah) lagi untuk segera sholat Ashar (2 raka’at).

c) Wukuf (berdiam) di padang Arofah sampai matahari terbenam. Menjaga diri agar tidak keluar dari areal Arofah (ada tandanya). Disunnahkan wukuf di bawah Jabal Rahmah, tapi jangan mendaki Jabal Rahmah atau berdoa sambil menghadapnya, hal ini adalah bid’ah/bukan sunnah Rasulullah.

Sunnah:
Menghadap arah kiblat, memperbanyak do’a (sesuai keinginan), berdoa dengan mengangkat tangan.  Disunnahkan memperbanyak bacaan : “Laa Ilaaha Illallaahu wahdahu laa syariika lah(u), lahul mulku walahul hamdu, wa huwa alaa kulli syay’in qodiir”.  Juga memperbanyak shalawat kepada Rasulullah.  Mendengarkan khutbah Arofah dan tentu saja boleh diselingi makan/minum.

d) Meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah  setelah matahari terbenam.   Sesampainya di sana sholat Maghrib dan Isya’ dengan cara 1 kali Adzan 2 x Iqomah.  (Maghrib tetap 3 raka’at, Isya’ 2 raka’at).  Setelah itu baru mencari batu-batu kecil untuk melempar jumroh. (Ambil 70 butir untuk persiapan 4 kali jumroh : 7x 1 (Aqobah) + 7 x 3 x 3  (Shugro, Wustho, Aqobah selama 11, 12, 13 Dzulhijjah).
Keterangan: Batu-batu boleh diambil dimana saja tidak harus mengambil 70 butir di Muzdalifah dan boleh kapan saja sebelum melempar jumroh.

e) Menginap (tidur) di Muzdalifah. Bagi kaum wanita/orang yang lemah diperbolehkan ke Mina setelah tengah malam.

Sunnah:
Tidur dan tidak qiyamul lail (tidak menghidupkan malam dengan sholat atau membaca Al-qur’an atau ibadah lainnya sepanjang malam/tidak tidur).

3. Hari Nahar (10 Dzulhijjah)

a) Sholat Subuh di Muzdalifah setelah Adzan (tidak boleh sholat dilakukan sebelum masuk waktu Subuh seperti kebiasaan sebagian jama’ah haji). Bagi yang telah ke Mina setelah tengah malam di Muzdalifah kegiatan 3.a dan 3.b.  tidak berlaku.

b) Wukuf di Masy’aril Haram  dengan menghadap ke arah Kiblat sambil ber’doa, menyanjung dan mengagungkan dengan  serta mentauhidkan Allah  (tahlil)  yaitu Laa Ilaaha Illallaah  sampai langit terang. (Fajar shoddiq – benar-benar terang – tetapi belum terbit matahari).

c) Berangkat ke Mina sebelum matahari terbit  sambil ber-talbiyah, dan mempercepat langkah ketika di wadi Muhassir (lembah antara Mina dan Muzdalifah) jika memungkinkan.

d) Melempar jum’roh Kubro (Aqobah) di waktu Dhuha atau setelahnya dengan  melempar 7 butir kerikil satu persatu.  Setiap lemparan mengucapkan Takbir  (Allahu Akbar).  Dengan melempar jumroh Aqobah ini kita tidak lagi ber-talbiyah.
Keterangan: Melempar jumroh adalah mengikuti apa yang dilakukan Rasululloh, tidak ada hubungannya dengan kegiatan melempar syaitan yang tinggal disitu.  Sehingga tidak perlu memaki-maki atau melempar dengan amarah di sini.

e) Mencukur rambut (gundul atau memotong sedikit seluruh bagian rambut kepala).  Untuk wanita cukup menggunting sepanjang satu ruas jari pada setiap bagian.

f) Dengan ini maka muhrim (orang berihram) memasuki salah satu tahapan Tahallul Awal (atau Tahallul Shugro).  Tahallul awal dapat terlaksana dengan mengerjakan 2 dari 3 kegiatan berikut: Jumroh Aqobah, Mencukur/memotong rambut, Thowaf Ifadhoh (boleh tidak berurutan namun dilakukan berurutan lebih utama). Setelah tahallul awal boleh mengganti Ihrom dengan baju biasa – dan seluruh larangan Ihrom telah diperbolehkan tapi tetap belum boleh ‘bersenang-senang’ dengan istri.

Keterangan: Haji Ifrod tidak diwajibkan menyembelih Hadyu (kurban) kecuali untuk membayar dam lainnya  (yaitu denda berupa memotong hewan karena melanggar wajib haji.   Sedangkan bagi haji Qiron dan Tamattu’ wajib memotong hadyu pada hari Nahar dan Tasyrik (terkecuali mendapat halangan, maka boleh setelahnya) atau berpuasa 3 hari saat hari-hari haji dan 7 hari di tempat asal  dan yang afdhol adalah memotong hadyu terlebih dahulu baru mencukur rambut.

g) Thowaf Ifadhoh atau disebut juga Thowaf  ziyaroh (kunjungan).  Jika mengalami kesulitan menuju Mekkah atau wanita yang haid/nifas, diperbolehkan menunda Thowaf Ifadhoh hingga setelah hari-hari Tasyrik.
Sunnah ketika memasuki Masjid al-Haram (dan mesjid lainnya) untuk berdo’a dengan: “Bismillahi Allohumma sholli ‘ala Muhammad, Allohummaf-takh-liy abwaabar- rokhmatika.”
Sunnah pula ketika melihat Ka’bah membaca doa sambil mengangkat tangan dengan doa sesuai keinginan.  Tidak ada doa tertentu yang dikhususkan.

h) Thowaf dilakukan dengan 7 putaran – tanpa raml / lari-lari kecil pada 3 putaran pertama  karena raml hanya ada pada thowaf Qudum saja.   Thowaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah (dan sebelah luar hijir Ismail). Jangan masuk di antara Ka’bah dan hijir Ismail, bila ini dilakukan maka Thowaf tidak sah.  Thowaf harus dilakukan dalam keadaan suci dan bila batal segera berwudhu’  tanpa harus mengulang bilangan thowaf dari awal kembali.  Bersentuhan dengan lawan jenis tanpa sengaja (dan tanpa syahwat) tidak membatalkan wudhu’ untuk thowaf ataupun sholat, namun berusahalah untuk menghindari sebisa mungkin.

Keterangan:
Saat memulai Thowaf adalah dari rukun Aswadi  (ditandai dengan menarik garis lurus dari Hajar Aswad ke arah lampu hijau), sambil mencium hajar aswad, atau menyentuh dengan tangan dan mencium tangan tsb., atau jika sulit mendekatinya, cukup memberi isyarat dengan melambai (tanpa mencium tangan), kemudian membaca: “Bismillaahi Allaahu Akbar.”   Saat melewati rukun Yamani, sentuhlah jika mampu, jika tidak bisa menyentuh tidak perlu memberi isyarat apapun, dan sunnah membaca doa “Robbana ‘aatina fii ddun-ya khasanah, wa fii-l aakhiroti khasanah, wa qinaa adzaaban-naar” antara rukun Yamani dan rukun Aswadi.  Sesampai di hajar aswad mulai lagi untuk putaran kedua dengan cara yang sama seperti pertama  dan demikian pula selanjutnya hingga tujuh kali.

Selama Thowaf silahkan baca doa apa saja, baca Al-Qur’an atau dzikir dengan suara yang lembut karena tidak ada doa khusus dari Nabi kecuali antara rukun Yamani dan rukun aswadi tersebut di atas.  Jangan memaksakan diri mencium Hajar Aswad bila penuh orang, penting untuk tidak menyakiti atau disakiti orang lain karena berebut ke satu tempat. Konsentrasikan diri dalam Thowaf, jaga pandangan untuk tidak memperhatikan kebaikan/keburukan orang lain  atau memandang wajah lawan jenis yang bukan mahram kita.  Boleh berbicara dengan syarat berbicara sesuatu yang baik dan diperlukan.

i) Dilanjutkan dengan sholat sunnah Thowaf (di belakang maqom Ibrahim).

Sunnah :
Ketika melewati maqom Ibrahim untuk sholat berkata: “Wattakhidzuu mi-mmaqomi Ibroohima mushollan.”   Di belakang maqom Ibrahim maksudnya menjadikan maqom Ibrahim di antara dirinya dan Ka’bah. Jauh tidak mengapa. Dan jika tetap sulit juga, bisa sholat sunnah Thowaf dimana saja di areal Masjid al-Haram. Bacaan dalam sholatnya adalah (setelah membaca Al-Fatihah) Al-Kafiruun  pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua.  Setelah itu disunnahkan meminum air zam-zam dan membasahi rambut dengannya.

j) Sa’i antara Shofa  dan Marwah sebanyak 7 kali.  Berbeda dengan haji Tamattu’, bagi haji Qiran dan Ifrad jika sudah sa’i misalnya saat Thowaf Qudum  maka tidak boleh sa’i  lagi.   Sa’i tidak disyarakat suci dan tempat Sa’i bukanlah termasuk masjid oleh karenanya boleh dilakukan oleh wanita haidh/nifas.

Ketika mendekati bukit Shofa disunnahkan membaca: Innas-shofaa wal-marwata min sya’aa Irillah.  Faman hajjal-bayta  awi’tamaro falaa junaaha alayhi an yatthowwafa bihimaa. Wa man tathowwa’a  khoyron Fa’innalloha syaakirun ‘aliim.

Ketika sampai di bukit Shofa disunnahkan menghadap ke kiblat dan membaca  “Allahu Akbar,  Allahu Akbar,  Allahu Akbar,  Laa ilaaha illallohu wakhdahu laa syariikalah,  lahul mulku walahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syay’in qodiir, laa ilaaha illaallohu wakhdah. Anjaza wa’dahu wa nashoro abdah. Wa hazamal akhzaaba  wahdah.”  3 x   (di antara bacaan 1 ke 2 serta bacaan 2 ke 3  diselingi do’a apa saja yang dikehendaki).    Sesampai di bukit Marwah mengulangi do’a di atas kemudian kembali ke Shofa dan terus demikian hingga 7 kali.

Keterangan:
Sa’i dimulai dari Shofa naik ke bukit Marwah.  Ketika melewati lampu berwarna hijau, berlari-lari kecil hingga lampu hijau berikutnya.  Lari-lari kecil ini hanya khusus bagi laki-laki dan bila mampu.  Setiap rute Shofa ke Marwah dihitung 1 kali. Dari Marwah ke Shofa dihitung 1 kali, dan seterusnya.

k) Selesai Thowaf Ifadhoh (dan Sa’i haji) maka telah tahallul tsani  dan seluruh larangan Ihrom telah boleh dilakukan termasuk yang berkaitan dengan suami-istri.

4. Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah)

Menginap di Mina.

a) Tanggal 11 Dzulhijjah, melempar 3 jumroh setelah tergelincir matahari (setelah Dzuhur) yaitu Shugro, Wustho, Aqobah  (kecil, sedang, besar) secara berurutan

Disunnahkan setelah melempar jumroh Shugro menghadap arah kiblat dan berdo’a.  Demikian pula setelah jumroh Wustho.  Namun tidak ada do’a setelah jumroh Aqobah.

b) Tanggal 12 Dzulhijjah, melempar 3 jumroh setelah tergelincir matahari yaitu Shugro, Wustho, Aqobah  (kecil, sedang, besar) secara berurutan    Bagi yang akan segera kembali ke negeri masing-masing, diperbolehkan langsung ke Makkah untuk Thowaf Wada’ (Thowaf Perpisahan) dan setelah itu langsung meninggalkan Makkah.  Keluar dari Mina hari ini disebut Nafar Awwal.

Sunnah:
Melanjutkan menginap hingga tanggal 13 Dzulhijjah.

c) Tanggal 13 Dzulhijjah, kembali melempar 3 jumroh setelah tergelincir matahari yaitu Shugro, Wustho, Aqobah  (kecil, sedang, besar) secara berurutan    Setelah itu segera meninggalkan Mina.  Keluar dari Mina hari ini disebut Nafar Tsani.

d) Bila hendak meninggalkan Makkah untuk kembali ke negeri masing-masing harus Thowaf Wada’ (Thowaf Perpisahan) dan setelah itu langsung meninggalkan Makkah.  Bagi wanita yang haid/nifas diperbolehkan meninggalkan Thowaf ini.

5. Selesailah rangkaian ibadah haji.

  • UMROH

Ibadah Umroh termasuk yang diwajibkan.  Dan bagi haji Tamattu’ dan Ifrod harus melakukannya secara terpisah dengan Ihram untuk Haji.  Umroh haji Tamattu’ dilakukan sebelum hari-hari haji, sedangkan Umroh Ifrod dilakukan setelah selesai hari-hari haji.  Khusus Haji Qiron tidak wajib lagi melakukan umroh karena sudah digabung dengan Ihram Haji. Namun jika waktu mencukupi, maka mengerjakan umroh lagi (umroh yang sunnah)  tentunya lebih baik.   Adapun Rukun Umroh ialah:

a) Ihrom melalui miqot (di kota Makkah: Ji’ ronah atau Tan’im)
b) Thowaf Umroh
c) Sa’i  antara Shofa dan Marwah
d) Mencukur rambut untuk tahallul.

Tata cara a) sampai d) sama dengan yang telah diuraikan untuk haji.  Terkecuali saat penyebutan talbiyah yaitu untuk umroh bukan menggunakan ucapan “Labayka Alloohumma Hajjan” atau  alternatifnya ucapan “Labayka Alloohumma bi hajjajtin  – tetapi yang digunakan adalah ucapan “Labayka Alloohumma Umrotan” atau “Labayka Alloohumma bi umrotin”

LAIN-LAIN

Sholat dengan di-Jama’ maupun Qoshor  merupakan sunnah Rasululloh ketika safar (dalam perjalanan)  dan merupakan kemudahan dan shodaqoh dari Allah SWT.  Oleh karenanya kita berupaya melaksanakan sunnah tersebut ketika safar.

Bagi jama’ah haji yang langsung menuju kota Makkah dari tanah air (atau dari tempat transit di negara lain), maka ihram harus dilaksanakan di atas pesawat ketika melewati miqot. Biasanya awak pesawat terbang akan mengumumkan sejak beberapa menit sebelum melewati miqot agar penumpang yang akan berhaji/umroh bersiap-siap menggunakan baju ihram dan bertalbiyah.  Karena laju pesawat terbang sangat cepat dan untuk menghindarkan kerepotan bagi pria dalam mengenakan baju ihram di dalam pesawat terbang, maka disarankan untuk menggunakan pakaian ihram sejak menaiki pesawat sehingga ketika saatnya melewati miqot calon jama’ah haji telah siap.  Selama belum melewati miqot dan berihram, calon jama’ah haji dapat menggunakan pakaian biasa untuk menutupi  baju ihram agar tidak dingin atau tersingkap.

Ada beberapa kebiasaan, tradisi atau ritual yang merupakan perbuatan bid’ah yang menyelisihi sunnah Rasulullaah yang berkaitan dengan ibadah haji dengan anggapan bila hal itu tidak dilaksanakan maka dianggap tidak sempurna, tidak sah, kurang afdhol dan sebagainya.   Hendaknya hal ini tidak kita lakukan karena telah datang sabda Rasulullah yang memerintahkan untuk mengikuti beliau dalam manasik,  “Ambilah oleh kalian dariku manasik kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Contoh perbuatan menyelisihi sunnah Nabi dalam ibadah haji dan lainnya adalah, sholat sunnah khusus Ihram, Mandi khusus Thowaf, mencium rukun Yamani, mencuci pakaian dengan air zam zam, sholat sunnah sa’i,  mandi khusus Wukuf, naik ke Jabal Rahmah seakan-akan kewajiban,  sholat di  gua Hira dengan menganggap adanya fadhilah/keutamaan/pahala, meniatkan untuk sholat wajib selama 40 waktu di masjid, termasuk pula mengusap muka setelah sholat, bersalaman setelah sholat dan lain-lain.

Terkadang, keadaan saat berhaji tidak selamanya bisa mengikuti sunnah sepenuhnya karena kondisi yang tidak memungkinkan misalnya kemacetan lalu lintas, adanya ketentuan pemerintah Saudi  untuk menghindarkan keadaan bahaya karena penuh sesak misalnya dengan mengatur waktu melempar jumrah bagi tiap-tiap kelompok haji berdasarkan negara asal jama’ah,  dan berbagai sebab lainnya.  Oleh karenanya janganlah lupa menetapkan niat untuk selalu istiqomah menjaga sunnah yang disertai do’a agar dimudahkan segala urusan.

Bagi pembaca yang akan menunaikan ibadah haji, jangan lupa mendo’akan keluarga dan kerabat yang belum berhaji, serta selalu memohon iman, kesehatan, rejeki dan keselamatan. Semoga kita menjadi haji mabrur, karena tidak ada balasan haji mabrur kecuali surga.

Wallaahu a’lam, semoga bermanfaat dan penulis memohon ampun kepada Allah Sub-haanahu wa ta’ala atas segala kelalaian dan kekhilafan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: