Jangan Ikuti Mereka

Jangan ikuti mereka! Siapakah mereka? Tentunya ini menjadi pertanyaan semua yang mendengarnya.  Seperti apakah yang tidak boleh diikuti itu? Kalau kemaksiatan ya jelas kami tidak diikuti – tapi kalau kebaikan masa’ tidak boleh?

Sebagai umat Islam kita harus mempunyai kebanggaan serta rasa percaya diri yang kuat. Kita wajib menjaga rasa kebanggaan itu sehingga tidak menjadi rendah diri di hadapan umat lain.

Terkadang ada sebagian kaum muslimin yang ‘minder’ alias kurang percaya diri ketika berhadapan dengan umat agama lain. Contoh saja, masih malu menggunakan pakaian yang sesuai dengan syariat Islam ketika berjalan-jalan di tengah pertokoan mewah seperti mall dan lain sebagainya karena di sekelilingnya orang-orang berpakaian ala barat yang identik dengan orang-orang tidak beriman. Minder melihat orang yang berpakaian sesuai mode yang sedang ‘in’  tak peduli walau itu bersifat buka-bukaan  aurat entah pakai rok mini, atau pakaian yang ketat sehingga tercetak bentuk tubuh yang harus ditutupi (aurat), atau tanpa kerudung sehingga rambut, leher, dada terbuka.

Ketika musim celana pendek yang bahkan -maaf – yang saking pendeknya sudah mendekati aurat besarnya, maka tak malu-malu pula bahkan beramai-ramailah kaum wanita entah muslimah entah tidak, entah muda entah tua, entah kaya entah miskin berpakaian dengan bagian terbuka berjalan-jalan keliling kampung, ke kampus, ke mall, bahkan ada yang pergi ke undangan pernikahan yang bertempat di suatu ruang serbaguna mesjid!  Ia tak peduli dengan pandangan syahwat dari kaum laki-laki yang kurang beriman dan menganggap wanita ini bisa dicicipi oleh siapa saja. Ia juga tak peduli dari pandangan sinis orang-orang yang terkaget-kaget karena melihat ‘pemandangan’ yang tidak beradab bisa masuk ke dalam lingkungan masjid.  Na’udzubillahi min dzalik.  Semoga Allah memberi mereka hidayah untuk mengikuti jalan yang benar.

Sungguh benar sinyalemen dari Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam,

Dari Abu Said al Khudriy Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Sungguh kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga kalau mereka masuk ke dalam lubang Dhob, pasti kalian akan mengikutinya.’ Para sahabat bertanya, ‘Apakah Yahudi dan Nashoro? Rasulullaah menjawab, ‘Siapa lagi?’

(Hadits Mutawatir Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain dari banyak sahabat).

Dhob = sejenis binatang melata seperti biawak pemakan tumbuhan.

Sebagian besar mereka yang mempunyai semangat beragama yang tinggi tentu memahami, bahwa berpakaian mengikuti orang-orang kafir seperti contoh di atas yang jelas-jelas melanggar syariat Islam dalam menutup aurat tentu tidak akan mengikuti. Tetapi sebagiannya juga menganggap baik sebagian kegiatan yang seolah penuh dengan kebaikan bahkan menganggap bernilai ibadah. Berbagai peringatan seperti Maulud Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam yang bulan-bulan ini banyak dilakukan orang merupakan salah satunya. Ada sebagian penceramah yang mengatakan bahwa mereka mengakui bahwa Maulud Nabi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat beliau – Ridwanullah ‘alayhim jami’an  – namun merupakan tradisi yang mempunyai maslahat dan kebaikan yang banyak sehingga tidak apa-apa dilakukan.  Tentu ini adalah sebuah syubhat yang besar karena tidaklah suatu kegiatan perayaan keagamaan merupakan suatu ibadah yang mengantar pelakunya ke Surga kecuali telah dijelaskan oleh Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam   bentuk, waktu dan tata caranya.   Bahkan menetapkan tanggal 12 Rabiul Awwal sebagai hari lahir Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam  tidak pernah disepakati oleh para ulama. Namun sebagai hari kematian beliau  Shollallaahu ‘alayhi wa sallam telah disepakati. Jadi secara tidak langsung orang-orang yang merayakannya seperti merayakan hari kematian beliau.

Bila kita merujuk lagi, bahwa peringatan Maulud Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam  baru terjadi pada abad-abad ke 3-4 hijriyah ketika Bani Fathimiyah berkuasa yang merupakan kaum Syi’ah Rafidhah  memulai kegiatan ritual tersebut. Jadi secara tidak langsung yang merayakannya telah melakukan dua buah penyerupaan yaitu penyerupaan terhadap kaum Syi’ah dan penyerupaan terhadap kaum Nasrani yang mana mereka memang mempunyai tradisi untuk memperingati hari kelahiran orang-orang sholeh mereka. Tidak heran mereka pun memperingati hari kelahiran ‘tuhan’ mereka dan hari-hari kelahiran orang-orang dekat mereka.

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud)

“Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot, selisihilah orang majusi.”(HR.Muslim)

Selisihilah orang musyrik, Cukurlah kumis dan panjangkanlah jenggot, selisihilah orang majusi.” (HR. Bukhari).

Kita lihat, begitu banyak dalil larangan mengikuti orang-orang di luar Islam, bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan dalam firman-Nya:

“Jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al Kitab (Nashara dan Yahudi) niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir sesudah kamu beriman.” (Al-Qur’an Surah Ali Imran:100)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”   (Al-Qur’an Surah Al Baqoroh:170)

Dan masih banyak lagi upacara-upacara peringatan baik yang datang dari kebiasaan orang barat – Yahudi dan Nasrani,  maupun dari orang-orang timur, Hindu dan Budha yang sering dilakukan oleh masyarakat kita seperti peringatan tujuh bulan kandungan, turun tanah hingga ritual adat-adat perkawinan yang terbukti mengikuti orang-orang kafir. (Lihat Parasit Akidah).

Setelah mengetahui larangan untuk mengikuti orang-orang di luar Islam, masihkah kita mau mengikutinya?

Billahi tawfiq wal hidayah. (Ibnu AQ)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: