Membongkar Dunia Klenik & Perdukunan Berkedok Karomah

Penulis : Zaenal Abidin Syamsudin, Lc
Penerbit: Pustaka Imam Abu Hanifah – Jakarta Timur 2008

Masyarakat masih banyak yang awam dengan fenomena pengobatan alternatif atau perdukunan. Mereka meyakini bila dalam pengobatan tersebut berbau mistik dan klenik maka akan mempercepat dan mempermudah penyembuhan penyakit maupun untuk penyelesaian masalah / kesulitan-kesulitan di dalam kehidupan mereka. Gelar yang diberikan kepada paranormal ini bermacam-macam.  Bila masyarakat yang kurang dekat dengan agama maka mereka tidak peduli apakah paranormal itu biasa dipanggil dukun, orang tua ataupun orang pintar yang memiliki ilmu hitam. Yang penting keinginan mereka terpenuhi, walau dibantu syetan sekalipun. Mereka datang ke padepokan dan menjalankan berbagai persyaratan yang biasanya penuh dengan ritual menentang agama seperti memberi sesajen kepada Nyai Roro Kidul, berzina, membunuh atau menulis ayat al-Qur’an dengan darah haid dsb.

Tetapi bagi mereka yang merasa ‘dekat’ dengan agama maka mereka hanya mau datang kepada paranormal di ‘pesantren’ yang sebutannya adalah kyai karomah, wali karomah, kyai khos, habib atau lainnya dengan anggapan mereka menggunakan ilmu putih karena dikatakan ilmunya hanya dibantu oleh jin muslim. Bahkan supaya berkesan Islami diberi persyaratan harus berpuasa patigeni, ngrowo, mutih, 40 hari, atau wiridan / membaca sholawat dan amalan tertentu yang tidak ada tuntunannya dari Al-Qur’an dan Sunnah, memberikan rajah, jimat, transfer energi dan lain-lain – yang pada dasarnya adalah amalan bid’ah atau malahan ada yang syirik. Bahkan supaya yakin, diembel-embeli dengan persyaratan agar ilmunya tidak hilang harus menjaga sholat lima waktu – akibatnya seseorang melakukan sholat hanya karena takut ilmu hilang. Namun pada hakekatnya tidak ada bedanya antara dukun dengan kyai karomah, karena bukan sebutan atau panggilannya yang menjadikan pekerjaan mereka sah atau tidak tetapi karena prakteknya yang banyak menyimpang dan merusak akidah Islam yang benar.

Buku ini membagi pembahasan dalam lima bahasan yang dimulai dari Hakekat Karomah Wali Allah, Fenomena Praktek Perdukunan di Indonesia, Menguak jati diri paranormal dan dukun, Hakekat sihir, sejarah dan hukumnya serta yang kelima terapi penyembuhan gangguan sihir, benda keramat dan kesurupan jin. Tentu tidak semua diungkapkan di sini, bagi yang ingin mengetahuinya dapat membeli bukunya dan membaca secara langsung.

Karomah

adalah amr khariq lil ‘adah (kelebihan luar biasa) tanpa dibarengi pengakuan kenabian, dan bukan bentuk pendahuluan kenabian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya yang nampak sholih, juga sebagai bentuk dukungan, pertolongan, peneguhan, dan bantuan dalam rangka menguatkan agamanya (lihat kitab Bustanul Arifin – Imam Nawawi).

Bila mukjizat adalah tanda bagi nabi-nabi yang diutus oleh-Nya, maka karomah adalah anugerah atau mauhibah tanpa mengharuskan Allah memberikan kepada wali-Nya. Jika pun karomah diberikan oleh Allah, maka itu terjadi pada orang yang beriman, taqwa dan beramal sholih. Sifat karomah tidak kontinyu (tidak tetap) dan karena keperluan / keadaan darurat, ini bisa kita lihat di dalam Al-Qur’an pada kisah Ashabul Kahfi (orang-orang sholih yang bersembunyi di gua dan tertidur hingga tiga ratus tahun lebih), pengikut Nabi Sulaiman as yang mampu memindahkan singgasana ratu Balqis sekejap mata atau juga kelebihan-kelebihan yang diberikan kepada Maryam, ibunda nabi Isa as. Karomah juga berupa pertolongan Allah yang terjadi kepada para sahabat Nabi di dalam peperangan.

Tidak setiap kejadian luar biasa disebut karomah, bahkan bisa jadi sebagai bentuk tipu daya syetan, sulap, sihir dan tipuan dajjal. Imam Syafi’i berkata: “Jika aku menyaksikan seorang pengikut hawa nafsu terbang di luar angkasa, aku tetap tidak akan percaya kepadanya.” (lihat manaqib asy-Syafi’i).

Pemahaman yang salah

Menurut kaum sufi, “karomah adalah sesuatu yang luar biasa pada wali tanpa dibarengi pengakuan kenabian sebagai tanda bahwa wali itu dimuliakan oleh Allah, diterima amalnya dan didekatkan pada-Nya.” Pengertian ini menyesatkan karena setinggi apapun ketaatannya mengikuti Rasulullah bila tidak mendapat karomah maka akan dianggap tidak sah amalnya. Dan bila seseorang mendapatkan karomah atau keajaban lainnya – maka akan ada banyak orang awam yang kemudian mengkultuskannya bahkan hingga para wali wafat pun masih dianggap bisa berhubungan dengan para pemujanya secara rohani dan memberikan bimbingan (lihat kitab Tanwirul qulub – Syaikh Muhammad Amin), itu sebabnya dikalangan mereka lahir istilah ‘tahdlir al-arwah’ (menghadirkan arwah).

Adapula klaim sesat dimana seseorang bisa menimba ilmu langsung dari Allah dan pintar tanpa belajar (sehingga mereka disebut orang ‘pintar’) karena bisa mengetahui perkara ghaib dan tahu sebelum diberitahu berkat ilmu ‘laduni’. Ini digulirkan oleh Hisyam Ibnu al-Hakam (wafat tahun 199 H), seorang penganut Syi’ah dari Kuffah yang mahir ilmu kalam. Ilmu ini dikait-kaitkan dengan kisah Nabi Khidir dalam QS. Al-Kahfi 65 yaitu: “Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” Jadi dalil ayatnya benar, menafsirkannya salah.

Perbedaan Mukjizat, Karomah dan Sihir

  1. Karomah adalah pemberian dari Allah SWT kepada hambanya yang terpilih yang tidak perlu adanya pengorbanan, begitu pula halnya mukjizat, hanya saja mukjizat khusus diberikan kepada para nabi dan rasul saja sedangkan sihir adalah suatu ilmu yang bisa diperoleh dengan cara dipelajari, yaitu dengan membiasakan ucapan atau perbuatan tertentu
  2. Mukjizat dan karomah tidak akan bisa dimiliki oleh orang yang fasiq dan jahat, adapun sihir tidak muncul kecuali dari orang yang jahat
  3. Mukjizat tidak dapat dilenyapkan sedangkan sihir bisa dilenyapkan
  4. Sihir dapat dimiliki oleh siapa saja atau oleh kelompok manapun. Sihir juga dapat ditiru dan bisa dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu sekaligus. Sedangkan mukjizat tidak mungkin dapat ditiru oleh siapapun
  5. Mukjizat yang dimiliki para nabi dan rasul adalah merupakan kenyataan dimana pada hakekatnya antara yang dzahir dan bathin selaras dan nyata. Sedangkan sihir seringkali terlihat oleh mata tetapi berbeda kenyataannya. Oleh karenanya seringkali orang merasakan penderitaan karena sihir tetapi dideteksi secara medis tidak ada yang sakit.

Beberapa tanda dukun atau paranormal

Para dukun bisa dilihat antara lain dari cara mereka berpraktek.

  • Suka bertanya nama pasien, tanggal lahir dan nama orangtuanya
  • Mengambil sesuatu milik pasien seperti baju, peci, sapu tangan dll.
  • Meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, kadang darahnya dioleskan ke tubuh pasien, atau bangkainya dibuang di sungai, laut atau tempat lainnya
  • Suka menuliskan rajah atau memberi jimat
  • Meminta pasien untuk membaca doa-doa atau mantera dalam waktu khusus dengan jumlah tertentu
  • Menyuruh pasien memberikan sesaji sebagai kelengkapan ritual
  • Memberi bungkusan hizib
  • Menyuruh pasien menyepi (hujbah, semedi atau tapa)
  • Kadang meminta pasien tidak menyentuh air selama beberapa waktu
  • Memberi sesuatu untuk ditanam di tanah
  • Memberi lembaran kertas untuk dibakar dan tubuhnya diasapi dengannya
  • Berkomat-kamit membaca mantera
  • Menebak nama, rumahnya atau kesulitan si pasien sebelum ia mengatakannya, dll.

Bagaimana seseorang bisa menjadi paranormal

Kesaktian dukun itu bertingkat-tingkat. Semakin tinggi kemampuan jin untuk membantunya maka semakin tinggi pula bayarannya. Tentu saja bayarannya adalah kemusyrikan yang semakin tinggi pula bahkan ada yang hingga menjadikan al-Qur’an sebagai alas kaki saat buang air besar. Secara umum maka seseorang menjadi paranormal karena:

  • Dari warisan nenek moyang, ini karena jin-jin (khadam) yang dimiliki nenek moyangnya menjadi akrab kemudian menjadi pengasuh dan berkuasa atas anak turunannya
  • Bersumber dari apa yang disebut kasyaf, ilham, wangsit atau renungan. Dengan dasar itulah mereka mengklaim bahwa dirinya mendapat karomah, dan makhluk halus (jin) yang berbicara padanya adalah malaikat
  • Dari benda-benda pusaka yang dikeramatkan seperti batu, kayu bertuah, besi kuning, kul buntet, qur’an stambul dll. Benda-benda tersebut konon diperoleh dengan cara semedi atau membeli dengan mahar dari para dukun
  • Puasa, tapa, tirakatan. Contohnya adalah yang penulis pernah lakukan di masa lampau yaitu puasa empat hari tidak makan tidak minum tidak tidur. Setelah sholat baca al-Fatihah tujuh kali tidak napas, sholawat tujuh kali tidak napas, al-Ikhlas tujuh kali tidak napas. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kekuatan lima yang ada dalam tubuh yaitu adi ari-ari, sukmo sejati, guru sejati, roh sejati dan kakang kawah
  • Ritual khusus berupa pemujaan kepada syetan dan penyerahan tumbal

Darimana mereka bisa mendapatkan ilmu? Ilmu sihir mereka peroleh karena diajarkan oleh para syaitan-syaitan berjenis jin yang membantu mereka.

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh:102)

Peramal memperoleh informasi dari jin sebagaimana hadits berikut:

Dari A’isyah berkata: ”Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang para dukun. Maka beliau menjawab: ”Tidak punya pengaruh apa-apa”. Maka mereka berkata, ”Ya Rasulullah, mereka terkadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami”. Maka Rasulullah menjawab: ”Kalimat tersebut berasal dari kebenaran yang dicuri dari jin, kemudian dilemparkan ke dalam telinga walinya (dukun), maka mereka mencampurkan kalimat yang berisi satu kebenaran dengan seratus kebohongan.” (HR. Imam Bukhari No.5762)

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: ”Apabila Allah memutuskan perkara di langit, para malaikat memukulkan sayapnya karena tunduk mendengar firman-Nya, seolah-olah (suara firman-Nya) bak gemerincing rantai besi yang terlempar pada batu. Maka ketika rasa takut telah hilang dari hati malaikat, mereka bertanya: ”Apa yang telah dikatakan Rabbmu?” Malaikat lain menjawab: ”Allah telah mengatkan al haq, sedangkan Dia Maha Tinggi dan Maha Besar. Maka di saat itu ada syetan pencuri kabar yang mendengarkannya. Dan syetan-syetan itu seperti ini… sebagian yang satu naik ke atas sebagian yang lain. Kemudian syetan pencuri kabar tersebut berhasil mendengarkan kalimat (wahyu dari Allah), lalu ia sampaikan kepada syetan yang berada di bawahnya, syetan yang dibawahnya menyampaikan kaliman tersebut kepada syetan yang dibawahnya lagi sampai akhirnya sampai ke lidah tukang sihir atau dukun. Terkadang syetan tersebut keburu diterjang bintang api sebelum sempat menyampaikan kalimat tersebut, terkadang mereka berhasil menyampaikannya kemudian ditambahkan dengan seratus kebohongan bersama dengan kalimat kebenaran yang dicurinya tadi. Akibatnya orang-orang berkata: ”Bukankah dukun itu telah berkata kepada kami hari begini dan begini (dengan benar) demikian dan demikian?” Maka dukun dipercayai karena satu kalimat benar yang didengarnya dari langit. (HR. Bukhari, dalam shahihnya No.4800)

Hukum mendatangi dukun atau paranormal

Beberapa dalil mengenai larangan mendatangi dukun atau peramal.

Dari Imran bin Hushain berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
”Bukan dari golongan kami orang yang menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain, yang bertanya dan yang menyampaikan, atau bertanya kepada dukun dan yang mendukuninya atau yang menyihir yang meminta sihir untuknya, dan siapa saja yang membuat buhulan dan barangsiapa yang mendatangi kahin dan membenarkan apa yang dikatakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (Al Bazzar sebagaimana dalam Kasyful Anstaar 3/399 No. 3044. At-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 18/162 No. 355 dan disebutkan oleh al-Albani dalam Shahihil Jaami’ 2/956)

”Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu bertanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya empat puluh malam.” (Imam Muslim dalam Shahihnya (5782))

”…hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…” (QS. Al-Baqoroh: 102)

”Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin: 6)

”Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian perkara-perkara ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara para Rasul-Nya.” (QS. Ali Imran: 179)

Demikian sekilas buku “Membongkar Dunia Klenik & Perdukunan Berkedok Karomah” yang mana buku ini bisa mengantisipasi kebingungan umat akan maraknya dunia perdukunan di masyarakat luas baik berbentuk buku-buku seperti Mujarobat, Syamsul Ma’arif maupun tayangan-tayangan di televisi dan iklan-iklan klenik di koran-koran.

Billahi tawfik, wassalaamu’alaykum warokhmatulloohi wabarokaatuh. (Ibnu AQ)

%d bloggers like this: