Parasit Akidah

Pengarang: A.D. El.Marzdedeq *)

Penerbit: Syaamil Cipta Media 2005

  • ) adalah Lulusan sejarah agama PTIS tahun 1970, Avasinolog Ma’had At-Thib Al-Islami Jakarta tahun 1966.

Dari namanya, maka buku ini bertujuan untuk menjelaskan apa saja yang menggeroti akidah sebagaimana halnya benalu yang hidup dengan mengambil keuntungan dari tanaman lainnya. Lambat laun, akidah yang digerogoti secara perlahan dan akibat terburuknya adalah maraknya takhayul, bid’ah, khurofat dan tentu saja kemusyirikan.  Ternyata, begitu banyak kebiasaan dan upacara-upacara yang ada di sekitar kita ternyata merupakan kegiatan yang timbul dari luar Islam padahal Rasulullah Shollallohu ‘alayhi wasallam melarang umatnya meniru atau mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang kafir.

Di dalam buku ini, penulisnya mengkhususkan permasalahan pada parasit yang berasal dari agama dan kepercayaan di luar Islam beserta contoh-contohnya.

Dimulai dengan menjelaskan asal usul agama yang bersifat:

  1. Wahyu (samawi) yang diturunkan oleh ALLAH Subhananhu wa ta’ala. Agama Yahudi dan Kristen disampaikan oleh Nabi Musa a.s. dan Isa a.s. bagi bani Israil (agama lokal dan terbatas waktunya) maupun agama Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw bagi seluruh umat manusia dan sepanjang jaman. Agama Yahudi dan Kristen telah rusak karena telah tumbuh benalu bahkan pokok agama tersebut telah hilang dan tinggal benalunya saja. Sedangkan Islam adalah agama yang berpokok pangkal pada kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya sehingga tetap terjaga kemurniannya walaupun ada saja sebagian orang yang menaruh benalu di dalamnya karena tidak berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
  2. Agama Thabi’i (kultur, budaya) yaitu agama hasil budaya manusia dimana manusia dilahirkan dengan fitrah beragama dan karena berbagai penyimpangan timbul-lah suatu kepercayaan dengan bentuk peribadatan sendiri. Karena terkadang dibuat oleh orang berpengaruh maka berkembang di masyarakatnya dan dibukukan. Buku pegangan ini biasanya berisikan kumpulan nasihat, sifat-sifat ketuhanan, mitos dsb.

Dari berbagai agama itulah kemudian terjadi asimilasi, akulturasi dan sinkretisme. Banyak berbagai keyakinan dan ritual/upacara suatu agama yang kemudian diyakini oleh penganut agama lainnya.

Kepercayaan asli penduduk Asia Timur dan Tenggara, Polinesia, Mikronesia hingga Amerika Latin ternyata terdapat titik-titik persamaan. Diperkirakan pada tahun 5000 SM terdapat sebuah ajaran penyembahan terhadap “Tu” dan “Yang” berpangkal di Asia Tengah. Peribadatan terhadap “Tu” dan “Yang” semula adalah khas untuk raja. Raja dianggap anak langit dan sederajat dengan “Yang”. Bila ia seorang raja maka ia melakukan sembah tu sedangkan rakyat biasa melakukan sembah yang. Konon untuk penyembahan itu dibutuhkan bangunan berundak menyerupai piramid. Bangunan seperti ini ditemui di Asia Timur (China), Asia Tenggara (Termasuk di Indonesia) dan Amerika Latin. Sebenarnya masih banyak lagi bahasannya yang berkaitan dengan agama kultur seperti kultur Aria India, kultur Persia, Samiyah, Hamiyah (Mesir), Jerman, Eropa (Yunani dan Romawi) dll. Khusus mengenai kultur Eropa ini banyak mempengaruhi agama Nasrani.

A. Contoh pengaruh ajaran agama/kepercayaan kultur “Yang”

  1. Sembahyang untuk pendirian rumah baru, ditaruhlah pisang. (Di China buah leci, buah bwee dan paku emas ditancapkan)
  2. Sembahyang untuk menjelang gadis (datang bulan), disuruh melangkahi tungku, gigi dikikis dan berpantang makan nenas, beberapa jenis pisang dsb. Kemudian si gadis mempersembahkan bunga dan beberapa buah-buahan yang mulai menguning untuk “yang” pengurus segala berahi.
  3. Sembahyang untuk perkawinan, pengantin dimandikan diperciki air berkat, dipertemukan, disandingkan dan di-tepung tawari. Beras kuning ditabur untuk mencari kerelaan Dewi Padi / Dewi Sri. Adapula upacara “pecah dara” berupa melepas kambing, burung atau kura-kura.
  4. Sembahyang untuk hamil 3 bulan. Usia 3 bulan disajikan 3 macam buah dan dimandikan 3 kali, ganti pakaian 3 kali dan menyulut hio.
  5. Sembahyang untuk hamil 7 bulan. Disajikan 7 macam sesajian dan dimandikan 7 kali, melepas 3 ikan belut di kain (agar melahirkan lancar) dan menyulut hio, berdagang makanan 7 macam dan dibayar dengan uang-uangan. Sejak itu ia membawa pisau kecil agar tidak diganggu hyang jahat.
  6. Sembahyang untuk setelah bersalin. Dilakukan oleh suami seperti melepas tali-tali yang terikat, melepas anak ayam disertai jampi-jampi, melempar buah semangka atau melepas kura-kura setelah punggungnya dicacah dengan rona hitam. Bayi dimandikan dan tangannya diberi benang putih dan ditaruh cermin agar jika hantu datang lari karena melihat dirinya sendiri. Juga ditaruh pisau kecil untuk pengusir kuyang atau puntianak. Santan ari-ari dicuci dengan garam dan gula dan dikubur dan dinyalakan pelita. Bila bayi sudah bertelungkup dilakukan upacara turun mandi. Jika mulai berjalan diadakan upacara turun tanah. Bila telah mulai pandai bermain dilakukan upacara pilih-pilih bakat dan dimasukkan ke dalam sangkar ayam. Di Asia tenggara juga diadakan upacara 40 hari setelah melahirkan dengan mengundang tetangga dan keramat.
  7. Upacara Kematian.
  • Sehari kematian, bekas tidur si mati dilempar ke atas atap. Setelah dimandikan, mayat didandani. Tirai-tirai dan baju keluarga diganti putih-putih. Dinyalakan lilin putih, hio atau kemenyan di ruangan dalam. Makanan disajikan untuk ruh karena dianggap masih ada disekitar ruangan. Setelah dimasukkan ke peti kemudian wanita meratapi. Tabuhan dibunyikan dengan diiringi nyanyian duka.
  • 3 hari kematian diadakan pesta kematian dan ruh masih dianggap disekitar ruangan. Peti masih ada.
  • 7 hari kematian sajian besar disediakan untuk mengantar ruh ke tempat yang baru di akhirat. Rumah-rumahan, kereta kecil mulai dibakar. Peti diangkat untuk diarak ke kuburan dan saat diangkat saudara muda dan anak-anaknya harus segera masuk ke bawah peti itu. Peti ditaburi bunga-bunga.
  • Pesta kematian 40 hari. Menurut ajaran “yang”, ruh pergi sementara ke akhirat. Jika ia orang baik-baik, penduduk akhirat akan menjemputnya.
  • 100 hari kematian, konon ruh sudah punya rumah sendiri. Pada hari ini ruh pulang ke rumah di dunia untuk memberitahu keluarganya. Keluarganya menyambut dengan pesta seratus hari.
  • Setahun kematian dilakukan upacara sembahyang dan ruh diundang untuk makan-makan bersama para tetangga.
  • 3 tahun kematian dilakukan kembali upacara untuk sembahyang dan melepas pakaian putih-putih.

Pada masa Hindu Budha, upacara disesuaikan dengan kepercayaan masing-masing. Pada masa Islam, upacara disesuaikan dengan membaca tahlil, salawat. Bahkan di jawa bulan Sya’ban dinamakan bulan Rewah (arwah). Dan tanggal 15 rewah diadakan sedekah arwah.

Pandangan Islam terhadap kepercayaan “Tu” dan “Yang” adalah termasuk agama kultur dan bersifat panteisme dan syirik. Benalu-benalunya harus dibuang. Jangan menyebut sholat dengan istilah sembah”yang”, tidak mempercayai khurafat dan takhayul, jampi-jampi serta jimat-jimat dan tidak meniru kepercayaan / agama lain.

B. Contoh pengaruh ajaran Animisme / Dinamisme

  1. Kepercayaan dan pemujaan masyarakat pada benda-benda seperti tombak, keris, gamelan yang dianggap memiliki ruh.
  2. Kepercayaan terhadap azimat / benda yang berkekuatan gaib seperti batu mirah delima, intan dll. Orang Yunani percaya pada kekuatan gambar besi tapak kuda. Orang Portugis dan Spanyol (Nasrani) percaya pada kekuatan salib di layar kapal mereka. Orang Islam / Sufi percaya pada kekuatan tulisan Arab dsb.

C. Contoh pengaruh ajaran agama/kepercayaan kultur Aria (Weda, Brahman, Hindu, Budha dll)

  1. Kepercayaan dan ketundukan masyarakat pada dewa-dewa atau makhluk halus seperti Batarakala, Ruatan, Gandarwa dsb.
  2. Upacara ruatan. Syiwa bergelar mahadewa dan mempunyai anak Harakala (Batarakala) berwujud raksasa. Kepada Syiwa ia meminta mamsa / daging berupa manusia dan diijinkan oleh Syiwa dengan syarat ketat: anak tunggal, anak kembar, anak yang terbelit tali ari-ari, anak perempuan tak bersaudara laki-laki atau sebaliknya, anak perempuan dari 4 saudara laki-laki atau sebaliknya, anak yang bermain di tepi jalan, orang yang bekerja tepat di tengah hari, orang yang salah letak dalam membangun rumah dll. dan atas petunjuk Syiwa kepada manusia maka untuk menghindarkannya dilakukan upacara saji di antaranya dilengkapi telur angsa yang ditaruh di atas kendi.
  3. Janur (daun kelapa muda) atau daun lontar selalu terbawa dalam setiap upacara. Janur dibentuk lambang-lambang agama berbentuk Cakra Wisynu, Kipas Dewi Ratih, Swastika dan sebagainya. Lambang-lambang ini akan menyenangkan dewa dan menolak bala.
  4. Susunan buah-buahan dalam upacara perkawinan, upacara mandi bunga, sujud pada orangtua, membakar dupa, ketuk pintu dan tanya jawab agar terbuka berkat, upacara menginjak telur untuk dewa parnipa (pengurus kaki) dan mencuci kaki suami, upacara makan sepiring berdua suap-menyuapi, melepas merpati untuk indra (dewa angkasa).
  5. Penanggalan Hindu, hari pasaran, perhitungan wuku (setahun dibagi dalam 30 wuku), tahun syaka.
  6. Sihir dan buku ramalan yang berisi ilmu nujum (berdasarkan bintang) dikaitkan dengan nasib, rajah, ramalan wajah, kuku, alis, suara dalam telinga, gerakan urat syarat dll. Dalam ajaran Islam sihir dan ramalan adalah perbuatan dosa besar.
  7. Penghormatan dengan mengatupkan kedua telapak tangan.
  8. Hari Syakti (sekaten), upawasa / puasa hari lahir (Wedalan), bunga rampai saat ziarah ke kubur, pertunjukan wayang.
  9. Penggunaan alat untuk bhakti (ibadah) yaitu genta, lonceng, dhak, aksamala dsb. Dhak atau beduk ditabuh digunakan untuk memulai menyediakan saji dan memuji pada dewa-dewa masing-masing seribu pujian.
  10. Tapa bharata, semadi. Cara semadi antara lain: Menarik nafas dari kundalini, kepala bergerak ke kanan dan nafas ditahan lalu dilepas. Kepala bergerak ke kiri dan nafas ditarik tahan sambil mengucapkan “brahmasmi” atau kepala diputar sambil membaca pujian. Cara nafas ini melahirkan aliran yang disebut yoga / mengheningkan cipta.

D. Contoh pengaruh ajaran agama/kepercayaan Yahudi

  1. Membangun kuburan seperti orang Yahudi. Berbentuk gedung, diberi kelambu. Dalam Islam kuburan dibacakan al-Qur’an, salawat, zikir sehingga mirip masjid.
  2. Dongeng-dongeng Israiliyat yaitu dongeng dari luar bangsa Israil atau dongeng tentang nabi-nabi yang berlebihan. Contohnya: dongeng Harut dan Marut yang mengajarkan sihir dan memisahkan sepasang suami istri karena Harut jatuh hati dengan istri orang itu. Banyak lagi lainnya tetapi intinya tidak ada dalil hadits yang shohih perbuatan keduanya.
  3. Bersumpah dengan menjunjung kitab suci Taurat. Dalam Islam diganti dengan al-Qur’an.
  4. Pesta ulang tahun untuk peristiwa-peristiwa yang dianggap penting.
  5. Pengantin duduk bersanding di pelaminan lalu berkudung dengan sehelai kain.
  6. Menggunakan cemara / menyambung rambut.
  7. Berpakaian hitam-hitam saat berkabung dalam kematian.
  8. Berdoa memohon kepada Elohim dan Nebi (kepada ALLAH dan Nabi).
  9. Menjadikan hari Sabtu sebagai hari raya (libur) dan berpantang, tidak bepergian jauh, menikah.
  10. Menggunakan lambang-lambang seperti bintang daud, segitiga bukit sion.

E. Contoh pengaruh ajaran agama/kepercayaan Nasrani

  1. Upacara ulang tahun. Dilakukan dengan menyalakan lilin di atas kue besar.
  2. Upacara tukar cincin, kawin perunggu, kawin perak, kawin emas yang dipengaruhi oleh Romawi.
  3. Membungkuk dalam memberi salam.
  4. Mematungkan seseorang yang dihormati.
  5. Meninggalkan kawin dan hidup membujang bagi biarawan/ti.
  6. Mengirimkan bunga kematian kepada keluarga yang berduka.
  7. Menancapkan salib di kuburan dengan berbagai bentuk nisan variasinya. Sebagian umat Islam pun mengikuti dengan menancapkan nisan yang mirip-mirip bentuk salib.
  8. Menjadikan hari ahad (minggu = hari besar Romawi) sebagai hari raya (libur).
  9. Menghiasi rumah ibadah (gereja) yang diikuti oleh sebagian umat Islam dengan menghiasi masjid.
  10. Mengucapkan salam dengan selamat pagi, selamat sore dsb.
  11. Dongeng-dongeng (sama dengan Israiliyat).
  12. Menggunakan lambang-lambang salib / aksamala (rosario) yaitu:
  • Salib sama panjang (tanda tambah) berarti kasih Yesus tidak memandang derajat dan bangsa.
  • Salib tegak bertiang panjang berarti Yesus siap menebus dosa.
  • Salib setengah berbaring berarti Yesus telah menyelesaikan tugasnya menebus dosa.
  • Salib terbalik berarti yesus bangkit kembali dan duduk disamping ayahnya.
  • Selesai upacara pesta makan-makan, sendok dan garpu dipalangkan yang artinya: “semoga berkat Yesus tetap atas kami.”
  • Lambang Palang Merah berbentuk tanda tambah diambil dari salib suci Katolik oleh Henry Dunant, seorang dokter Katolik dari Swiss (lihat history of Medicine).

Demikian sedikit intisari dari buku tersebut dan bagi yang menginginkan secara detil saya sarankan untuk membelinya. Semoga dengan mengerti latar belakang suatu upacara ritual ibadah, kebiasaan, tradisi dan berbagai kegiatan dari luar Islam seperti di atas akan menjadikan kita terhindar dari perbuatan-perbuatan syirik, bid’ah maupun tasyabbuh (meniru) umat lain dimana perbuatan-perbuatan tersebut sangat dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Billahi tawfiq, wassalaamu’alaykum warokhmatulloohi wabarokaatuh. (Ibnu AQ)

One Response

  1. […] Billahi tawfiq, wassalaamu’alaykum warokhmatulloohi wabarokaatuh. (Ibnu AQ) […]

Comments are closed.

%d bloggers like this: