Peduli Dengan Makanan Kita

mini_burger_fries

“Hai manusia! Makanlah dari apa-apa yang ada di bumi ini yang halal dan baik, dan jangan kamu mengikuti jejak syaitan karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang terang-terangan bagi kamu.” (al-Baqarah: 168)

Betapa banyak makanan di sekitar kita, mulai dari ikan asin yang berharga seribuan rupiah hingga sirip ikan hiu yang berharga jutaan rupiah pun tersedia di mana-mana. Asalkan ada uang, maka mau makan apapun tinggal pilih makanan apa yang ingin kita santap.

Masyarakat kota sangat peduli dengan tenggorokannya. Ya, hanya tenggorokannya, karena makanan senikmat apapun bila telah melewati kerongkongan maka hilang sudah rasa nikmat makanan kita. Dan tinggallah rasa kenyang karena banyaknya porsi makanan yang masuk ke dalam perut kita atau bahkan seringkali diiringi rasa sakit karena terlalu pedas, terlalu asam, atau terlalu banyak kolesterol yang kita konsumsi.

Masyarakat kota begitu peduli dengan makanan, apalagi bila makanan itu datang dari negeri yang jauh. Jadi bukan sekedar rasa makanan yang membuat suatu makanan dipilih untuk disantap, tetapi juga karena ‘rasa gengsi’ mengkonsumsi makanan dari negeri lain, Amerika dan Eropa khususnya, walaupun rasanya tidak cocok dengan selera lidah kita.

Contoh yang paling jelas adalah makanan siap saji seperti ayam goreng dan burger. Bayangkan ketika masyarakat di negeri asal makanan tersebut menyebutnya sebagai junk food alias ‘makanan sampah’ karena mengakibatkan berbagai penyakit seperti a.l. kegemukan, dengan segala penyakit turunannya, ternyata di negeri kita justru menjadi makanan kebanggaan orang tua dan anak-anak. “Ini lezat dan modern,” begitu kira-kira jawaban mereka jika ditanya kenapa makan di situ.

Rupanya bukan hanya itu makanan impor yang digemari, kinipun banyak orang yang menggandrungi makanan kecil baik berupa kue maupun roti asalkan dari negeri ’sono’. Mereka berbondong-bondong antri membelinya walaupun mahal harganya. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita peduli pada kesehatannya? Apakah kita peduli pada ke-halal-annya?

Memang Allah telah mempersilahkan kita untuk memakan apa saja di bumi ini, sebagai berikut:

“Dialah Zat yang menjadikan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya.” (al-Baqarah: 29)

Namun Allah pun melarang kita memakan makanan yang diharamkanNya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa firmanNya antara lain:

“Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan karena Allah, yang (mati) karena dicekik, yang (mati) karena dipukul, yang (mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan oleh binatang buas kecuali yang dapat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala.” (al-Maidah: 3)

Ini tidak berarti semua yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut dihalalkan, karena kita masih harus meneliti adakah hadits yang berkaitan dengan hal tersebut, karena kita memang diperintahkan oleh Allah untuk mentaati Rasululloh:

“Katakanlah: Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul…” (QS.24:54).

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS.33:21)

maka menjadi keharusan pula kita memperhatikan makanan-makanan yang dilarang oleh Rasululloh.

MAKANAN DAN MINUMAN HARAM

Secara singkat makanan dan minuman haram dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Bangkai, darah, babi, binatang yang disembelih dengan nama selain Allah atau sembelihan untuk selain Allah (sesajian), mati selain disembelih (kecuali binatang laut) dan sembelihan untuk berhala.
  2. Binatang buas, sebaimana hadits shahih riwayat Imam Muslim (1934), Abu Dawud (2785), An-Nasa’i (7/206) dari Ibnu Abbas ra: “Rasululloh telah melarang semua binatang buas yang bertaring dan burung yang bercakar tajam.”
  3. Segala sesuatu yang kotor, firman Allah: “..dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk..” (QS.7:157)
  4. Khamar, yaitu setiap sesuatu yang memabukkan dan tidak dipersoalkan asal muasalnya. Jadi tidak terbatas pada alkohol saja tetapi juga narkoba. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar ..” (QS.2:219). Rasululloh juga mengingatkan melalui riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi, bahwa bila banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun adalah haram.
  5. Makanan yang diperoleh dari hasil usaha yang haram misalnya: hasil menjual barang haram, hasil curian, hasil judi, hasil suap, hasil menipu dan hasil riba (bunga pinjaman).

Selain banyak ayat-ayat Qur’an yang mengharamkannya, banyak pula hadits Nabi yang berkaitan, semisalnya: “Sesungguhnya jika Allah mengharamkan pada suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia haramkan pula harganya (jual belinya) pada mereka.” (Hadits Riwayat Abu Dawud (3488) dan lainnya dari Ibnu Abbas ra.

BAHAYANYA MEMAKAN YANG HARAM

Makanan-makanan haram jika dikonsumsi akan menimbulkan dosa, juga dapat mengakibatkan berbagai bahaya baik secara fisik maupun rohani.

Secara fisik contohnya adalah hasil penelitian di Cina dan Swedia membuktikan daging babi mengakibatkan kanker pencernaan, penyakit cacing pita dan lain-lain.

Sedangkan bangkai dan darah mengakibatkan tumbuhnya mikroba dan terjadinya pembusukan usus dan penyakit pencernaan lainnya.

Secara spiritual maka kebiasaan mengkonsumsi makanan haram akan mengakibatkan kita terbiasa melakukan berbagai dosa lainnya. Maraknya zina dan perbuatan yang mendekatinya, kenakalan remaja dan berbagai tindak kriminal di sekitar kita tidak lepas dari bagaimana perilaku makan yang tidak memperhatikan halal dan haram. Dan patut diingat, bahwa setiap dosa akan mengakibatkan datangnya azab dan kesulitan dalam kehidupan di dunia dan akhirat.

Mengingat bahayanya mengkonsumsi makanan haram, maka sudah selayaknya kita mulai peduli dan memperhatikan makanan dan minuman kita. Sedikit ‘bawel’ tentang kehalalan suatu produk tentu tidak menjadi masalah bila kita mengingat manfaat yang kita peroleh di dunia dan akhirat kelak.

Wallahu a’lam bishshowab. (Ibnu AQ/Buletin Jum’at 03 Shafar 1427 / 03 Maret 2006).

%d bloggers like this: