Hukum Mendo’akan Orang Mati

Tahlilan

Oleh Ust. Rasul Dahri (lulusan Universitas Ummul Quro’, Makkah)

Apa yang terdapat di dalam al-Quran, al-Hadits, adalah contoh yang boleh diambil dari perbuatan para sahabat dan amalan para ulama Ahli Sunnah wal Jamaah yang berpegang dengan manhaj salaf hanyalah amalan berupa doa. Sememangnya doa orang-orang beriman diterima oleh Allah dan akan sampai kepada orang yang telah mati jika si Mati itu beriman. Namun berdoa yang dimaksudkan bukanlah dengan cara men-tahlilkan, me-yasinkan dan membacakan al-Quran beramai-ramai untuk si Mati sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang awam (orang-orang jahil) dan para pembuat bid’ah (mengada-adakan yang baru dalam ibadah).

Mendoakan si Mati adalah sunnah hukumnya dan dibolehkan apabila mencontohi sunnah Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam. dan para sahabat baginda atau amalan orang-orang Salaf as-Sholeh. Kemudian terserah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk diterima atau ditolak. Penjelasan ini adalah bersandarkan kepada ayat-ayat di bawah ini:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka itu akan berkata:Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami”. (QS. Al-Hasyr: 10)

“Ya Tuhan kami! Berilah keampunan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim:41)

“Dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu dan bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Muhammad: 19)

Memohon doa kepadaAllah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang terdapat pada dua ayat di atas termasuk perbuatan ibadah bukan bid’ah. Walaupun ayat-ayat ini merupakan hujjah, tetapi ia tidak menerangkan atau mengajar bagaimana cara berdoa selain yang telah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam, para sahabat, tabi’in dan tabi’u at-tabi’in yang dikenali sebagai para Salaf as-Soleh.

Menentukan sendiri cara ibadah adalah bid’ah.

Apa yang dilakukan oleh mereka yang menetapkan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu atau karena sesuatu sebab yang khusus dengan mengadakan majlis yasinan atau tahlilan maka itu adalah bid’ah (yang diada-adakan). Ayat-ayat di atas menganjurkan agar orang beriman berdoa untuk dirinya sendiri, untuk saudara-saudaranya yang beriman (bukan kafir) dan yang masih hidup atau yang telah mati (hanya begitu saja) tidak lebih dari itu dan tidak pernah diajar bagaimana cara mengerjakannya.

Barangsiapa yang menganjurkan atau menciptakan cara-cara tertentu yang diada-adakan dalam membaca al-Quran dan berdoa seperti menganjurkan majlis yasinan dan tahlilan sebagaimana yang dilakukan oleh aktivis bid’ah sekarang sedangkan itu tidak pernah disarankan oleh al-Quran, diajarkan atau dicontohkan oleh Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam. dan para sahabat, maka ia telah melakukan bid’ah yang ditolak dan diharamkan. Nabi Sholallohu alayhi wasallam telah memperingatkan tentang perkara-perkara yang sengaja dicipta dan diada-adakan, melalui sabdanya:

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang bukan dari perintah kami (Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya) maka amalan itu tertolak”. (Hadits Riwayat Muslim)

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini sedangkan ia (urusan) bukan dari kami maka ia tertolak”. (HR. Bukhari & Muslim)

“Sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat ada di neraka.” (HR. an-Nasa`iy dari hadits yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdullah ).

Barangsiapa yang menganggap sunnah atas pelaksanaan majelis-majelis tertentu seperti mengkhususkan suatu majlis untuk tujuan berdoa atau upacara pembacaan ayat-ayat tertentu dari al-Quran yang bertujuan untuk menghadiahkan (mengirim) pahalanya kepada orang mati padahal tidak ada perintah atau contoh dari syara’ (syariat), maka segala sangkaan itu adalah suatu pembohongan terhadap Nabi Shollallohu alayhi wasallam dan merupakan perbuatan bid’ah yang sesat.

Mengapa timbul kebiasaan membacakan tahlil dan yasin bagi mayit ini juga dipengaruhi oleh adanya hadits maudhu / palsu sbb:

“Barangsiapa yang menziarahi kubur orang tuanya atau salah seorang dari keduanya pada hari Jumaat, kemudian membacakan surah Yasin, maka akan diampunkan dosanya”.

Hadis di atas ini adalah hadis batil, palsu atau tidak ada asal usulnya. Terdapat di dalam sanadnya seorang yang bernama ‘Amar yang dikenali sebagai pemalsu hadis dan banyak meriwayatkan hadis-hadis yang batil. Imam Daraqutni rahimahullah berkata tentang ‘Amar: “Amar adalah seorang pemalsu hadis”.

Orang-orang yang sengaja membohongi Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam terutamanya pada perkara-perkara akidah, ibadah atau agama, ia akan menerima azab yang pedih, sebagaimana peringatan yang telah disampaikan oleh baginda melalui Haditsnya:

“Barangsiapa yang berbuat dusta (pembohongan) atas (nama)ku, maka hendaklah dia bersiap untuk menerima tempat duduknya dari api neraka”. (Hadits Mutawatir)

Tidak ada ketetapan waktu, hari, tempat dan cara dalam beribadah kecuali yang telah ditetapkan oleh al-Quran dan ditunjukkan/ajarkan serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam. Apa pun jenis amal-ibadah seperti berdoa atau membaca al-Quran apabila dilakukan seorang diri, beramai-ramai, diubah-ubah, diadakan beberapa peraturan dan ditentukan cara-caranya, maka ia termasuk perbuatan bid’ah, lebih-lebih lagi apabila pahala bacaannya diniatkan untuk dihadiahkan (dikirim) kepada orang mati. Bahkan penentuan hari-hari tahlil tersebut mengikuti syariat agama kafir.

Rasulullah mengatakan bahwa:”siapa meniru suatu kaum maka ia bagian dari kaum itu.”

Begitu juga dengan majelis-majelis kenduri arwah, tahlilan, yasinan, selamatan dan sebagainya yang masih dilakukan oleh masyarakat Islam Nusantara, di mana semua perbuatan tersebut amat nyata tidak ada keterangan atau perintah dari al-Quran dan al-Hadits. Dalam larangan yang berkaitan dengan hal-hal bid’ah seperti ini kita boleh mengambil Hadits Nabi Sholallohu alayhi wasallam yang melarang pengkhususan ibadah, seperti mengkhususkan ibadah di malam-malam tertentu atau berpuasa dihari-hari tertentu:

“Dari Abi Hurairah, dari Nabi Sholallohu alayhi wasallam. : Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah antara malam-malam yang lain dan janganlah kamu menentukan Hari Jum’at saja untuk berpuasa antara hari-hari yang lain, kecuali memang jatuh puasa (tidak secara langsung) yang dikerjakan oleh seseorang kamu.”[1]

Ibadah Dalam Islam Adalah Mengikuti Nabi (Ittiba’)

Menetapkan malam-malam tertentu sebagai malam yang sunnah untuk beribadah padahal tidak ada perintah, tidak ada contoh dan tidak ada keizinannya dari syara (al-Quran dan al-Hadits), dan yang hanya dilakukan semata-mata karena meniru-niru (taklid) kepada perbuatan yang diada-adakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab baik dari masa sekarang maupun masa kakek nenek kita, maka perbuatan itu adalah amalan bid’ah, bukan ibadah atau sunnah dan ditolak oleh syara’ serta perlu ditinggalkan dan dijauhi oleh orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa ta’ala  tidak menerima setiap amalan yang bid’ah. Allah Subhanahu wa ta’ala juga tidak menerima (menolak) ibadah yang tidak mencontohi Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam  karena baginda diutus semata-mata untuk memberi contoh tauladan dalam melaksanakan ibadah, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt. :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu tauladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat serta dia banyak mengingati Allah”. (QS. Al-Ahzab:21)

Ayat ini telah menjelaskan bahwa Rasulullah Sholallohu alayhi wasallam diutus hanyalah semata-mata untuk dijadikan contoh dalam mengamalkan setiap ibadah jika seseorang itu ingin amal-ibadahnya diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala   Siapa yang ingkar, menolak atau enggan mematuhi dan mencontohi Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam dalam mengerjakan ibadah termasuklah bentuk bagaimananya (كـَيْـفِـيـَّةٌ) dan cara-caranya dalam melaksanakan setiap ibadah maka dia telah melakukan bid’ah dan menolak (mengabaikan) peranan Nabi Muhammad sebagai Rasul/utusan. Hadits Shohih di atas ini juga telah dikuatkan lagi oleh beberapa Hadits yang berikut:

“Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:  Setiap umatku akan masuk syurga kecuali orang yang enggan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang enggan itu? Rasulullah menjawab: Sesiapa yang taat kepadaku maka dia masuk syurga dan sesiapa yang durhaka kepadaku maka sesungguhnya dia telah enggan”.[2]

Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam telah juga mengajarkan, menerangkan, melaksanakan dan menentukan sah batalnya hukum-hukum dalam syara’ yang wajib dijadikan contoh dan dipatuhi oleh setiap mukmin. Sesiapa yang menyalahi cara dan bagaimananya (kaifiat) Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallamdan para sahabat melaksanakan ibadah, maka dia telah membuat kemungkaran (berupa bid’ah) dan fitnah. Allah Subhanahu wa ta’ala  memberi peringatan dengan firman-Nya:

“Maka hendaklah diawasi oleh mereka yang menyalahi perintahnya (perintah Allah dan Rasul) bahawa mereka akan ditimpa fitnah atau ditimpa oleh siksa yang pedih”. (QS. An-Nuur:63)

“Aku telah tinggalkan pada kamu agama ini dalam keadaan putih bersih (jelas). Malamnya seperti siangnya yang tidak ada yang menyimpang daripadanya setelah (kewafatanku kecuali akan ditimpakan kepadanya) kehancuran”.[3]

Dalam urusan agama dan amal-ibadah seseorang tidak boleh bersandar kepada sangkaan, andaian, perkiraan, atau logika akal (otak manusia) semata-mata untuk menghukum sesuatu sebagai wajib, haram, makruh, sunnah atau harus. Urusan ibadah bukanlah urusan akal untuk mencipta dan menilainya. Agama dan hukum-hukumnya adalah urusan Allah Swt. Hanya Dia saja yang tahu dan layak mencipta serta menguruskannya.

Seseorang yang telah mencipta sesuatu bentuk cara ibadah ia telah termasuk dalam kalangan orang-orang yang menyerupai perbuatan Yahudi dan Nasrani. Telah disiapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala tempat mereka itu di neraka karena kemungkarannya menambah serta mereka-cipta ibadah mengikuti selera, andaian, perkiraan dan sangka-sangkaan mereka sendiri. Jika gejala seperti ini tidak dibendung dan dihapuskan oleh setiap pejuang sunnah, tidak mustahil akan terus ada berkembang perbuatan bid’ah yang merusakkan akidah, agama serta syariat Allah Subhanahu wa ta’ala.  Sangka-sangka seperti ini telah diberitakan di dalam al-Quran sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi:104)

Perubahan agama seperti yang telah menimpa ke atas agama-agama sebelum Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam tidak mustahil akan berlaku ke atas agama Islam jika aktivis bid’ah yang fasik masih dibiarkan mencipta berbagai-bagai bid’ah.

Di dalam kitab “ar-Risalah” oleh Imam Syafi’i, beliau telah menyentuh isu bid’ah dengan memberi peringatan tegas melalui kata-kata beliau yang masyhur:

“Sesiapa yang beristihsan (menyangka baik suatu amalan), berarti dia telah membuat satu syariat (dan sesiapa yang membuat syariat, maka ia sudah kafir)”.[4]

Rasulullah Sholallohu alayhi wasallam tidak mengajarkan sesuatu yang tidak jelas atau samar-samar dalam agama Islam, jauh sekali dari terlupa untuk menyampaikan apa yang telah diterima dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak ada lagi yang tertinggal untuk disampaikan kepada ummahnya walaupun satu huruf. Baginda tidak pernah merasa takut atau gentar untuk menyampaikan dan menyempurnakan dakwah Islamiyah yang berupa wahyu dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberi jaminan akan kesempurnaan dakwah dan penyampaian Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam  di setiap aspeknya. Setiap yang diterima dari Allah Subhanahu wa ta’ala tiada yang tertinggal untuk disampaikan kepada ummah walaupun sekecil hama atau zarrah. Firman Allah:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu buat kamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Aku ridoi Islam menjadi agamamu”. (QS. Al-Maidah:3)

Kesimpulan

Hakikatnya, Rasulullah Sholallohu alayhi wasallam tidak pernah mencontohkan, menyuruh atau mengajar para sahabat baginda cara sebagaimana yang diamalkan sekarang untuk membacakan al-Quran atau menghadiahkan pahala bacaannya kepada orang mati.  Apa yang pernah dilakukan dan diajarkan oleh baginda kepada para sahabat ialah cara-cara berdoa untuk orang mati, cara menziarahi kubur dan salam serta ucapan yang harus diucapkan semasa mereka masuk ke kawasan perkuburan (menziarahi kubur) sebagaimana Hadits Shohih di bawah ini:

“Pernah Rasulullah Sholallohu alayhi wasallam mengajar para sahabat ketika mereka ingin berziarah kubur supaya mereka mengucapkan:[5]

َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ فَاِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ أنْتُمْ فَرَطْنَا وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعَ وَنَسْـألُ اللهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةُ.

Dalam Hadits ini, Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam mengajarkan para sahabat cara memberi salam dan doa. Baginda tidak pernah pula mengajar atau menyuruh membaca al-Quran ketika menziarahi kubur. Dalam Hadits-Hadits yang Shohih telah diceritakan bahawa Nabi pernah menziarahi perkuburan Baqi’ di Madinah tetapi tiada satu pun riwayat yang Shohih menjelaskan bahawa baginda pernah membaca al-Quran di atas kuburan atau menghadiahkan pahala bacaan baginda kepada penghuni kubur di Baqi’.

Seandainya amalan membaca al-Quran di kuburan atau di mana saja yang bertujuan untuk menghadiahkan pahala bacaannya kepada ahli kubur (arwah atau orang mati) itu baik dan mulia, ditambah pula dengan mengadakan kenduri dan jemputan secara besar-besaran atau kecil-kecilan itu juga boleh dianggap terpuji dan baik, tentulah Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam adalah orang yang pertama melakukannya. Ini adalah karena Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam adalah insan yang paling takwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, paling kuat beribadah dan paling cinta kepada kebaikan.

Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam adalah Nabi yang sangat mencintai keluarga dan para sahabat tetapi saat terjadi kematian sahabat, tidak pernah baginda mengadakan kenduri tahlilan atau yasinan untuk menghadiahkan bacaan al-Quran kepada sahabat baginda itu. Apakah Nabi dianggap kurang pandai beribadah sehingga pelaku bid’ah membuat amalan baru?

Jika sekiranya pahala membaca al-Quran boleh dihadiahkan kepada para arwah di kubur untuk menolong dan menambah pahala orang yang telah mati, tentulah Nabi Sholallohu alayhi wasallam sejak awal-awal telah membacakan al-Quran untuk dihadiahkan pahala bacaannya kepada arwah sahabat-sahabat yang sangat baginda cintai dan juga kubur mereka pasti sering baginda ziarahi.  Perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam. Itu adalah perbuatan bid’ah karena tiada contoh dan perintah dari baginda.

Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam mengetahui semua ibadah yang paling baik dan sempurna, disusuli oleh para sahabat karena mereka hidup di samping Nabi Sholallohu alayhi wasallam, di zaman turunnya al-Qur’an, dikurun yang terbaik dan di zaman terlaksananya keseluruhan perintah al-Quran dan as-Sunnah, tetapi mereka tidak pernah mengadakan kenduri arwah, tahlilan atau amalan yang khusus untuk orang mati sebagaimana yang dilakukan oleh aktivis bid’ah dewasa ini.

Cara untuk berdoa atau bersedekah dari harta peninggalan si Mati tidak semestinya melalui kenduri tahlilan, yasinan atau dibaca beramai-ramai melalui majlis-majlis zikir berjamaah, majlis kenduri atau sebagainya karena perbuatan serupa itu tidak ada perintah dari al-Quran, sama sekali tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam, dari para sahabat atau dari golongan Salaf as Sholeh.  Mengerjakan sesuatu yang dianggap ibadah jika tiada perintah dan tiada contohnya dari syara’ adalah bid’ah dholalah (sesat).  “Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari bid’ah menyesatkan dengan senantiasa memberikan  hidayah-Nya”.

Tidak ada jalan keluar untuk menyelamatkan ibadah dan akidah seseorang dari terjebak ke kancah kesesatan (bid’ah), khurafat dan kemungkaran (syirik) kecuali setelah kembali kepada al-Quran, al-Hadits yang Shohih dan ijma’ ulama Salaf as-Sholeh.  Dan hanya dengan memahami kedua-dua kitab ini kemudian terus mematuhinya akan menanamkan keyakinan akidah yang murni di samping mengajarkan cara yang sempurna untuk mengatur segala muamalah dalam kehidupan manusia yang beriman.

Hadits-Hadits Shohih pula akan memberikan segala contoh yang telah ditunjuk dan dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam supaya diimani, diamalkan dan dipatuhi.  Hanya dengan berpegang teguh kepada gabungan dua kitab ini sajalah yang dapat membuka pintu hidayah untuk seseorang sehingga segala ubudiyahnya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala benar-benar bersih dari segala unsur bid’ah dan jahiliah yang menyesatkan.  Inilah yang dinamakan “tazkiyah” atau “tasfiyah” di dalam syara’.  Wallahu a’lam bishshowab.

Catatan:

[1].   H/R  Muslim (1930) as-Siyam.

[2].   H/R Bukhari (13/214).  Ahmad (2/361).

[3].   H/R diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanadnya yang Shohih.

[4].   Lihat:  حاشية جمع الجوامع Jld. 2.  hlm.  295.

[5].   H/R  Muslim (1620) al-Janaiz. Nasaii (2013) al-Janaiz. Ibn Majah (1536) Ma Jaa fil  Janaiz. Ahmad (8523)  Musnad.

%d bloggers like this: