Beberapa Hadits Dhoif (Lemah) dan Maudhu’ (Palsu)

Buku

Ini adalah beberapa hadist Dha’if (Lemah) dan Maudhu’ (Palsu) yg tersebar luas di kalangan masyarakat bahkan para khatib/penceramah/pendakwah sering menyampaikannya.

Diambil dari 100 hadits dhaif dan palsu, karya tulis dari Syaikh Ihsan ibn Muhammad ibn ‘Ayis Al Utaibi  (silahkan lihat terjemahannya di al-ahkam.net), kami sengaja memilihkan beberapa yang dianggap penting dan tujuan utamanya adalah agar pembaca memahami bahayanya menyebarluaskan hadits-hadits yang lemah dan palsu.

Walaupun baik dan benar matannya (isi) hadits tersebut, namun bila sanadnya bermasalah maka turunlah derajat hadits tersebut. Maka hendaklah kita tidak menyebarluaskan hadits palsu karena dikhawatirkan jatuh kepada keraguan-raguan dalam ibadah dan bahkan timbul kerusakan khususnya dalam masalah akidah dan ibadah karena hadits-hadits palsu.  Hadits-hadits palsu itu membolak-balikkan perkara haram menjadi seolah-olah  halal atau bid’ah menjadi seolah-olah Sunnah Nabi.  Salah satu contoh yang merusak akidah antara lain:

“Jikalau seseorang di antara kalian meyakini sebuah batu (sebagai jimat), niscaya ia akan bermanfaat.”

Status : hadits maudhu’ (palsu) dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah dan juga “tidak ada asalnya/sumbernya” dinyatakan  oleh Ibnu Hajar.

Jelas sekali kebathilan hadits palsu ini dimana hal ini merupakan perbuatan menggantungkan diri kepada  selain  Allah azza wa jalla yang berarti perbuatan syirik.

Menyebarluaskan hadits palsu merupakan perbuatan dosa yang diancam dengan neraka. Setiap dusta adalah dosa dan terlebih lagi dosanya bila dusta itu mengatas-namakan Nabi.

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAQ “Barangsiapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka.”

Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (I/8)

Cukuplah kita berpatokan kepada hadits-hadits yang shahih saja – berdasarkan pendapat para ahli hadits / muhadits, karena merekalah yang mempunyai pengetahuan yang cukup untuk menilai derajat suatu hadits.

Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Bercakap di dalam masjid dapat menghapuskan kebaikan-kebaikan sebagaimana binatang ternak memakan rumput.

Komentar Albani: Tiada asalnya. rujuk Tabaqat Syafi’iyah 4/145. Takhrij al-Ihya’ 1/136

2. Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati keesokan harinya.

Komentar Albani: Tidak sah dari Nabi s.a.w. rujuk Silsilah al-Dhaifah – no. 8

3. Bertawassullah dengan kemegahan dan kemuliaanku karena sesungguhnya jah-ku di sisi Allah adalah agung.

Komentar al-Albani: Tiada asalnya. rujuk Iqtidha ‘ al-Sirat al-Mustaqim 2/415. Silsilah al-Dhaifah – no. 22

4. Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah dan tidak menziarahiku, maka sesungguhnya dia telah memalingkan diri dariku.

Komentar al-Zahabi, al-Shaghani & al-Syaukani: Maudhu’. rujuk Tartib al-Maudhu’at – no.600, al-Maudhuat – no.52. al-Fawaid al-Majmuah – no. 326

5. Barangsiapa yang berhaji lalu menziarahiku selepas kewafatanku, dia seolah2 menziarahiku semasa aku hidup.

Komentar Ibn Taimiyyah: Dhaif. rujuk al-Qaidah al-Jalilah 4/5250
Komentar Albani: Maudhu’. rujuk Silsilah al-Dhaifah – no. 47

6. Ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan umatku adalah rahmat.

Komentar Albani: Tiada asalnya. rujuk Silsilah al-Dhaifah – no. 57. Aal-Asrar al-Marfu`ah – no.506

7. Para sahabatku adalah seperti bintang-bintang di langit. Mana2 yang kamu ikuti pasti akan mendapat petunjuk.

Komentar Albani: Maudhu’. Silsilah al-Dhaifah – no. 58

8. Bekas minuman orang beriman adalah obat.

Status: Tiada asalnya. rujuk al-Asrar al-Marfu`ah – no.217. Silsilah al-Dhaifah – no. 78.

9. Barangsiapa yang berkata suatu perkataan, kemudian dia bersin, maka perkataannya itu adalah benar.

Status: Maudhu’. rujuk al-La’ali al-Masnu`ah 2/286. al-Fawaid al-Majmu’ah – no.669

10. Berfikir sesaat lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun.

Status: Dha’if. rujuk al-Fawaid al-Majmu’ah – no. 723. Tartib al-Maudhu’at – no.964

11. Kalau tidak karena engkau (Muhamad), niscaya tidak dijadikan dunia.

Status: Maudhu’. al-Lu’lu’ al-Marsu’ – no.454. Tartib Maudhuat – no.196. Silsilah al-Dhaifah – no. 282

12. Barangsiapa yang membaca surah al-Waqi’ah setiap malam, niscaya tidak akan ditimpa kefakiran (kemiskinan) selama-lamanya.

Status: Dhaif. ujuk al-Fawaid al-Majmu’ah – no. 972.  Silsilah al-Dhaifah No. 289

13. Barangsiapa yang dikaruniakan anak, lalu diazankan ditelinga kanannya, dan diiqamah di telinga kirinya, maka anak ini tidak akan diganggu oleh syaitan/jin.

Status: Maudhu’. rujuk al-Mizan al-I’tidal 4/397. Majmu’ al-Zawaid dan Takhrij al-Ihya’ 2/61.  Silsilah Al-Dhaifah No.321

14. Melihat al-Quran itu ibadah, anak melihat ibu bapanya adalah ibadah dan melihat kepada Ali bin Abi Thalib adalah ibadah.

Status: Maudhu’. rujuk Silsilah al-Dhaifah – no. 356

15. Barangsiapa yang bersembahyang dimasjid-ku selama 40 waktu tanpa tertinggal satu sholatpun, niscaya ditulis baginya kelepasan dari neraka dan azab serta bebas dari sifat munafiq.

Status: Dhaif. rujuk Silsilah al-Dhaifah – no. 364

16. Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina.

Status: Maudhu’. rujuk al-Maudhu’at Ibn Jauzi 1/215. Tartib al-Maudhu’at adz-Zahabi – no.111. al-Fawaid al-Majmu’ah – no. 852.

17. Berbincanglah dengan mereka (perempuan), dan sanggahlah mereka.

Status: Tiada Asalnya. rujuk al-Lu’lu’ al-Marsu` – no.264. Tazkirat al-Maudhuat – no.128. al-Asrar al-Marfu’ah – no.240.

18. Pada hari kiamat, manusia akan dipanggil dengan nama ibu mereka sebagai tabir dari Allah ke atas mereka (menutup rahasia anak zina).

Status: Maudhu’. rujuk La’ali al-Masnu’ah 2/449. al-maudhuat Ibn Jauzi 3/248. Tartib al-Maudhu’at adz-Zahabi – no.1123.

19. Apabila mati salah seorang dari kamu dan setelah selesai kamu menguburkannya, maka hendaklah salah-seorang yang hadir itu berdiri di sisi kepalanya seraya berkata: Wahai Si Fulan ! Wahai Si Fulanah. Karena dia (si mati) itu akan mendengarnya. Hendaklah yang bangun itu berkata lagi: Wahai Si Fulan Anak kepada Si Fulanah. Maka si mati itu akan bangun di dalam keadaan duduk. Sebutkanlah apa yang telah menyebabkan dia keluar daripada dunia iaitu syahadah LA ILAHA ILLAH WAHDAHU LA SYARIKALAH …sehingga akhir.

Status: Dhaif. Takhrij al-Ihya’ 4/420. Zad al-Ma’ad Ibn Qayyim 1/206. Silsilah al-Dhaifah – no. 599.

20. Apabila Nabi s.a.w. sampai di Madinah, maka wanita, kanak-kanak dan hamba mengucapkan: “Thala’al badru ‘alaina…wajaba al-syukru ‘alaina…ayyuhal mab’utsufina…min tsaniyyaati al-wada’…mada’a Lillahi da’…ji’ta bilamril mutho’

Status: Dhaif. Tazkirat al-Maudhuat – no. 196.

21. Jikalau seseorang di antara kalian meyakini sebuah batu (sebagai jimat), niscaya ia akan bermanfaat.

Status : Maudhu. Hadits-Hadits Dhoif Populer – No.1

22. Barangsiapa menziarahi kuburku, maka sungguh pasti ia akan memperoleh syafaatku.

Status : Hadits di atas dan yang sejenis dengan itu, maudhu. Hadits-Hadits Dhoif Populer – No.3

23. Kami adalah suatu kaum yang tidak makan hingga kami merasa lapar, dan apabila kami makan, kami berhenti sebelum kenyang Status : Bukan dari Rasulullah. Hadits-Hadits Dhoif Populer – No.23

24. Jika datang malam nisfu Sya’ban, maka bangunlah (hidupkanlah) malam itu, dan puasalah di siang harinya karena Allah Ta’ala turun ke langit terendah ketika matahari terbenam.. dst.

Status: Dho’if. Imam Bukhari dan ulama hadits lainnya telah melemahkan hadits ini, dan kebanyakan Ulama berpendapat bahwa hadits yang berkenaan dengan keutamaan malam nisfu Sya’ban dan puasa di siang harinya adalah lemah. FATWA LAJNAH DA’IMAH – Syaikh Bin Baz.

25. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dan mengangkat kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengannya..

Status : Dhoif. At-Taqrib – Al-Hafidz Ibnu Hajar

Demikianlah sekilas hadits-hadits lemah dan palsu yang bahkan masih banyak yang tidak dapat kami tampilkan di sini karena mencapai ribuan jumlahnya (dapat dilihat pada berbagai buku-buku seperti antara lain: Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu karangan : Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani – Rahimahulloh dan sebagainya  Wallaahu a’lam.

%d bloggers like this: