Mereka Bom Umat Islam

bom

Setelah bertahun-tahun tidak ada lagi teror di Indonesia (kecuali di Freeport, Timika), kembali bom meletus di dua hotel milik asing (AS) yang biasa didatangi para expatriate (orang asing), JW Marriott dan Ritz Carlton Jum’at 17 Juli 2009 kurang lebih pukul 07.40 waktu Indonesia Barat.  Mengapa? Apakah ada kaitannya dengan Pemilihan Presiden 2009? Atau terkait dengan ‘membaiknya’ hubungan Amerika Serikat yang diwakili oleh Presiden Obama dengan negara-negara berpenduduk muslim, agar Obama bertindak lebih keras terhadap umat Islam?

Pagi-pagi sekali paska kejadian, Sidney Jones – Direktur International Crisis Group – sebuah LSM dari Amerika Serikat buru-buru menyatakan sinyalemen bahwa pelaku adalah kelompok Noordin M. Top, yang tidak lain maksudnya tentu kelompok muslim. Spekulasi yang sama juga disampaikan oleh pakar Intelijen dari UI.  Entah apa yang membuat mereka berfikir demikian padahal kelompok teroris non muslim pun banyak sebagaimana di Ambon, Poso atau Papua.  Tampaknya Intellectual Dader, atau juga aktor intelektual / dalangnya sadar betul akan stigma yang akan melanda umat Islam, bahwa setiap teroris pelakunya adalah ‘muslim’.  Mereka memang sangat berkepentingan untuk menjelekkan kembali nama Islam yang mulai kembali bersih setelah habis-habisan difitnah oleh musuh besar Islam saat ini mantan Presiden AS, George W. Bush dan kaum yahudi / zionis  – laknatullaah ‘alaihim jami’an (semoga Allah melaknat mereka semuanya).  Segelintir orang muslim dengan pemahaman ghuluw / khowarij (Islam garis keras) yang disinyalemen di-backup oleh kaum kuffar dan intelijen asing tampaknya akan menjadi berita penting kembali di Indonesia.

Bom-bom terdahulu seperti di Bali, JW Marriott dan Kedubes Australia selalu menampilkan pelaku teroris berpenampilan berjenggot, celana tidak  isbal (di atas mata kaki) dan perkataan mereka yang seolah-olah berbuat demikian atas perintah agama atau dikatakan sebagai bagian dari jihad (semoga Allah memberi mereka hidayah),  maka tuduhan bertubi-tubi akan segera datang kepada kaum Muslimin khususnya yang berupaya mengikuti sunnah padahal kaum pengikut ahlus sunnah wal jama’ah justru berlepas diri dari bom-bom teroris itu.

Ini terjadi, karena para aktor intelektual itu khawatir bila umat Islam yang teguh menjaga sunnah akan  mempengaruhi sendi-sendi kehidupan sebagian besar masyarakat muslim Indonesia yang puluhan tahun berperilaku kebarat-baratan (baca: jauh dari perilaku dan akhlak orang Islam).  Pengaruh ini memang dapat dikenali dengan tidak asingnya lagi seseorang berpakaian muslimah (berjilbab) bahkan bercadar di tempat umum. Masjid-masjid mulai penuh untuk shalat berjamaah bahkan juga di perkantoran yang identik dengan kaum intelektual dan kalangan menengah ke atas. Juga kajian Islam berkembang luas dan diterima di mana-mana. Bank dengan sistem non ribawi pun tumbuh mendunia yang secara langsung atau tidak langsung membuktikan Islam dapat diterima di semua kelompok masyarakat karena kebenarannya. Dan ini, sungguh ancaman bagi ketenangan  hidup orang-orang yang senang dan mapan dalam suasana liberal, bebas melakukan apa saja walaupun melanggar ketentuan agama!

Namun, penulis tidak akan berpanjang-panjang membahas akar permasalahan ini lebih lanjut karena bisa jadi kita akan terjebak dalam berbagai teori yang belum tentu kebenarannya –  tetapi lebih memilih untuk membahas perbuatan terorisme itu dari sisi syariat. Bagaimana hukumnya? Samakah dengan jihad?  Mari kita bahas sebagai berikut.

Pengertian terorisme sendiri adalah tindakan menakut-nakuti masyarakat secara luas dengan cara melakukan perusakan terhadap diri manusia yang bahkan menimbulkan kematian maupun kerugian atas rusaknya bangunan/hilangnya harta.

Sementara itu jihad bil qital (dengan melalui tindakan tegas/ peperangan) yang dipimpin oleh ulil amri (pemimpin pemerintahan muslim yang sah)  adalah sesuatu yang diwajibkan setelah da’wah bil lisan tidak diindahkan,  sebagaimana firman Allah dalam surah al-Anfal 60, yang artinya:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Wajib karena jihad bil qital  itu untuk menegakkan agama Allah (surah Al-Anfal 39), yang artinya:

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah *) dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

*) gangguan dan penganiayaan

dan melawan kezaliman (surah Al-Baqoroh 190) sebagaimana berikut, yang artinya:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Namun sebagaimana dikatakan oleh syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullah:

“Maka hukum perang itu wajib, akan tetapi sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya, haruslah menurut kadar kesanggupan. Tapi umat Islam di zaman ini lemah, tidak ragu lagi akan kelemahan mereka. Mereka tidak punya kekuatan ma’nawiyah dan tidak pula punya kekuatan madiyah (fisik).

Jadi saat ini kewajiban kaum muslimin untuk berjihad  gugur karena ketidaksanggupannya. Sebagaimana Rasulullaah Muhammad Shollalloohu ‘alayhi wasallam hijrah dari Makkah ke Madinah, maka dengan menyusun kekuatan dan barisan kaum muslimin yang besar dan kuat di Madinah, maka kaum musyrikin di Makkah menjadi gentar dan atas ridho Allah dapat ditaklukkan tanpa harus menumpahkan darah setetespun dari kedua belah pihak.

Secara umum, dari penampilan teroris di media massa yang lalu-lalu adalah teror dilakukan dalam rangka membela kaum muslimin di Afghanistan, Iraq dan berbagai tempat lainnya yang berada dalam cengkeraman kekejaman penjajahan oleh kaum kuffar, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya (Uni Eropa) dan juga karena melihat kemungkaran yang besar sebagaimana alasan dilakukannya teror bom Bali I.   Sungguh mulia cita-cita mereka untuk membela sesama kaum muslimin, namun apakah mereka tidak menyadari bahwa yang mereka bom adalah negeri muslim, negeri saudara mereka sendiri? Sadarkah mereka korbannya adalah orang-orang Muslim? Tahukah bahwa korban non Muslim pun mempunyai hak keamanan  dalam islam? Terpikirkah oleh mereka  justru dengan perbuatan mereka itu, mereka telah mengotori agama Islam dari Rahmatan Lil ‘Alamin menjadi faham yang penuh kekerasan belaka di mata masyarakat awam yang berarti justru hadir kerusakan yang lebih besar lagi?

Kita ingat nasihat dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai mengingkari kemungkaran (nahi munkar) yang terdiri dari 4 tingkatan (arba’a darojat) dalam I’lamul Muwaqqi’in, yaitu:

1. Dengan pengingkaran itu mengakibatkan hilangnya kemungkaran, maka ini masyru’ (disyariatkan).

2. Pengingkaran itu mengakibatkan berkurangnya kemungkaran, maka ini juga disyariatkan.

3. Pengingkaran yang menghilangkan kemungkaran tetapi datang pula kemungkaran/ mafsadat lain yang setara, maka hukumya memerlukan ijtihad ulama.

4. Pengingkaran yang mengakibatkan  hilangnya suatu kemungkaran tetapi timbul kemungkaran lain yang lebih besar, maka ini haram dilakukan.

Walaupun secara umum, teror tersebut ditujukan kepada orang di luar Islam, tetapi dalam menangani orang-orang kafir (kuffar) ini Islam mempunyai aturan syariat yang pada dasarnya harus dibedakan berdasarkan status mereka. Secara umum dapat dipisahkan sebagai berikut:

1. Kafir Dzimmi. Yaitu orang kafir yang tinggal di negeri-negeri muslim dengan membayar jizyah (semacam pajak) sesuai kemampuan dengan imbalan berupa keamanan dan hidup di negeri-negeri itu.  Ini berdasarkan firman Allah dalam surah At-Taubah 29, yang artinya:

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

serta hadits riwayat Muslim, dari Sulaiman Ibnu Buraidah:

Adalah Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa salllam apabila beliau mengangkat amir/pimpinan pasukan beliau memberikan wasiat khusus untuknya supaya bertakwa kepada Allah dan (wasiat pada) orang-orang yang bersamanya dengan kebaikan. Kemudian beliau berkata : “Berperanglah kalian di jalan Allah dengan nama Allah, bunuhlah siapa yang kafir kepada Allah, berperanglah kalian dan jangan mencuri harta rampasan perang dan janganlah mengkhianati janji dan janganlah melakukan tamtsil (mencincang atau merusak mayat) dan janganlah membunuh anak kecil dan apabila engkau berjumpa dengan musuhmu dari kaum musyrikin dakwahilah mereka kepada tiga perkara, apa saja yang mereka jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka dan apabila mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah kemudian perangi mereka.”  (Bulughul Maram, Kitab Jihad)

2. Kafir Mu’ahad. Yaitu orang kafir yang telah menjalin kesepakatan dengan kaum muslimin untuk tidak berperang selama waktu tertentu. Sepanjang tidak menyalahi kesepakatan maka mereka juga tidak boleh diperangi/dibunuh.   Dasarnya adalah ayat 4, 7 dan 12 surah At-Taubah:

Surah At-Taubah ayat 4 yang artinya: “kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.”

Surah At-Taubah ayat 7 yang artinya: “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.”

Surah At-Taubah ayat 12 yang artinya: “Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”

Hadits Bukhari dari Abdullah ibn Amr:  “Siapa yang membunuh kafir Mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (Bulughul Maram, Kitab Jihad)

3. Kafir Musta’man.  Yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin.  Dasarnya adalah firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 6 yang artinya:

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.”

Hadits Bukhari & Muslim dari Ali ibn Abi Tholib رضي الله عنه,    “Dzimmah (janji, jaminan keamanan dan tanggung jawab) kaum muslimin itu satu, diusahakan oleh orang yang paling bawah (sekalipun).

4. Kafir Harbi. Yaitu kafir yang merusak dan bersifat offensif terhadap kaum muslimin.  Yang seperti inilah yang boleh diperangi, tentunya dengan persyaratan sesuai syariat.

Selain masalah jenis orang kafir yang boleh dan tidak boleh diperangi, maka juga harus dilihat tindakan dan sifat dari pemboman tersebut. Mencari kesyahidan/mati syahid (istisyhad) tentu diperbolehkan di medan jihad. Sementara itu, bom bunuh diri adalah suatu tindakan yang diharamkan dalam Islam. Yang kita lihat sekarang ini adalah tindakan membunuh diri di negeri muslim yang dalam keadaan damai antara kaum muslimin dengan kaum kuffar. Bahkan korbannya juga sebagian besar adalah kaum muslimin dimana dalam surah An-Nisa’ ayat 93 Allah berfirman mengenai pelaku pembunuhan, yang artinya:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

juga dalam surah Al Maa’idah 29, yang artinya:

..barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

Hadis riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa yang bunuh diri dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan dipegangnya untuk menikam perutnya di neraka Jahanam. Hal itu akan berlangsung terus selamanya. Barang siapa yang minum racun sampai mati, maka ia akan meminumnya pelan-pelan di neraka Jahanam selama-lamanya. Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan jatuh di neraka Jahanam selama-lamanya.” (Shahih Muslim, Kitab Iman).

Oleh karenanya, bom bunuh diri atau tindakan terorisme yang dilakukan atas nama jihad oleh beberapa kaum muslimin di negeri muslim yang damai dan tidak dalam keadaan terjajah  orang kafir adalah tidak menempatkan hukum jihad secara tepat. Terorisme bukan jihad!

Wallaahu ta’ala a’lam.  (Ibnu AQ)

%d bloggers like this: