Tuntunan Singkat Berpuasa

crescent moonBerpuasa Ramadhan bagi sebagian besar umat Islam adalah hal rutin tahunan. Begitu pula berpuasa sunnah pada hari Senin dan Kamis atau lainnya.  Namun mungkin masih ada yang belum kita ketahui tata cara (kaifiyat) dan hukum-hukumnya.  Berikut adalah ringkasan tuntunan ibadah Ramadhan yang penulis ambil dari Kitab “Al Wajiz – Ensiklopedia Fiqh” yang disusun oleh Syaikh Abdul ‘Azhim ibn Badawi Al-Khalafi  terbitan Pustaka As-Sunnah, Jakarta  dan juga dari berbagai sumber lainnya.  Semoga bermanfaat.

Tuntunan Singkat Dalam Berpuasa

Mengerjakan ibadah puasa secara benar dengan berdasarkan dalil – tentunya menjadi syarat diterimanya suatu ibadah karena akan menghindarkan kita dari perbuatan bid’ah (perbuatan mengada-adakan hal baru di dalam ibadah) sebagaimana kaidah dalam ushul fiqih yaitu “al-ashlu fii ibadati al-buthlan hatta yaquma ad-dalilu ala amrihi” (pada dasarnya semua ibadah terlarang sampai adanya dalil yang memerintahkannya).  Kaidah ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah sbb:

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu anha, Rasulullah Shollallohu ‘alayhi wasallam“ bersabda: Man amila amalan laysa ‘alayhi amruna fahuwa roddun.”

Artinya: barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada perintah dari kami (agama ini), maka ia tertolak  (HR. Muslim No. 1718).

Dalil yang dimaksud tentunya adalah Al-Qur’an dan Hadits ‘shahih’ bukan hadits yang berstatus dhoif (lemah) terlebih lagi maudhu’ (palsu).

Hukum Berpuasa

Hukum Berpuasa adalah wajib sebagaimana dituliskan dalam QS. Al Baqoroh 183 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian shiyam (berpuasa) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”

Ibadah puasa dilakukan dengan tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan suami-istri (jima’) pada siang hari Ramadhan (terbit fajar hingga matahari tenggelam).

Selain ketiga hal di atas, hal-hal lain yang wajib ditinggalkan ketika berpuasa adalah: perkataan dan perbuatan bohong, perkataan yang keji/kotor dan sendau gurau.  Tentunya juga perbuatan maksiat/mungkar lainnya –  sebab bila itu dilakukan maka tidaklah seseorang berpuasa kecuali hanya mendapat lapar dan haus belaka.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Puasa itu bukanlah hanya menahan dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu adalah menahan diri dari sendau-gurau (laghwi) dan perkara keji (rafats)…”  (HR. Ibnu Khuzaimah (1996), Al-Hakim (I/430-431) dengan sanad shahih).

  • Hal-hal yang dibolehkan dalam berpuasa antara lain:

–  Dalam keadaan junub ketika memasuki waktu Shubuh ;

–   Bersiwak, berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung) dengan ringan ;

–   Mencium istri bagi yang dapat menguasai dirinya misalnya bagi orang yang sudah tua tetapi dilarang bagi para pemuda ;

–   Celak mata ;

–   Membasahi kepala karena udara panas,  dsb.

  • Rukhsah (keringanan) bagi orang untuk tidak berpuasa antara lain:

a)   Diwajibkan untuk qodho (mengganti di hari lain):

–  Musafir (yaitu orang yang safar / bepergian jauh) ;

–  Orang yang sakit dan dapat sembuh;

–  Wanita haid dan nifas

b)   Tidak diwajibkan meng-qodho tetapi wajib memberikan fidyah (makanan bagi orang miskin per hari yang ditinggalkan untuk satu orang miskin):

–  Orang yang tua renta atau lemah / sakit terus menerus

–  Wanita hamil dan menyusui  bila dirasa berat dan khawatir akan mengganggu kesehatan si bayi   *)

*)  Khusus mengenai menyusui ini perlu diperhitungkan masa-masa haid dan nifas di kala menyusui yang menurut pendapat sebagian ahli ilmu harus di-qodho.

Penentuan Awal Ramadhan dan Awal Syawal

Sedangkan penentuan datangnya bulan Ramadhan sendiri terkait dengan bulan sebelumnya yaitu bulan Sya’ban. Dengan menentukan bilangan bulan Sya’ban maka ditentukan awal bulan Ramadhan.

Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu anhu, Rasulullah Shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Berpuasalah kamu bila sudah melihat hilal (Ramadhan) dan berbukalah kamu bila sudah melihat hilal (Syawal), jika mendung atas kalian, maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (Muttafaqun ‘alayhi: Muslim II:762 No.19 dan 1081 dan ini lafazhnya, Fathul Bari IV: 119 No. 1909 dan Nasa’I IV: 133)).

Hadits ini mengandung pengertian untuk melakukan penetapan secara pasti datangnya bulan Ramadhan dengan metode rukyat (melihat).

Penetapan secara pasti ini diperlukan karena bila ada seseorang berpuasa di hari-hari yang meragukan maka ia telah durhaka kepada Nabi Muhammad Shollalloohu ‘alayhi wasallam. Ini diketahui dari hadits hasan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta’liq (3/141-142) yang berbunyi: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan sungguh ia telah durhaka kepada Abul Qosim (Muhammad Shollallohu ‘alayhi wasallam).”

Niat Puasa

Apabila telah diyakininya masuk bulan Ramadhan dengan rukyatul bashoriyah (melihat dengan mata telanjang) maka ia diwajibkan berniat sebagaimana hadits berikut:

Dari Hafshah Rodhiyallahu anha, Rasulullah Shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa sebelum waktu fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (Shahih, Shahihul Jami’us Shaghir No. 6538, ‘Aunul Ma’bud VII:122 Bi, 2437, Tirmidzi I:116 No. 726, Nasa’I IV: 196 dengan redaksi yang sama).

Niat di malam hari (sebelum fajar) tersebut tidaklah berlaku untuk puasa sunnah.

Perhatian:  Mengenai bentuk/cara  niat tidak berarti harus diucapkan/dilafazhkan, karena niat adalah amalan hati bukan amalan lisan (lidah).

Waktu Puasa

Masih banyak orang yang belum jelas mengenai batasan waktu dalam berpuasa.  Sebagian menganggap berpuasa dimulai dari waktu imsak (menahan). Sesungguhnya berpuasa dilakukan dari sejak terbit “fajar shodiq” hingga terbenam matahari di ufuk sebelah barat.  Perlu diketahui, ada 2 macam jenis fajar yaitu “Fajar Kadzib”, fajar yang mendahului datangnya “Fajar Shodiq” (fajar sesungguhnya). Tanda datangnya fajar kadzib ialah fajar yang berwarna putih panjang membujur naik ke atas.  Sedangkan fajar shodiq yaitu fajar yang berwarna merah melintang.  Fajar kadzib tidak mengharamkan makan dan minum sedangkan fajar shodiq tanda dihalalkannya sholat Subuh yang berarti pula telah masuk waktu berpuasa (diharamkannya makan, minum dan jima’).

“Makan dan minumlah kalian hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam dari waktu fajar.” (QS. Al-Baqoroh: 187).

Dengan demikian, waktu imsak bukanlah waktu diharamkannya makan dan minum tetapi hanya upaya berhati-hati dan hendaknya tidaklah hal tersebut (waktu imsak) menjadikan haram sesuatu yang Allah Sub-haanahu wa ta’ala halalkan.

Mengenai waktu berbuka puasa ialah waktu matahari telah tenggelam namun tidak berarti menunggu datangnya waktu gelap malam (telah hilang sinar matahari).

Sahur dan Berbuka

Makan sahur merupakan sesuatu hal yang jangan ditinggalkan walaupun hanya seteguk air, karena ada keberkahan di dalamnya. Bahkan para malaikat bersholawat kepada orang-orang yang sahur.

Dari Anas Rodhiyallahu anhu, Rasulullah Shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sahur ini adalah suatu barakah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah ditinggalkan.”  (Muttafaqun ‘alayhi, Fathul Bari IV: 139 No. 1923, Muslim II: 770 No. 1095, Tirmidzi I: 106 No. 703, HR. An-Nasa’i IV:145 dan Ahmad V:270).

Disunnahkan pula untuk mengakhirkan waktu sahur hingga mendekati waktu fajar shodiq (adzan Shubuh) dan menyegerakan berbuka ketika terbenam matahari (adzan Maghrib) dan tidak menunggu gelap malam hingga tampak bintang-bintang .

Makanan Pembuka

Tidak ada batasan dalam makanan untuk berbuka puasa, namun ada makanan kebiasaan Nabi Shollalloohu ‘alayhi wasallam saat berbuka puasa sebagaimana hadits berikut:

“Nabi Shollalloohu ‘alayhi wasallam biasa berbuka dengan ruthob (kurma muda) sebelum beliau sholat (Maghrib). Jika tidak ada ruthob maka beliau berbuka dengan tamr (kurma matang) dan jika tidak ada tamr, maka beliau meneguk seteguk air.” (Shahih, HR. Ahmad III:163, Abu Dawud  II:306, Ibnu Khuzaimah  III:277-278, Tirmidzi III:70).

Doa Berbuka

Doa orang yang berpuasa tidak tertolak yaitu saat berbuka.  Adapun do’a utama yang diajarkan oleh Rasulullah adalah:

doa buka

“Dzahabazh- zhoma-u wabtallatil-uruuq  wa tsabatal ajru insyaa’ Allah.

Artinya: “Telah hilang rasa haus dahaga dan telah basah tenggorokan dan semoga tetaplah pahala.”   (Hasan Shahih, Abu Dawud No. 2066, ‘Aunul Ma’bud VI: 482 No.2340).

Banyak hal yang belum sempat dituliskan, untuk lebih lengkapnya maka alangkah baiknya bila dapat membaca kitab nya secara langsung.

Wallahu ‘alam bishshowab.

%d bloggers like this: