Rambu Lalu Lintas Umat

Tinggal di perumahan yang memiliki masjid besar dan bagus memang menyenangkan. Menyenangkan karena selain ruangannya pun bersih juga lingkungan yang asri dengan dua buah pohon kurma di depan masjid serta lapangan luas di sampingnya membuat masjid yang memang secara arsitektur sudah indah tampak semakin lengkap.

Rupanya kondisi itu membuat masjid ini semakin digemari orang untuk datang baik untuk ibadah atau malahan untuk istirahat di teras masjid yang bersih dan terbuka karena nyaris tidak berpagar.  Suasananya yang sejuk dan tampak luas inilah yang mengundang orang untuk duduk-duduk di teras samping masjid sambil melihat ke lapangan rumput yang sebenarnya adalah sebuah kavling milik suatu kedutaan besar yang entah mengapa sekian tahun tidak digunakan.

Daya tarik ini ternyata tidak selamanya menyenangkan. Selain memang orang dari luar perumahan yang lewat dan kemudian istirahat dan ibadah di sana, ternyata hal itu juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.  Beberapa orang baik yang telah berumur maupun masih berseragam sekolah kerap mendatangi masjid.  Tujuannya? Ternyata bukan untuk ibadah, tetapi untuk berbuat keji.  Pada awalnya datang sekelompok anak tanggung untuk ngobrol-ngobrol baik laki-laki maupun perempuan.  Tidak saja mereka ber-ikhtilat (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram) tetapi juga si anak perempuan berpakaian yang tidak menutup aurat misalnya dengan mengenakan celana pendek. Melihat hal tersebut, maka pengurus masjid menegur mereka dan akhirnya mereka pun pergi.

(klik gambar untuk membesarkan)

Selesaikah?  Rupanya tidak.  Beberapa hari kemudian datang lagi anak-anak muda lain duduk-duduk pada malam hari – dimana masjid pun sudah tidak terawasi lagi oleh pengurus masjid. Esok harinya tertinggal-lah botol minuman keras dan bungkus rokok. Tidak selesai di situ, lain waktu ada pula pasangan yang mengaku suami istri duduk di tangga masjid bermesraan dengan kepala sang ‘suami’ dipangkuan sang ‘istri’.  Dan entah berapa kali lagi pengurus masjid memergoki dan mengusir pasangan-pasangan yang berkelakuan tidak pantas di sekitar masjid itu, tua maupun muda.   Rupanya kemahsyuran masjid ini bukan dari hal yang positif saja, tetapi juga yang sebaliknya, tempat yang nyaman untuk bermaksiat kepada Allah Sub-haanahu wa ta’ala.

Maksiat kah perbuatan mereka? Mungkin itu menjadi pertanyaan ketika banyak umat Islam ternyata telah teracuni dengan norma/  sistem kehidupan negeri barat sejak lahir! Negara kita memang negara dengan penduduk muslim terbesar, tetapi hidup dengan lingkungan yang kurang bersahabat dengan syariat, mungkin ini terjadi karena terlalu lama dicekoki dengan budaya barat (baca: penjajah bangsa eropa) dan kini dengan acara film dan televisi dari negeri kaum kuffar (kafir).  Ketika seorang bayi lahir dan begitu ia mulai mengerti  kehidupan di sekelilingnya kemudian memasuki usia anak-anak dan puber, maka yang dilihat dan dipahami dalam pemikirannya adalah lingkungan  yang permisif dengan baju buka-bukaan, menikah yang harus didahului pacaran, sex bebas, musik yang melenakan  dan lainnya yang sudah sangat jauh dari norma-norma agama (Islam).  Akhirnya timbul anggapan bahwa itu semua adalah hal yang boleh-boleh saja dilakukan.  Ini diistilahkan orang seperti kodok hidup direbus, pada awalnya si kodok tidak terasa jika sedang direbus karena awalnya dingin dan memanas  secara perlahan, hingga satu titik ia kaget, tak mampu keluar dan matilah sang kodok ketika air telah menjadi panas.  Demikian pula kita bila tidak berhati-hati, tanpa terasa kita berjalan memasuki lingkungan yang penuh kemaksiatan hingga lama kelamaan kita terbiasa dengan keadaan demikian dan pada satu titik waktu tertentu tergelincir turut serta  ke dalam kehidupan yang nista , Na’udzubillahi min dzalik.

Sebenarnya, bagaimana syariat memandang kejadian-kejadian di atas, mari kita simak bersama-sama.

> Ikhtilat.  Adalah bercampur baurnya antara kaum laki-laki dan perempuan yang tidak terikat dalam hubungan mahram dalam satu tempat dimana mereka dapat saling berbicara, memandang wajah lawan jenisnya bahkan dapat saling bersentuhan tanpa ada alasan yang memenuhi syari’at.

QS. Al-Ahzaab: 32-33 yang artinya:  “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. dan ucapkanlah perkataan yang baik, ”

Perintah yang datang kepada para ummahatul mu’minin (ibu kaum mukmin / istri-istri Nabi) dan kpeada kaum mukminat yaitu para wanita beriman yang diwajibkan bagi mereka untuk mencontoh istri Nabi  dalam bertindak merupakan salah satu indikasi diperlukannya hijab (pembatas) antara kaum laki-laki dan perempuan di dalam pergaulan.  Niscaya pergaulan yang campur baur akan menyulitkan terlaksananya perintah Allah tersebut.  Obrolan yang tidak dibatasi keperluan masyru’ (yang sesuai  syariat)  ditambah dengan kedekatan secara fisik satu sama lain akan mengakibatkan terjadinya apa yang Allah telah peringatkan berupa adanya keinginan dari orang yang mempunyai penyakit di hatinya (berupa keinginan berbuat keji).

> Perintah menutup aurat dan menahan pandangan. Bilamana dapat diatasi masalah ikhtilat, maka perlunya dijaga masalah menutup aurat baik bagi kaum wanita maupun kaum pria.

Berdasarkan perintah Allah dalam surah An-Nuur:  30-31 yang artinya:  “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.   Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Di dalam ayat tersebut diperintahkan adanya usaha menahan pandangan untuk tidak melepasnya kepada yang bagi dirinya. Baik laki-laki maupun perempuan sama saja terkena kewajiban untuk mentaati perintah itu.  Selanjutnya diperintahkan pula kepada para wanita beriman untuk menutupkan kudung (khimar) hingga ke dada mereka kecuali kepada orang-orang yang diperbolehkan bagi wanita tersebut melihatnya seperti kepada suami, ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki dan seterusnya.

Juga firman Allah dalam surah Al-Ahzab: 59 yang artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sebagian ulama mendasari pendapat mereka berdasarkan kedua ayat ini untuk mewajibkan para wanita beriman mengenakan baju panjang dan lebar (jilbab) hingga menutup wajah (bercadar) hingga kaki.  Namun sebagian lain lagi mendasari pendapatnya kepada hadits  yang diriwayatkan oleh Abu Dawud  yang membolehkan  wanita membuka wajah dan telapak tangan yaitu:

Asma’ binti Abu Bakar masuk kepada Rasulullah dengan mengenakan pakaian yang tipis, maka Rasulullah berpaling darinya dan bersabda: “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita ketika telah menginjak masa haidh tidaklah pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini dan Beliau mengisyaratkan ke wajah dan kedua telapak tangan.”  (Sanadnya lemah tetapi dihasankan oleh Al-Albani).

Sedangkan bagi laki-laki, maka aurat yang harus ditutupi adalah sebagaimana hadits “Maa baina surrati war rukbati aurah.” Artinya : Apa yang ada di antara pusar dan lutut adalah aurat.

Terkait dengan masalah aurat ini, maka yang dimaksud dengan menutupnya adalah tidak sekedar tertutup kain, tetapi juga harus tebal (tidak menerawang kulitnya) dan tidak pula sempit hingga terlihat bentuk auratnya – berlaku baik untk laki-laki maupun perempuan sama saja. Harus disadari bahwa seseorang akan menjadi daya tarik bagi lawan jenisnya bila berada dalam keadaan tabarruj yaitu terbuka aurat dan/atau berhias sehingga menarik perhatian hingga syahwat.

> Kholwat atau menyendiri dengan lawan jenis yang tidak halal bagi dirinya. Sudah sangat jelas, kholwat antara laki-laki dan perempuan bukan mahram adalah suatu kemaksiatan.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya: “Dan janganlah wanita melakukan perjalanan kecuali bersama mahramnya, dan janganlah lelaki berduaan dengan wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.

Kalimat “Laa” (tidak) yang diikuti dengan fi’il (kata kerja) berarti suatu  perintah larangan  untuk tidak berbuat sesuatu. Dengan demikan, kholwat adalah terlarang, apa lagi dibarengi bermesraan sebagaimana yang sering terjadi pada pasangan-pasangan yang berpacaran di sekitar kita.  Mereka nonton bioskop, makan di tempat romantis berdua, bahkan ‘ngapel’ berdua-duaan di salah satu sudut ruangan di rumah kedua orangtua si gadis. Bergandengan tangan, berpelukan, saling menatap bahkan mencium  sang kekasih telah umum terjadi di kalangan remaja yang berpacaran dan itu termasuk dalam kategori zina, walaupun bukan zina dalam  pengertian jima’ sebagaimana yang dilakukan pasangan suami-istri. Namun seringan apapun dosa itu, tentunya akan menjadi bahan bakar neraka di hari pembalasan kelak.

Sebuah hadits shahih diriwayatkan Muslim dan Bukhari mengenai kategori zina adalah sebagai berikut, yang artinya: “Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan berangan angan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim no. 2657, Bukhari no. 6243).

> Maksiat yang berkaitan dengan khamr dan judi.

Allah berfirman dalam surah Al Maa’idah ayat 90,  yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Telah jelas larangannya dan khusus mengenai narkoba adalah termasuk dalam kategori khamr, yaitu segala hal yang bersifat memabukkan (menghilangkan akal) orang yang mengkonsumsinya bahkan  dalilnya pun sudah qoth’i dilalah (teksnya / matannya bermakna pasti).

Dari Abu Musa, Rasulullaahu Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda, yang artinya:  “Semua yang memabukkan itu hukumnya haram,” (HR Bukhari No.6124 dan Muslim no.1733).

> Rokok, haram atau tidak? Secara umum, rokok jelas merusak kesehatan bila ditilik dari racun yang dikandungnya,  kesia-siaan dan juga pemborosan. Jadi terlalu banyak mudharatnya.  Rokok dinyatakan merusak kesehatan dapat kita lihat di bungkusnya sendiri.  Bayangkan, sesuatu yang dapat mengakibatkan impotensi hingga penyakit kanker apakah masih dianggap sebagai sesuatu yang baik? Halal kah seseorang yang menyakiti diri sendiri? Belum lagi bila diteliti manfaatnya yang nyaris tidak ada karena sebenarnya seseorang merasa mendapatkan ide cemerlang atau solusi tepat suatu permasalahan sambil  merokok adalah permainan syaitan belaka. Belum lagi perbuatan  mubazir yang terjadi  karena membuang uang untuk dibakar?

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”  (QS. Al Israa: 26-27)

Nah, masih inginkah kita merokok?

Demikian pembahasan sekilas tentang kejadian-kejadian di masjid itu, semoga bermanfaat. Billahi tawfiq. (Ibnu AQ)

%d bloggers like this: