Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal ?

Sebuah stasiun televisi untuk anak-anak belakangan ini menampilkan berbagai tayangan dan juga iklan yang berkaitan dengan natal. Wah, buat anak-anak kita yang masih belum terdidik dengan baik tentunya ini adalah musibah. Coba kita lihat, lagu natal berkumandang di rumah kita seperti “jingle bells” atau juga film kartun yang menampilkan warna warni natal seperti manusia salju, pohon natal cemara yang berkilauan, sinterklas dan malahan lagu versi lokal seperti yang dilakukan dua kakak beradik Kevin dan Karen.    Semarak natal ini bahkan sudah dimulai sebelum hari raya Idul Adha 1430 H yang jatuh pada tanggal 27 November 2009 yang lalu.   Jadi lebih dari sebulan sebelum hari Natal mereka telah berda’wah kepada anak-anak yang sebagian besarnya tentu muslim. Malahan ada beberapa kali tayangan lagu-lagu rohani mereka yang membawa-bawa simbol-simbol Arab, misalnya unta lengkap dengan orang-orang berpakaian gamis. Memang tidak salah juga menampilkan simbol tersebut karena nyatanya memang Arab tidak berarti identik dengan Islam, walaupun sebagian besar penduduknya beragama Islam.

Jadilah kita kerepotan membendung arus informasi yang sangat mengganggu aqidah tersebut, terlebih bagi anak-anak yang masih polos dan belum tahu perbedaan antara agama yang haq (Islam) dengan agama kaum kuffar (kafir/menutup diri dari Islam). Lagu-lagu dengan musik yang melenakan memang sangat mempengaruhi kaum muslimin. Akibatnya, anak-anak pun terbiasa dengan musik. Walhasil, ketika ada lagu-lagu natal yang dinyanyikan anak-anak, maka anak-anak kaum muslimin pun tanpa sadar ikut mendendangkannya  “selamat hari natal dan tahun baru…”   Sungguh suatu musibah besar bagi aqidah kaum muslimin.

Sebagian kaum muslimin berpendapat apa sih masalahnya dengan lagu dan ucapan selamat natal? Toh iman kita tetap Islam, tetap shalat, dan juga tidak pernah menganggap dirinya telah murtad atau keluar dari Islam. Begitulah kira-kira yang ada dibenak mereka.

Bahkan ada orang yang mengaku faqih dalam ilmu agama tetapi justru mengajarkan masyarakat awam untuk mengucapkan “selamat natal” dengan cara memberi contoh di televisi. Malahan ada yang menganggap bahwa semua agama benar dan menuju kepada satu tujuan yaitu Allah. Padahal apa yang terkandung di dalam ucapan itu sungguh tidaklah kecil. Maka pertanyaannya, perkataan dan anggapan siapakah yang benar, apakah perkataan orang-orang itu ataukah perkataan Allah dan RasulNya?

Allah berfirman dalam al-Qur’an surah Ali Imran ayat 85, yang artinya:

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Sebagai orang beriman jelas perkataan Allah dan RasulNya yang kita yakini kebenarannya sebagaimana sabda Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw., seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan (dalam agama), segala perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka. (Shahih, HR. Nasa’i 1331,Muslim II: 592 no: 467 dan Nasa’i III: 188).

Islam mengajarkan kita untuk mengetahui siapa Rabb kita. Islam juga mengatur seluruh sendi kehidupan kita sejak dari lahir hingga kita mati. Islam juga memiliki aturan dan tata cara tersendiri bagi penganutnya dalam beribadah tanpa harus ikut-ikutan tradisi yang dilakukan orang-orang di luar Islam, bahkan Islam pun memiliki hari Ied (Hari Raya) tersendiri.

Sayangnya, dalam perkara natal ini saja, begitu banyak umat Islam yang belum memahami makna dari hari natal bagi orang Nasrani. Banyak orang-orang Islam masih mengucapkan selamat natal kepada teman karib kerabat mereka sebagai bagian dari perwujudan perhatian dan toleransi dalam beragama. Mereka yang membolehkan mengucapkan selamat natal biasanya mempunyai alasan sebagai berikut:

  1. “Ini kan masalah hubungan horisontal sesama warganegara.”
  2. “Ini masalah muamalah (di luar masalah ibadah) sebagaimana halnya dibolehkannya oleh syariat untuk melakukan jual beli dengan umat agama lain.”
  3. Berdalil dengan diperbolehkannya kita bergembira atas kelahiran Yesus (Nabi Isa -‘alayhissalaam).

Apakah belum jelas buat mereka hakikat natal itu?

Untuk menjawab itu kita akan teliti benarkah beberapa alasan di atas. Kita mulai dengan memahami apa dan bagaimana hari Natal itu dirayakan.

Perayaan Natal

Dalam sebuah tulisan di majalah umat kristen di Amerika yaitu “Plain Truth” dimana seorang pastur “Worldwide Church of God“ bernama Herbert W. Armstroing (1892 – 1986) menuliskan asal muasal perayaan natal yaitu:

The word “Christmas” means “Mass of Christ,” or, as it came to be shortened, “Christ-Mass.” It came to non-Christians and Protestants from the Roman Catholic Church. And where did they get it? NOT from the New Testament–NOT from the Bible–NOT from the original apostles who were personally instructed by Christ–but it gravitated in the fourth century into the Roman Church from paganism.

Since the celebration of Christmas has come to the world from the Roman Catholic Church, and has no authority but that of the Roman Catholic Church, let us examine the Catholic Encyclopedia, 1911 edition, published by that church. Under the heading “Christmas,” you will find: “Christmas was not among the earliest festivals of the Church…the first evidence of the feast is from Egypt.” “Pagan customs centering around the January calends gravitated to Christmas.” And in the same encyclopedia, under the heading “Natal Day,” we find that the early Catholic father, Origen, acknowledged this truth: “… In the Scriptures, no one [who obeyed God] is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners [like Pharaoh and Herod] who make great rejoicings over the day in which they were born into this world” (emphasis ours).

Encyclopedia Britannica, 1946 edition, has this: “Christmas (i.e., the Mass of Christ)…. Christmas was not among the earliest festivals of the church….” It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up afterward from paganism. The Encyclopedia Americana, 1944 edition, says: “Christmas…. It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth….” (The “Communion,” which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) “… A feast was established in memory of this event [Christ’s birth] in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ’s birth existed.” Now notice! These recognized historical authorities show Christmas was not observed by Christians for the first two or three hundred years–a period longer than the entire history of the United States as a nation! It got into the Western, or Roman, Church, by the fourth century A.D. It was not until the fifth century that the Roman Church ordered it to be celebrated as an official Christian festival!”

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (versi buku “Misteri Natal” oleh Masyhud SM).

Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.

Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul “Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:

“Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul “Natal Day,” Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:

“Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”

Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:

“Natal bukanlah upacara – upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:

“Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut..” (“Perjamuan Suci” yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) “…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari.” Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”

Berkaitan dengan kejelasan waktu kelahiran Yesus, maka Wikipedia sebuah ensiklopedia online terkemuka menuliskan:

Christmas or Christmas Day is an annual Christian holiday commemorating the birth of Jesus of Nazareth. It is celebrated on December 25, but this date is not known to be Jesus’ actual birthday..”

Terjemahan bebasnya:

Natal atau hari Natal adalah hari libur tahunan umat kristen dalam memperingati kelahiran Yesus dari Nazareth. Ini dirayakan pada tanggal 25 Desember, tetapi tanggal ini tidak diketahui sebagai hari kelahiran Yesus..”

Kita bisa bayangkan, sekian puluh abad umat Kristen merayakan sebuah perayaan yang tidak mempunyai dasar sama sekali dalam kitab suci mereka tetapi hanya sekedar ikut-ikutan kebiasaan kaum pagan penyembah berhala bangsa Mesir dan Romawi.

Dari uraian dan kutipan di atas maka kita mendapatkan penjelasan mengenai Natal dari kalangan umat Kristen sendiri (sehingga lebih obyektif) sebagai berikut:

  1. Hari Natal adalah hari yang dirayakan umat Kristen dalam memperingati kelahiran Yesus, yaitu salah satu tuhan yang diakui mereka di antara tiga oknum yaitu Bapa, anak (Yesus) dan Ruh Kudus (paham trinitas, tiga dalam satu Oknum, lihat http://www.britannica.com/EBchecked/topic/605512/Trinity). Penentuan sebagai hari kelahiran Yesus ini dilakukan sekitar abad ke-4 masehi.
  2. Perayaan Natal sendiri diadopsi dari perayaan kaum pagan politeis (penyembah dewa-dewa di antaranya dewa matahari) yang dimasukkan ke dalam perayaan agama kristen pada abad ke-5 masehi.
  3. Tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus, tetapi merupakan hari kelahiran anak dewa matahari. Tanggal ini selalu berkaitan dengan kelahiran dewa-dewa dalam berbagai kepercayaan bangsa-bangsa pagan seperti Romawi (Att), Yunani (Dionysus), Mesir (Osiris) dan Persia (Mithra). Lihat : http://www.religioustolerance.org/xmas_sel.htm

Jadi hari Natal sangat sarat dengan syiar-syiar agama lain, baik agama Kristen maupun lainnya.

Kesimpulan

Dengan mengetahui latar belakang perayaan hari natal, maka tiga alasan yang biasa diajukan oleh kaum muslimin yang masih mengucapkan selamat hari natal kepada sahabat dan kerabat mereka menjadi tidak relevan dan tidak memenuhi unsur yang dibolehkan syariat:

  1. Tuntutan untuk toleransi memang menjadi salah satu penyebab seorang muslim mengucapkan selamat natal kepada seorang kristen yang dikenalnya. Namun toleransi tidak menjadi penyebab bolehnya kita mengucapkan itu karena secara langsung dan tidak langsung berarti mengakui adanya sesembahan lain. Ini jelas mengotori kemurnian aqidah dan keyakinan tauhid umat Islam dalam syahadat yang pertama yaitu LAA ILAAHA ILLALLAH yang bermakna laa ma’buda bihaaqin illaLLAH (Tidak ada ILAH yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain ALLAH). Toleransi sesama warganegara cukup dilakukan dengan tidak mengganggu umat agama lain dalam melakukan peribadatan mereka sepanjang tidak melanggar peraturan yang telah disepakati. Pelanggaran atas peraturan menjadi tanggung jawab ulil amri (pemerintah) untuk memperbaikinya.
  2. Ucapan selamat natal bukan sekedar perkara muamalah karena di dalam ucapannya tersirat dan terucap adanya keridhoan dan loyalitas atas kegembiraan umat kristen dalam menyambut kelahiran ‘tuhan’ yang mereka sembah. Ini berarti masuk ke dalam masalah keyakinan dan peribadatan agama lain. Bagaimana mungkin hal ini dikatakan hanya masalah muamalah ketika tersangkut di dalamnya urusan agama orang lain? Sesungguhnya ikut-ikutan dalam ucapan selamat atau dalam perayaan mereka akan menyenangkan hati mereka dan akan memantapkan hati mereka dalam kekufuran mereka. Padahal Allah tidak ridho atas kekafiran mereka sebagaimana firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat-7, yang artinya:
    Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”
    Dan hanyalah Islam yang diridhoi-Nya sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an surah Al-Maa’idah ayat 3, yang artinya:
    …dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.”
  3. Tidak ada satu dalil pun yang memerintahkan kita untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wasallam. Baik Rasulullah maupun Sahabat, Tabi’in (generasi setelah sahabat) dan Tabi’ut Tabi’in (generasi setelah tabi’in) pun tidak pernah mencontohkannya padahal mereka itulah generasi terdahulu (salaf), umat terbaik dari umat Islam yang selalu mencontoh Nabi dan memahami syariat yang dibawa oleh beliau secara benar karena dekatnya masa mereka dengan masa Nabi.  Oleh karenanya bila terhadap Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam yang diutus Allah bagi kita umat akhir jaman ini saja tidak diperintahkan untuk dirayakan – maka terlebih lagi kepada kelahiran Nabi Isa ‘alayhissalam yang diutus bagi umat sebelum kita yang tentunya tidak pula kita perlu merayakan kelahirannya. Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasar dari ajaran kami (bid’ah), maka amalannya tertolak.” (Hadits Riwayat Muslim No.1718) Lihat: Mengupas sunnah membedah bid’ah.

Dengan uraian di atas maka hendaknya kita berupaya menjaga diri kita dan keluarga kita dari perbuatan yang tidak diridhoi Allah – Subhaanahu wa ta’ala dan semoga Allah senantiasa memelihara kita.

Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbiy ‘ala diinik

artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

(HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)

Billaahi tawfiq (Ibnu-AQ)

%d bloggers like this: