Perlukah Merayakan Tahun Baru?

Perlukah kita merayakan tahun baru? Jawabannya adalah sebuah pertanyaan, “Bagaimana akibatnya bila kita tidak merayakannya?”

Alhamdulillah bila kita tidak merayakannya sementara lingkungan kita sangat menginginkannya maka kita terhindar dari dosa.

Sabda Rasulullaah – Shollallaahu ‘alayhi wasallam,

Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan masuk ke dalamnya”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nashara? Maka beliau menjawab:” Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”.[HR. Bukhari dalam Shohih-nya (3269 & 6889), Muslim dalam Shohih-nya (2669), Ahmad dalam Musnad-nya (11817 & 11861)]

Perayaan tahun baru masehi secara umum merupakan bentuk kebiasaan dan ibadah yang dilakukan oleh non Muslim.  Ketika tahun baru maka umat Nasrani merayakannya dengan ibadah di gereja-gereja mereka. Maka dasar apa yang membuat seorang Muslim ikut merayakannya?   Sinyalemen Nabi di atas terbukti dengan adanya kebiasaan kaum muslimin di jaman ini yang dengan senang hati  dan suka cita merayakannya karena merasa terhibur melihat kebiasaan orang di luar Islam tersebut.

Sebagian orang menyatakan bahwa hadits tersebut merupakan permakluman dari Nabi terhadap keikutsertaan umat Islam dengan kebiasaan orang Kafir. Namun hal tersebut tidaklah benar, apa yang disampaikan oleh Nabi tersebut adalah suatu keprihatinan  beliau mengingat seseorang  bisa sedemikian tunduk terhadap semua kebiasaan yang buruk sekalipun (masuk ke dalam lubang biawak).

Islam sendiri mengenal kalender tahunan yang dibuat semasa Khalifah Umar ibn Khotob Radhiyallaahu ‘anhu dengan titik tolak kepada tahun hijrah Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam ke Madinah dari Makkah sebagai tahun ke-1. Bahkan dengan perhitungan bulan yang memang telah dikenal di jazirah Arab sejak dahulu terbukti antara nama bulan dengan waktu peredarannya amatlah konsisten.  Bila kita memasuki bulan baru berdasarkan penanggalan hijriyah (Islam) maka tampak garis sabit  bulan pada tanggal 1 dan bulan penuh  pada tanggal 15.  Namun bila kita melihat berdasarkan penanggalan masehi, maka sering terjadi ketidaksesuaian antara awal bulan baru dengan peredarannya.

Penulis tidak sedang membahas mengenai sistem penanggalan karena yang lebih penting lagi kita bahas adalah bagaimana menyikapi datangnya tahun baru masehi tersebut.

Hari Raya Dalam Ajaran Islam

Islam sendiri hanya mengenal dua hari  raya  sebagaimana yang di sabdakan oleh Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam:

“Aku datang kepada kalian, sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersuka ria padanya di masa jahiliyyah, kemudian Allah menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya, yaitu ; hari Iedul Qurban dan hari Iedul Fitri.”  (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baghawi, shahih).

Hadits ini mengisyaratkan bahwa perayaan di dalam Islam tidaklah banyak.  Hanya orang-orang masa kinilah yang menjadikan umat Islam larut dalam berbagai perayaan yang sebenarnya tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Bahkan dalam sebuah hadits lain  yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah,  Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam telah memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan sunnah khulafaurrosyidin (para sahabat Nabi) Radhiyallaahu ‘anhum:

“..Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan  sunnah para khulafaul Rasyidin (Abu Bakar Asshiddiq, Umar ibn Khotob, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhum) yang telah diberi hidayah…dst. ”  (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, ad Darimi, Al-Hakim dan dishahihkan oleh adz Dzahabi).

Kembali kepada permasalahan perayaan tahun baru masehi, maka sebagai umat Islam hendaknya kita tidak turut larut dalam kegembiraan sebagaimana gembiranya umat lain menyambut tahun baru masehi.  Tapi yang kita lihat, ketika umat Nasrani menyambutnya dan beribadah di gereja sebagaimana tuntunan agama mereka, umat Islam pun turut hadir  untuk menyambutnya, tentu saja tidak di gereja sebagaimana yang dilakukan kaum Nasrani, tetapi  mereka berbaur bersama di tempat-tempat tertentu untuk merayakan datangnya tahun baru yang sebenarnya tidak untuk umat Islam karena perhitungan tahun baru itu dibuat berdasarkan penanggalan kaum Nasrani dan bahkan kaum Nasrani pun mengadopsinya dari kaum pagan (penyembah dewa-dewa) di Yunani sekitar tahun 46 SM.

Bagi kalangan berduit, tahun baru disambut oleh banyak orang dengan pesta yang dilaksanakan di hotel mewah sambil menikmati pertunjukan atau berdansa-dansi di klub malam. Bagi kalangan ‘bawah’ maka pesta dilakukan dengan berjoget rame-rame di taman hiburan yang bersifat gratis.  Sebagian lain asyik menyaksikan pesta kembang api di Monas, Ancol dan memenuhi jalan-jalan raya  sekedar keliling kota membuang waktu dan uang.  Yang tidak  bepergian kemudian memenuhi mulut gang atau  komplek perumahan menantikan detik-detik pergantian tahun pada pukul 24.00 sambil pesta kecil makan-makan dan minum-minum.  Yang tidak keluar rumah, maka malam pergantian tahun diisi dengan menyaksikan acara televisi yang biasanya dihiasi acara dengan berbagai acara yang tidak islami bahkan dengan penampilan pembawa acara dan artis yang ber-tabarruj (artinya: pamer kecantikan dan aurat) sehingga kemaksiatan diajarkan  kepada penghuni rumahnya. Bahkan pernah ada acara  di malam tahun baru 2004/2005 ketika tsunami baru saja melanda Aceh yang mengakibatkan ratusan ribu korban nyawa serta meninggalkan pengungsi yang butuh pertolongan – sebuah acara televisi menampilkan tarian Hawai dengan penari-penari wanitanya hampir telanjang.  Sungguh ironis!

Dana milyaran rupiah pun tak sayang dihamburkan untuk memenuhi hasrat berpesta.  Pemerintah yang seharusnya mensejahterakan rakyatnya yang sengsara justru menghambur-hamburkan uang mengadakan pesta di pusat kotanya.  Padahal tidak jauh dari situ, di utara kota Jakarta, sebagian besar rumah warga  miskin masih sering terendam air pasang.   Banjir dan longsor pun terjadi di Karanganyar dan lainnya yang saat malam tahun baru masih ’menyiksa’ pengungsinya dengan berbagai kesulitan. Tentu saja di saat seperti itu pemerintah dan masyarakat tidak peduli karena sedang asyik berpesta tahun baru.  Malahan saat pesta pora semalam suntuk itu banyak di antara mereka yang membumbui pestanya dengan minuman keras, narkoba dan juga pergaulan bebas. Pemuda-pemudi tanpa terikat perkawinan bepergian dengan   seijin orangtua mereka untuk pergi ke tempat hiburan atau tempat wisata dan  melepas rasa rindu mereka di sana. Entah apa alasan orangtua mereka tega melepaskan keduanya untuk berkhalwat (berduaan) yang dilarang Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam karena membuka peluang terjadinya perzinahan? Padahal sekedar mendekati saja sudah terlarang sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Israa’ ayat 32.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Ikut-Ikutan

Namun tidak sedikit orang berusaha menghindari hal maksiat dalam merayakan tahun baru dan mencoba kreatif dengan mengadakan pengajian atau dzikir bersama di masjid seolah tak mau kalah dengan umat lain yang merayakan ibadah tahun baru di gereja. Akan tetapi, bila di tahun baru Islam saja tidak disyariatkan untuk dirayakan atau dilakukan ritual ibadah secara khusus, maka apalah lagi di tahun baru masehi.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Selisihilah (berbedalah dengan) orang-orang Yahudi dan Nashara…. ”  (Taqrib Ibnu Hibban).

Melihat apa yang terjadi di sekeliling kita pada malam tahun baru di sekitar kita, maka sungguh kita menyayangkan banyaknya umat Islam yang kehilangan jati dirinya sebagai umat Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam karena sedikit sekali yang mau mengikuti petunjuk Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam, bahkan mereka lebih bangga  mengikuti jalan menuju kekufuran dan kemaksiatan.

Mungkin sebagian besar kita pernah ikut-ikutan menyambut tahun baru masehi, maka biarlah itu menjadi masa lalu kita, kinilah waktunya kita sama-sama belajar untuk kembali meniti jalan lurus yang ditelusuri Rasulullah, jalan  yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, jalan yang mengantarkan pengikutnya  menuju pintu kebahagiaan di dunia dan akhirat, yaitu Al-Islam.

Wallahu a’lam bishshowab.

http://ibnu-aq.tk

%d bloggers like this: