Adzan dan Lonceng Gereja

Apakah anda sering pergi keliling kota untuk suatu urusan? Atau memang tuntutan pekerjaan mengharuskan anda untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain? Jika memang ya, maka hampir dipastikan anda banyak berkunjung ke berbagai masjid yang ada di kota anda untuk melaksanakan sholat wajib.

Sholat wajib memang sudah sepatutnya dilaksanakan di masjid mengingat berbagai dalil yang ada mengenainya. Para ulama memang berbeda pendapat mengenai wajib atau tidaknya sholat berjamaah di masjid bagi kaum pria namun dari berbagai pendapat tersebut maka yang paling utama – bila tidak hendak dikatakan wajib – adalah shalat fardhu bagi kaum pria dilakukan di masjid terkecuali bila terdapat udzur.

Bunyi Lonceng Gereja itu

Penulis sering memperhatikan pada beberapa masjid yang penulis kunjungi seakan telah menjadi trend atau tradisi bagi para pengurus masjid untuk meletakkan sebuah jam besar berbentuk lemari setinggi kurang lebih 2 meter  dengan bandul berayun sebagai penggerak mekanis penunjuk waktu.  Terkadang malah tidak cukup satu buah, tetapi dua buah diletakkan di sudut-sudut ruangan masjid.  Tujuan secara umum tentu sebagai pengingat waktu (karena dilengkapi dengan suara lonceng – baik untuk keperluan penentuan waktu shalat maupun untuk kebutuhan lainnya.  Lebih aneh lagi ketika sudah ada jam lain yang terpasang namun masih juga diperlukan tambahan jam besar tersebut. Rupanya, jam tersebut juga mempunyai manfaat ganda yaitu selain sebagai pengingat waktu, juga sebagai menaikkan gengsi bagi pengurus masjid dan masyarakat sekitarnya karena harga jam tersebut yang memang relatif cukup tinggi.

Grandfather’s clock, demikian jam besar tersebut diberi nama.  Diberi nama ‘Jam milik kakek’, mungkin karena modelnya yang antik dengan penggerak mekanis berupa bandul yang berayun seperti pendulum dan digerakkan dengan tiga buah bandul pemberat yang bergerak turun sehingga memutar gerakan mekanis jam tanpa perlu baterai.  Dijual dengan berbagai merek dan antara lain “Westminster” atau “Junghans”  yang buatan Jerman, maka jam ini memang lebih dikenal sebagai jam dengan citra rasa prestise karena harganya yang saat ini berkisar antara 4 juta rupiah hingga puluhan juta rupiah. Harga dipengaruhi beberapa hal antara lain besar kecil mesin jam yang diimpor dari Jerman, bentuk lemari kayu yang biasanya buatan lokal dan tentu saja bahan kayunya dan ukirannya.  Wajar dengan harga setinggi itu maka hanya orang-orang berlebih harta di seluruh dunia yang sanggup membelinya untuk dijadikan pajangan di rumah-rumah besar mereka. Inilah yang kemudian menular kepada beberapa pengurus masjid atau warga sekitar masjid untuk membelikan jam mahal tersebut, entah dari uang pribadi atau jangan-jangan dari uang sedekah jama’ah masjid.

Salah satu ciri lain dari ‘jam milik kakek’ ini adalah bunyinya yang khas.  Dengan menggunakan beberapa besi pemantul suara yang berukuran panjang berbeda akan memberikan efek suara berirama yang ‘menyenangkan’ sebagian pendengarnya setiap 15 menit dan diakhiri dengan suara lonceng atau gong yang berjumlah sesuai dengan waktu pada saat itu.   Tetapi tahukah anda bagaimana dan seperti apa bunyinya?

Bunyi lonceng yang kita dengar dari jam tersebut pada dasarnya adalah bunyi lonceng yang ada pada beberapa gereja di Inggris.  Dikenal sebagai “Westminster Chimes”  (lonceng-lonceng Westminster) yaitu irama lonceng yang bergema di Big Ben Tower – Westminster Abbey (Biara Westminster) London,  asalnya bunyi-bunyian ini justru  terpasang pertama kali di menara jam “University Church of St. Mary”  di Cambridge – Inggris  kemudian menyebar ke berbagai gereja seperti Leicester Cathedral  hingga eropa dan amerika, dan bahkan bukan hanya di gereja tetapi juga  ke berbagai masjid di Indonesia melalui jam grandfather’s clock.  Sangat disayangkan, bunyi-bunyian lonceng gereja dapat bergema di dalam masjid termasuk ketika sholat berjama’ah sedang berlangsung sekalipun.

Asal Muasal Adzan

Pada awalnya di tahun pertama hijriah, kaum Muslimin tidak mempunyai isyarat atau tanda untuk menentukan waktu shalat atau memanggil umat untuk berkumpul. Kemudian di antara kaum Muslimin ada yang mengusulkan untuk meniru cara orang kafir yang mana sebenarnya Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wasallam tidak menyukai sikap tasyabbuh (meniru) orang-orang kafir.

Kaum Muslimin pada masa pertama datang ke Madinah berkumpul tanpa ada tanda atau isyarat. Suatu ketika mereka berbicara tentang hal itu. Sebagian dari mereka ada yang mengusulkan lonceng seperti kaum Nashrani, dan ada juga yang mengusulkan terompet seperti yang dimiliki kaum Yahudi. Lalu Umar berkata, ” Mengapa kita tidak menyuruh seseorang untuk memanggil ketika masuk waktu shalat? Lalu Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam berkata,”Wahai Bilal, bangkitlah dan serulah untuk melaksanakan shalat.” (Hadits shahih riwayat Al Bukhari No. 604 dan Muslim No.377).

Abdullah bin Zaid berkata: Pada suatu malam ketika aku tidur, tiba-tiba aku bermimpi. Ada seorang laki-laki yang mengenakan pakaian hijau, mengelilingi aku sedang ditangannya ada lonceng yang dibawanya. Lalu aku bertanya: Hai Hamba Allah! Apakah lonceng ini akan kamu jual? Ia menjawab: Akan kamu pergunakan untuk apa? Aku menjawab: Akan kupakai untuk memanggil orang untuk sholat. Ia bertanya lagi: Maukah engkau, kutunjukkan yang lebih baik dari itu? Aku menjawab: Baiklah. Ia menjawab: Yaitu hendaklah engkau berkata: ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR,  ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH, ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH,  ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH, HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALAL FALAH, HAYYA ‘ALAL FALAH, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLAAH

Kemudian di waktu pagi aku datang kepada Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam untuk menceritakan kepadanya apa yang aku impikan itu. Kemudian Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda: Sesungguhnya mimpi kamu itu adalah mimpi yang benar, Insya Allah. Kemudian Nabi memerintahkan adzan. Maka Bilal, beradzan dengan lafal-lafal itu. Dan menyeru untuk sholat. (Hadits hasan riwayat  Abu Dawud No. 499, At-Tirmidzi No. 189, Ibnu Majah No.706.)

Kesimpulan

Bercermin dari asal muasal disyariatkannya adzan dan sikap beliau – Shollallaahu ‘alayhi wasallam – dalam mengingkari perbuatan meniru tradisi kaum di luar Islam, maka sudah sepantasnya kita pun bersikap sebagaimana panutan kita, Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wasallam –  dengan menghindari bunyi-bunyian lonceng baik di Masjid ataupun rumah kita. Bila memang tanpa sengaja telah terdapat di sana dan sulit untuk disingkirkan, maka setidaknya kita dapat menghilangkan bunyi lonceng tersebut dengan memanggil ahlinya atau dapat pula mengikat jadi satu beberapa besi memanjang yang terletak di dalamnya sehingga tidak dapat bergetar / menimbulkan bunyi yang – insya’ Allah – akan  menyelamatkan aqidah kita dan menjaga kekhusyu’an dalam ibadah.  Beberapa dalil di atas secara khusus telah menetapkan adzan sebagai isyarat untuk menentukan waktu shalat dan memanggil umat ke Masjid. Tentunya penggunaan isyarat lain yang sejenis dengan lonceng dan terompet seperti dhak (beduk) yang pada awalnya ditabuh  oleh umat Hindu sebagai bagian alat bakti untuk menyediakan sajian dan pujian  kepada dewa-dewa (lihat: Parasit Akidah, hal. 56)  jelas menyelisihi sunnah Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wasallam sebagaimana tersebut di atas. Dalam banyak kesempatan untuk menjelaskan suatu syariat, Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda dengan kalimat perintah agar menselisihi umat lain seperti:  “….berbedalah dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani!“, “….berbedalah kalian dengan penampilan kaum musyrikin!“, “……berbedalah kalian dengan penampilan kaum majusi….!”  Dan sebagainya.

Wallaahu ‘alam.

Video lonceng gereja St. Mary (bandingkan nadanya dengan Grandfather’s clock)

Video lonceng gereja St. Nicholas

%d bloggers like this: