Lagi-Lagi Valentine’s Day

Valentine’s Day atau sering diterjemahkan secara menyesatkan sebagai “Hari Kasih Sayang” telah menjalar kemana-mana. Penulis yakin sebagian besar dari kita telah mengetahui apa dan bagaimana Hari Valentine itu. Berbagai tulisan mengenainya telah banyak ditulis tetapi entah mengapa selalu saja ada ‘pemain lama’ (baca: orang tua) yang belum faham hukumnya merayakan Hari Valentine dan bahkan menularkannya ke ‘pemain baru’ (baca: anak-anak mereka).

Namun seiring dengan syiar Islam, maka Industri dan pedagang pun menggencarkan promosi mereka untuk mengajarkan kebiasaan sesat ini kepada pelanggannya. Penjual pakaian berwarna merah / pink, industri rumahan pembuat coklat berbentuk hati, hingga pengusaha padat modal seperti penyelenggara telekomunikasi selular yang mengiming-imingi biaya sms ucapan “happy valentine” secara murah yang sebenarnya menguntungkan perusahaan karena akibatnya akan banyak sms-sms berseliweran entah untuk reply atau ikut-ikutan memforwardnya ke orang lain lagi. Bayangkan efek perkaliannya dari satu sms saja – benar-benar cara mencari untung yang sangat mudah walaupun dengannya telah membodohi umat dan menjauhkan umat Islam dari syariat.

Bagi yang merayakan, mereka akan sibuk membuat kartu-kartu, sms-sms, menyiapkan bunga-bunga atau juga hadiah-hadiah mulai dari yang sederhana hingga yang berharga mahal. Untuk apalagi semua itu dilakukan jika bukan karena ingin mengungkapkan rasa cinta mereka kepada ‘kekasih’ atau ‘pasangan’ mereka. Mereka mau menyibukkan diri mereka dengan kegiatan tersebut terlebih bagi yang sedang mengincar wanita atau pria idaman mereka, menurut mereka, “inilah kesempatan buat ‘nembak’ si doi,” alias punya alasan untuk menyatakan cintanya kepada calon pasangan mereka itu.

Hari Peringatan yang diimpor dari barat ini, telah menjangkiti sebagian besar remaja Muslim di Indonesia bahkan juga orang-orang yang sebenarnya telah cukup dewasa. Memang jika dipikir-pikir tidak ada salahnya menyatakan cinta kepada orang yang disayangi tetapi tentunya bagi umat Islam perlu diteliti dahulu sebelum ikut-ikutan merayakannya.

Sejarah Valentine

Ada beberapa versi mengenai asal usul Valentine’s Day, dan ternyata semuanya jauh dari perilaku yang Islami.

Versi kesatu: St. Valentine dan Santo Marius adalah nama pemimpin agama Katolik yang menentang peraturan larangan menikah yang dikeluarkan oleh raja Claudius II Ghoticus (268 – 270 M) yaitu bagi prajurit- prajuritnya agar mereka menjadi agresif dan berpotensi dalam berperang. Diam-diam kedua orang ini tetap menikahkan para prajurit hingga akhirnya diketahui raja dan dihukum mati. Selama menunggu hukuman, Valentine sempat menjalin cinta dengan seorang gadis anak sipir penjara dan sebelum dihukum sempat menuliskan kata-kata “from your valentine.” Hal ini terus dikenang oleh masyarakat dengan merayakannya pada tanggal 14 Februari, hari kematian St. Valentine. Dua ratus tahun kemudian, Paus Galasius I meresmikan perayaan tersebut menjadi perayaan resmi gereja (Britannica Encyclopaedia).

Versi kedua: Pada jaman Romawi kuno, tanggal 14 Februari adalah hari mencari jodoh dimana saat itu mereka memperingati dewi Juno, mereka mengambil botol-botol berisi kertas yang telah dinamai dengan nama- nama para gadis secara acak. Bila mereka merasa cocok, maka akan dilanjutkan dengan pernikahan. Kemudian gereja mengadopsi hari perayaan ini agar lebih mendekatkan masyarakat paganis (penyembah dewa-dewa) kepada agama Nasrani.

Kemudian masyarakat barat merayakan hari itu sebagai hari untuk mengungkapkan cinta kasih mereka kepada orang yang mereka sayangi. Kepada orangtua, teman, dan tentu saja kepada kekasih atau calon kekasih mereka. Jika kepada orangtua, istri/suami atau kerabat mereka rayakan dengan memberikan kartu-kartu atau hadiah-hadiah, maka kepada teman maupun kekasih, mereka juga mengungkapkannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan pesta, hura-hura, sentuhan, peluk dan cium hingga bahkan perzinaan atas nama cinta dan kasih sayang. Semua itu dianggap sah-sah saja oleh masyarakat barat yang memang menganggap perzinaan bukanlah suatu kegiatan melanggar hukum atau norma-norma umum masyarakat di negeri kaum kuffar karena itulah definisi cinta dan kasih sayang buat mereka.

Bagaimana menurut pandangan syariat?

Mari kita tinjau menurut syariat Islam bagaimana hukumnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan merayakan Valentine’s Day. Dari sisi sejarah asal muasalnya maka kita melihat bahwasanya peringatan itu merupakan perayaan yang resmi untuk diibadahi oleh umat Nasrani. Juga telah dijelaskan bahwa perayaan tersebut sebelumnya diperingati oleh kaum penyembah berhala (dewa-dewa) sehingga jelas mempunyai keterkaitan dengan kepercayaan yang bersifat syirik.

Islam adalah agama yang sangat menjaga kemurnian aqidah penganutnya dari noda-noda kesyirikan,

artinya: “Apakah mereka mempunyai sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diidzinkan oleh Allah.” (QS. Asy-Syuro: 21)

dan menjauhi kegiatan ibadah yang tidak diperintahkan (bid’ah) dalam Al-Qur’an dan Sunnah,

artinya: “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wasallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap perkara yang diada-adakan dalam agama adalah sesat.” (HR. Muslim).

serta mendorong manusia untuk berbuat baik dan mencegahnya dari perbuatan-perbuatan yang munkar,

artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Dalam suatu hadits shahih:

artinya: Dari Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata”Aku mendengar Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.” (Hadits riwayat Muslim No.49, Ahmad (III/10), Abu Dawud No. 1140 dan lain-lain).

Sebagaimana pula Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wasallam telah menjelaskan hari-hari raya bagi umat Islam dalam sabdanya:

artinya: Dari Anas radhiyallaahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Rasulullaahu Shollallaahu’alayhi wasallam datang ke Madinah dan (pada saat itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang dipergunakan untuk bermain (dengan permainan) di masa jahiliyyah. Lalu beliau bersabda: ‘Aku telah datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (’Iedul Adha) dan hari fitri (’Iedul Fitri).” (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Abu Dawud).

Dengan demikian, para pengikut Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wasallam telah memiliki perayaannya sendiri dan tidak diperkenankan turut merayakan hari-hari perayaan umat agama lain karena perbuatan hal itu sangat mempengaruhi aqidah kaum muslimin, menjadikan ridho atas keyakinan agama di luar Islam atau setidaknya akan mendukung dan menyenangkan orang kafir sehingga semakin mantap dalam kesesatannya.

Dalam surah Al-Kafirun, Allah berfirman mengenai larangan untuk tidak mencampuradukkan agama yang haqq dengan agama musyrikin yaitu agar umat Islam tidak beribadah seperti orang kafir beribadah.

Katakanlah, hai orang-orang kafir!” Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”

Wahyu di atas turun berkenaan dengan tawaran kaum kafir Quraisy yang meminta Nabi Shollallahu ‘alayhi wasallam untuk menyembah berhala mereka selama setahun dan mereka pun akan menyembah Rabb beliau selama setahun pula secara bergantian asalkan beliau mau menghentikan da’wah Islam. Dan turunlah wahyu yang memerintahkan beliau untuk menolaknya dengan mengatakan sebagaimana di dalam surah Al-Kafirun tersebut (Lihat tafsir Ibnu Katsir).

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”. (HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (4031) dan Ahmad dalam Al-Musnad (5114, 5115, & 5667), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (19401 & 33016), Al-Baihaqiy dalam Syu’ab Al-Iman (1199), Ath-Thobroniy dalam Musnad Asy-Syamiyyin (216), Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihab (390), dan Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (848). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr (24)).

Bentuk Perayaan

Dilihat dari sisi perayaannya itu sendiri maka kegiatan-kegiatan Valentine’s Day yang dimpor dari negara-negara non Muslim jelas-jelas bertentangan dengan akhlak dan perilaku yang islami. Pada saat-saat perayaan itu, para wanita dan pria berpesta ria, hura-hura dan menghalalkan bercampur-baurnya antara pria dan wanita non mahrom yang bukan menjadi haknya, bukan itu saja mereka pun menghalalkan kholwat yaitu berduaan apakah itu dengan cara berdiam di suatu tempat atau bepergian dengan pasangannya yang bukan suami/istri atau mahromnya. Ini semua adalah perbuatan yang menjurus kepada perbuatan zina padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah melarangnya sebagaimana firman Allah di dalam surat Al-Israa’ ayat 32:

artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu pebuatan keji. dan suatu jalan yang buruk.

Adapun Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda untuk mengingatkan kita tentang adanya bagian perbuatan zina pada hal-hal yang mendekatinya yaitu::

Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah, dan mulut berzina dan zinanya adalah mencium.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud).

Dalam riwayat lain,

artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shollallaahu ‘alayhi wasalaam bersabda:“Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar nasib setiap manusia untuk berzina yang pasti akan dikerjakan olehnya dan tidak dapat dihindari. Zina kedua mata adalah memandang, zina lisan (lidah) adalah mengucapkan, sedang jiwa berharap dan berkeinginan, dan kemaluanlah yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu.(Hadits shahih riwayat Muslim No.6422)

Allah memerintahkan kita untuk patuh kepada Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam sebagaimana firman Allah:

artinya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur:63).

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr: 7)

Semoga umat Islam khususnya para remaja dapat menyadari bathilnya perayaan “Valentine’s Day” dan kemudian memahami dan menghindarkan diri dari kegiatan-kegiatan yang tidak diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala
Islam tidak mengingkari adanya perasaan kasih sayang dan bahkan syahwat, namun kesemuanya itu telah diatur dengan sebaik-baiknya oleh syari’at agama mulia ini. Dalam Islam, cinta dan kasih sayang haruslah diungkapkan dalam hubungan antar manusia yang dihalalkan seperti seorang suami kepada istrinya dan juga bukan sesuatu hal yang harus dirayakan dalam satu waktu tertentu untuk mengungkapkannya, karena kasih sayang dalam Islam tidaklah dibatasi oleh waktu.

Abu Bakar as-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada pasukan Usamah bin Zaid sebelum berperang, “Janganlah kalian bunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil. Jangan pula kalian kebiri pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang pepohonan yang berbuah. Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak berdaya, biarkanlah mereka, jangan kalian ganggu.”

Betapa Islam mengajarkan kasih sayang terhadap manusia dan tumbuh-tumbuhan bahkan dalam situasi berperang sekalipun.
Billahi tawfiq wa sholawaatu ‘ala Nabiyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa as-habihi ajma’in. (Ibnu AQ)

%d bloggers like this: