10 hal yang sering dilupakan kaum pria

Kaum pria mempunyai tugas utama sebagai pencari nafkah di suatu keluarga. Oleh karenanya pria juga biasanya mempunyai kedudukan khusus di dalam keluarga karena tanggung jawabnya sedemikian besar dalam memberikan nafkah dan mendidik keluarganya. Itulah mengapa dikatakan bahwa pria adalah penegak (qowwam) kaum wanita dan juga pemimpin di suatu keluarga yang bertanggung jawab atas keselamatan anggota  keluarganya  di dunia dan akhirat.

Namun kedudukan yang berat tersebut terkadang tidak membuat mereka lebih perhatian terhadap beberapa hal yang seharusnya mereka  harus kerjakan dan juga tidak kerjakan/jauhi.  Apa sajakah itu?

Berikut ini adalah 10 hal yang sering terlupakan oleh kaum pria sebagai suami atau sebagai ayah: 

1. Tidak melakukan sholat fardhu berjama’ah di masjid padahal tidak ada penghalang/uzur. Sebagian besar kaum pria melakukan sholat fardhu di rumahnya atau di ruangan kerjanya di kantor-kantor. Ini dapat kita saksikan dengan membandingkan jumlah jama’ah sholat Jum’at dan Shalat Fardhu selainnya. Padahal kewajiban tersebut telah tetap berdasarkan dalil-dalil, yang artinya:

Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukulah bersama orang-orang yang ruku” (QS. Al-Baqarah : 43).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang pria buta berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya keringanan untuk shalat di rumahku ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya. “Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat ? ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah” (Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang pria untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang pria dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut” (Al-Bukhari, kitab Al-Khusumat 2420, Muslim, kitab Al-Masajid 651).

Walaupun keinginan Rasulullah untuk membakar rumah orang-orang yang tidak mau shalat di Masjid di atas tidak pernah beliau jalankan, namun hal tersebut tidak berarti menghilangkan wajibnya shalat fardhu di masjid. Dari dalil-dalil tersebut jelas menunjukkan bahwa sholat wajib telah diperintahkan untuk dilakukan secara berjama’ah terkecuali adanya uzur.

2.  Menggunakan cincin emas, pakaian dari sutra dan mencukur janggut . Terkadang karena ketidaktahuannya, seorang pria menggunakan cincin, kalung, jam tangan, gelang atau lainnya yang terbuat dari emas. Padahal seorang pria dilarang menggunakannnya sebagaimana hadits riwayat Abdu Dawud No.4057 dan Nasa’i 8/160, yang artinya :

“Dari Ali Radhiyallaahu ‘anhu Aku melihat Rasulullaahu Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanan, dan mengambil emas lalu dipegangnya dengan tangan kiri, lalu bersabda, “Dua benda ini haram bagi pria dari kalangan umatku.

Jadi jelas emas entah dalam bentuk perhiasan maupun yang dikenakan sebagai pelengkap seperti lencana maupun kacamata diharamkan bagi kaum pria. Sedangkan mengenai sutra, ini berlaku pula untuk penutup kepala dan sesuatu yang diduduki di atasnya seperti sajadah. Coba periksa kembali diri kita, apakah tanpa sadar kita masih menggunakannya?

Demikian pula halnya dengan janggut.  Kaum Muslimin saat ini  malas memelihara janggut padahal telah ada perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya:

dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda  “Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot memanjang, selisihilah orang-orang Majusi” (Hadits Riwayat Muslim, kitab Ath-Thaharah 260,  Shahih).

3. Menyepelekan masalah menutup aurat. Sebagian kaum pria menganggap perkara menyembunyikan aurat dari pandangan orang-orang yang selain mahram adalah perkara khusus yang diwajibkan bagi kaum wanita saja. Mereka meminta istri mereka bercadar atau setidaknya hanya wajah dan telapak tangan saja yang terlihat. Padahal, kewajiban menutup aurat bukan hanya khusus bagi kaum wanita saja. Tidak sepenuhnya salah, karena secara kodrati kaum wanita memang mempunyai daya tarik lebih banyak bagi kaum pria dibandingkan sebaliknya, itulah mengapa Allah Subhaanahu wa ta’ala memerintahkan kaum wanita menutup hampir seluruh tubuh mereka. Namun  Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wasallam juga telah bersabda tentang batasan aurat bagi kaum pria, yaitu, yang artinya:

Apa-apa yang ada di pusar sampai lutut adalah aurat.” (Hadits Riwayat Ahmad dan ad-Daruquthni, status Hasan – lihat al-Irwa’)

Kita melihat di sekitar kita banyak pria berolah raga dengan pakaian bebas, bercelana pendek tanpa baju atasan bermain bola, lomba panjat pinang atau lainnya. Entah sadar atau tidak, tetapi syariat tetap menentukan batas-batas anggota tubuh yang boleh terlihat oleh lawan jenis atau bahkan sejenis . Tidak beda dengan kaum wanita, maka aurat tetaplah sesuatu yang perlu ditutupi baik kulitnya, bentuknya maupun sekedar bayangannya yaitu dengan cara menggunakan pakaian yang longgar dan cukup tebal untuk tidak menerawang dibalik cahaya. Namun terkadang seseorang masih berbaju terlalu pendek dan bercelana dengan ban pinggang rendah, akibatnya ketika ia ruku’ dan sujud dalam sholat lantas tampaklah pinggulnya. Termasuk pula belum dikatakan sempurna menutup aurat bila baju dimasukkan ke dalam celana yang karenanya terpampanglah bentuk aurat bagian belakangnya.

4. Menggunakan pakaian yang tidak syar’i baik berupa sarung (izhar), celana atau gamis / baju panjang yang melebihi mata kaki (isbal). Hadits berikut menjelaskan larangan melakukan hal tersebut, yang artinya:

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat!” Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah, sarungku sering melorot kecuali bila aku menjaganya!” Rasulullah menjawab, “Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.“(Hadits Shahih Riwayat Bukhari No.5784)

Sebagian orang yang isbal menyatakan dirinya menggunakan celana atau pakaian seperti itu karena menafsirkan hadits riwayat Bukhari tersebut di atas dengan diperbolehkan isbal asalkan tidak dengan sombong. Padahal jelas dalam muatan teksnya bahwa shahabat Abu Bakar Radhiyallaahu ‘anhu pada dasarnya tidak berpakaian dengan isbal, tetapi karena keadaanlah yang terkadang menjadikannya demikian (beliau dikenal sebagai seorang yang berperawakan kurus dan izharnya sering turun/melorot).

5. Malas menuntut ilmu agama. Sebagian kaum pria menyibukkan diri dengan mencari rizki dan mencari ilmu duniawi. Karena tuntutan pekerjaan atau untuk meningkatkan kemampuan dalam urusan duniawi banyak kaum pria mengabaikan belajar ilmu syar’i. Mereka berdalih kewajiban mereka mencari naftkah telah menyibukkan diri mereka sehingga tidak ada waktu yang terluang dan jikapun ada maka mereka memerlukannya untuk ‘refreshing’ sekedar melupakan kepenatan setelah sekian lama bekerja. Jamak kita lihat sekarang ini, tumbuhnya banyak majelis ta’lim kaum ibu di berbagai tempat sementara kaum bapak ikut dalam majelis tahrim (haram) yaitu hura-hura di cafe-cafe atau lainnya sehingga terkadang terjadi ketimpangan pengetahuan agama di rumah. Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wasallam, bersabda, yang artinya:

dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda .“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (Hadits shahih riwayat Ibnu Majah No. 224).

Maka Allah Subhaanahu wa ta’ala pun menjanjikan surga bagi para penuntut ilmu:

Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya.” (Hadits shahih riwayat Ahmad (V/196), Abu Dawud No. 3641, at-Tirmidzi No. 2682 dan lainnya).

6. Tidak mendidik keluarganya dengan baik. Mendidik anak-anaknya memang tugas seorang ibu di rumah namun bagi seorang ayah mendidik keluarganya adalah sebuah tanggung jawab besar..

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat di atas menjadi dasar wajibnya seorang ayah memerintahkan perbuatan ma’ruf / baik dan mencegah perbuatan munkar di keluarganya. Mengajarkan kepada keluarganya untuk taqwa kepada Allah Sub-haanahu Wa Ta’ala,. Menjaga kebersihan aqidah keluarga dari pemikiran dan perbuatan yang menyekutukan Allah Sub-haanahu Wa Ta’ala dengan menjauhi perbuatan musyrik seperti ramalan, perdukunan dan keyakinan-keyakinan yang menyimpang jelas. Juga tegaknya ibadah anggota keluarganya yang berdasarkan tuntunan dan telah dicontohkan oleh Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam serta tumbuhnya kesadaran untuk berakhlak mulia di antara anggota keluarganya dengan menutup aurat, menjauhi perbuatan zina dan perbuatan yang mendekatinya seperti berpacaran, dan lain sebagainya. Kesemuanya adalah tugas seorang ayah dalam menyelamatkan keluarganya dari api neraka – dengan menghindari perbuatan dosa – yang tidak bisa tidak caranya harus dengan mendidik mereka untuk terbiasa menjalani kehidupannya berdasarkan syariat..

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallaahu ‘anhuma, Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda:, yang artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabannya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang amir yang memimpin manusia, ia memimpin mereka dan akan diminta pertanggungjawabannya tentang mereka, seorang pria pemimpin atas keluarganya dan ia akan diminta pertangungjawabannya tentang mereka, dan seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya, dia akan diminta pertanggungjawabannya tentang mereka dan seorang budak pemimpin atas harta tuannya dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadapnya, ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya” (Hadits shahih riwayat Bukhari No. 2554 dan Muslim No. 1829)

7. Tidak mau membantu istri dalam mengurus rumah. Sebagian besar kaum pria menganggap pekerjaan dirinya adalah mencari nafkah di luar rumah dan istri bertugas mengurus semua urusan di rumah suami mulai dari mengurus anak, memasak, mencuci hingga mengurus kebersihan rumah. Hal ini dapat dibenarkan namun tidak berarti para suami boleh membebankan semuanya kepada istri.

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah?”  Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat.” (Hadits riwayat Bukhari No. 676, 5363)

Dalam satu riwayat lain, “Beliau mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya, dan menjahitnya.” (Hadits riwayat Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 540, dishahihkan oleh Al-Albani Rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 419 dan Al-Misykat no. 5822)

Para suami sudah seharusnya membantu istri dalam mengurus rumah tangganya, Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam telah mencontohkan hal itu dan beliau adalah sebaik-baik teladan bagi orang beriman. Dan jikalah memang dibutuhkan seorang pembantu bagi istri, maka carilah seorang wanita shalihah dimana dengan itu ia menjadikan dirinya amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan keluarga yang dibantunya.

8. Memamerkan istri atau anak wanitanya.  Beberapa suami ada yang sangat bangga dengan istri dan anaknya, entah bangga dengan kecantikannya, kepandaiannya, atau hal lainnya. Beberapa suami bahkan mendandani dan senang bila istrinya tampil bersamanya dengan pakaian yang ‘sedikit’ terbuka sehingga tampak ‘wah’ di mata kaum pria yang bukan mahram. Malahan ada pula yang senang menceritakan apa-apa yang sangat pribadi yang terjadi antara dirinya dan istrinya. Padahal Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda, yang artinya:

Seburuk-buruk kedudukan manusia di hari kiamat, yaitu pria yang bergaul dengan istrinya lalu salah satunya memberitahukan rahasia pasangannya. (Hadits Riwayat Muslim No.1437, At Targhib wat Tarhib).

Kebanggaan seperti ini jelas salah kaprah. Mengajarkan istri dan anak wanita untuk tabarruj (memamerkan kecantikan dan auratnya) jelas terlarang dan telah disebutkan dalam surah An-Nuur: 31, Al-Ahzaab: 33, 59 dan hadits-hadits shahih. Demikian pula menceritakan secara detil mengenai keadaan istrinya jelas menjadi boomerang. Kaum pria yang melihat mereka atau mendengarnya terlebih yang kurang memiliki iman di dadanya akan menjadi senang karena dimudahkan untuk memuaskan pandangannya serta khayalannya.

Dari Abdullah Ibn. Amr, Rasulullah bersabda, yang artinya:

“Dunia itu adalah perhiasan, sebaik baik perhiasan adalah wanita yang shalihah. (Hadits shahih riwayat Muslim No. 3465).

Oleh karenanya ajarkanlah istri dan anak wanita menjadi wanita shalihah sehingga ia disegani dan tidak dianggap sebagai perhiasan ‘murahan’.

9. Kurang berlemah lembut kepada keluarganya. Banyak kaum pria lupa untuk bersikap lemah lembut. Hal ini mungkin karena terinspirasi dengan kisah-kisah kepahlwanan seorang pria pejuang dan keras hati. Sungguh baik untuk menjadi ksatria tetapi sesungguhnya seorang ksatria adalah seorang yang mempunyai keteguhan jiwa sekaligus kelembutan dan kasih sayang terhadap orang lemah. Lemah lembut inilah yang terkadang terlupakan bahkan untuk keluarganya sekalipun.

Nabi Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda, yang artinya:

“Orang-orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (Hadits Shahih riwayat At-Tirmidzi No.1162, lihat Shahih Sunannya – Al Albaany)

Beliau juga sangat menyayangi anak kecil. Pernah suatu kali beliau mencium cucu beliau Hasan ibn Ali yang saat itu tradisi masyarakat tidak pernah melakukannya. Kemudian Al-Aqqra ibn Haabs berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium seorangpun dari mereka.” Lantas Nabi Shollallaahu ‘alayhi wasallam berkata, “Barangsiapa yang tidak menyayanginya maka iapun tidak akan disayangi.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, lihat Riyadhus Shalihin – An Nawawiy).

“Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan berada pada sesuatu melainkan akan memperindah sesuatu tersebut dan tidaklah perangai ini dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya jelek.” (Hadits riwayat Muslim, lihat Riyadhus Shalihin).

Renungkanlah apa yang dikatakan oleh beliau, sebaik-baik pemilik akhlak mulia. Kasih sayang dan kelembutan memang menjadi karakter beliau tentunya tanpa harus menghilangkan sikap tegas dalam hal-hal tertentu. Terkadang kaum pria tidak suka dengan perilaku yang tidak patut dari keluarganya, maka bersabarlah sebagaimana Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

10. Mengabaikan orangtuanya. Ada seorang pria yang menjadi kepala keluarga tetapi ia sedemikian sibuknya bekerja sehingga ia tidak mempunyai waktu selain untuk dirinya dan keluarganya. Terkadang karena ketidakpeduliannya pula seorang pria tidak lagi memperhatikan orangtuanya, atau sebaliknya terkadang ada seorang pria yang hanya perhatian kepada kedua orangtuanya dan tidak memperdulikan orangtua istrinya.

Dari Bahz Ibn Hakim, dari ayahnya dari kakeknya mengatakan: Aku bertanya kepada Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam, “Kepada siapa aku harus berbuat baik?” Beliau menjawab: “Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu ayahmu, lalu kerabat yang terdekat dan terdekat.” (HR. Abu Dawud No.5139, Nasa’i No. 5/82, dan dihasankan oleh Tirmidzi No 1897 lihat At-Targhib).

Maka berusahalah untuk memenuhi hak-hak orangtua agar ridho Allah Subhaanaahu wa ta’ala selalu tercurah.

Semoga ada manfaatnya, Billahi tawfiq, wassalaamu’alaykum Warokhmatullaahi Wabarokatuh. (Ibnu AQ)

%d bloggers like this: