Memperingati Hari Raya (Umat Lain)

Di bulan ini umat nasrani menjalankan aktvitas keagamaan dengan lebih intensif lagi.  Bukan apa-apa memang pada bulan Desember umat nasrani memperingati hari lahirnya ’Isa Al-Masih’ atau yang lebih dikenal dengan Yesus Kristus yaitu setiap tanggal 25 Desember  yaitu Christmas Day atau Hari Natal.  Sebagai kelanjutannya, juga mereka melakukan ibadah malam serupa untuk menyambut datangnya tahun baru masehi.

Pada waktu-waktu ini, mereka bersama anak-anak mereka memancangkan pohon terang di rumah mereka yaitu pohon cemara baik asli maupun imitasi  yang mereka lengkapi dengan lampu warna-warni, bunga-bungaan kertas berwarna keemasan, dll.  sehingga menambah semaraknya nuansa keagamaan mereka  saat memperingati hari kelahiran tersebut.

Tidak lupa, anak-anak diminta menggantungkan kaus kaki di berbagai tempat agar ketika Santa Claus (Sinterklas, tokoh imajinasi)  datang membawa hadiah, ia dapat menaruhnya di situ.  Padahal hadiah datang dari orangtua masing-masing. Cukup ironis ketika perayaan agama dilakukan sambil ‘menipu’ anak-anak mereka.

Pada hari-hari itu terkadang ada saudara-saudara kita kaum Muslimin yang secara sadar turut memperingatinya entah dengan datang ke acara natal bersama, berkunjung ke tetangga yang merayakan, atau hanya sekedar mengucapkan selamat natal  dengan pesan singkat/sms.

Kontroversi

Mengenai siapakah sebenarnya Yesus (nama Isa dalam bahasa Yunani) sebenarnya telah memecah umat ini menjadi  2 kelompok yaitu penganut Unitarian (percaya 1 Tuhan dan Yesus sebagai utusan Allah) serta penganut Trinitas (percaya 3 Tuhan dan Yesus salah satunya).  Sebenarnya, penetapan secara resmi Yesus sebagai ‘tuhan’ barulah ditentukan pada tahun 325 M  saat Konsili Nicaea dan didukung kaisar Romawi yang Paganis yaitu  menyembah banyak dewa (Polytheist). Padahal sebelumnya banyak  pemuka agama nasrani  seperti a.l. Iranaeus, Tertulien, Origen, Diodorus, Lucius, Arius tidak pernah meyakininya sebagai Tuhan sesuai yang tercantum di dalam kitab suci mereka. Akhirnya mereka pun menjadi korban ‘pengucilan’ oleh kelompok lainnya.

Kewajiban Menjaga Aqidah

Sudah menjadi pengetahuan sebagian besar umat nasrani  bahwa Yesus  lahir pada tanggal 25 Desember.  Bulan dimana wilayah Palestina, tempat kelahiran Yesus, masih diselimuti dingin yang sangat menusuk, bahkan beberapa wilayah diliputi salju yang membeku.  Sudah menjadi keputusan  gereja pula bahwa Yesus adalah salah satu dari 3 oknum ‘Tuhan’ (Trinitas) yang mereka imani  yaitu Bapa, Anak dan Roh kudus.  Oleh karenanya wajar saja mereka memperingati hari kelahiran itu.   Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa peringatan tersebut sangat penting dalam keimanan umat nasrani.

Sebagai umat Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam, maka  kaum Muslimin mempunyai acuan dalam masalah keimanan.   Ini menjadi pagar aqidah agar kita tidak terperosok pada jurang kemurtadan yang mungkin saja tanpa pagar itu  kita hampiri dan kita dekati jurang itu.

QS. Al-Ikhlas (112) : 1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.”

Demikianlah Allah Sub-hanahu wa ta’ala  berfirman dalam Al-Qur’an, maka tidaklah pantas seorang Islam yang mengaku beriman mengakui pula adanya Tuhan selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ayat tersebut menunjukkan kewajiban untuk meng-esa-kan Allah atau dalam syariat disebut tauhid yang berasal dari kata “ wahhida – yuwahhidu – tawhid”.

Mengesakan ini tentunya berupa pengkhususan hanya kepada Allah jalla wa a’laa yaitu dalam hal:

    1. Tauhid Rububiyah, merupakan mentauhidkan segala apa yang dikerjakan oleh Allah, seperti antara lain meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menghidupkan, mematikan, memberi rizki dan penguasa alam semesta.
    2. Tauhid Uluhiyah, merupakan pentauhidan atas apa yang dikerjakan oleh manusia/hamba berupa taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah, berdoa, shalat, rasa takut (khauf), berharap (roja’), cinta (mahabbah), menyembelih qurban (dzabh), meminta pertolongan, perlindungan dan sebagainya. 

    3. Tauhid Asma wa Shifat, berupa penetapan atas apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan untuk diri-Nya, baik berupa Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dan as Sunnah (hadits). Menetapkan apa adanya tanpa di takwil (menyimpangkan dari arti sebenarnya), ta’thil (mengingkari sebagian atau keseluruhan Sifat Allah), Takyif (menerangkan tentang sifatNya tanpa dalil) dan tamsil (menyerupakan dengan makhluk).

Jadi tidaklah sempurna akidah seseorang bila tidak mentauhidkan semurni-murninya. Hal ini sebagaimana terjadi di jaman jahiliyah ketika orang Arab kala itu bertauhid rububiyah namun secara uluhiyah mereka juga beribadah kepada berhala-berhala. Tidak ada bedanya dengan orang-orang masa kini yang mengaku bahwa Allah adalah esa namun masih percaya adanya kekuatan dari jin, batu, pohon dsb.

QS. Al-Kahfi (18): 110: “..Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Nabi Isa ‘alayhissalaam

Sedangkan mengenai Isa alayhissalaam, beliau adalah seorang Nabi yang harus kita hormati, beliau merupakan salah satu Nabi yang memperoleh mukjizat besar yaitu proses penciptaannya tanpa  didahului oleh adanya suatu proses alamiah, yaitu perkawinan. Ia dilahirkan oleh ibunya yaitu wanita suci yang sholihah, Maryam Radhiyallaahu anha,   Sebagaimana kisahnya difirmankan dalam Al-Qur’an:

QS. Maryam (19): 20-21. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”  Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.

Bahkan kenabiannya pun dikatakannya sendiri  ketika  Maryam mempersilahkan kaumnya bertanya langsung kepada bayinya yang masih dalam buaian dan belum dapat berbicara.

QS. Maryam (19): 30. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi.”

Bahkan Allah katakan pula kepada orang-orang yang percaya kepada konsep Trinitas,

QS. An-Nisaa’ (4):157.  “..maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.”

Maka inilah pagar keimanan seorang Muslim dalam menanggapi hari raya umat Kristiani, yaitu tidak pernah ada sedikitpun terbetik  dalam hati maupun ucapan darinya yang menyekutukan Allah, Tuhan yang sesungguhNya pantas disembah, tidak mempunyai anak dan tidak pula diperanak-kan. Maha Suci Allah dari yang demikian.

Masalah Peringatan Kelahiran

Kelahiran Yesus tidaklah tercatat dengan jelas. Bahkan kitab suci yang mereka yakini pun mencatat berbeda dengan yang diyakini kaum Kristiani sendiri yaitu 25 Desember. Malahan, ada juga umat Kristiani yang memperingati natal pada tanggal 6 Januari.  Bahkan para ahli astronomi juga menemukan bahwa tahun kelahiran Yesus yang ditandai adanya bintang terang tidak tercatat dengan benar. Bintang terang yang terjadi karena sejajarnya posisi planet Jupiter dan Saturnus  merupakan siklus 2000 tahunan dan terlihat kembali pada 15 September tahun 1993.  Jadi darimana umat nasrani mengenal Natal?

Adalah Herbert W. Armstrong, seorang Pastur Worldwide Church of God dari Amerika Serikat yang dengan cerdas meneliti dan menuliskannya dalam bukunya “The Plain Truth of Christmas”.    Dalam bukunya tersebut dengan jujur ia menyatakan bahwa peringatan Natal diadaptasi dari kaum paganis Romawi, penyembah banyak dewa.  Dan bagi kita umat Islam, bila Yesus atau Isa alayhissalaam memang diketahui tanggal kelahirannya, maka Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah mengajarkan untuk memperingatinya sebagaimana tidak pula terhadap hari lahir dirinya.  Lantas untuk apa kita meniru-niru? Rasululloh Shollallaahu ‘alayhi wa sallam sendiri telah bersabda:

“Siapa yang meniru suatu kaum maka ia termasuk kaum itu.” (HR. Ahmad No.4868, Shahih)

Jadi bila ada umat Islam yang ikut-ikutan mengucapkan “Selamat” Hari Natal, maka selain tidak berdasar, hal tersebut jelas bertentangan dengan aqidah kita karena langsung maupun tidak langsung berarti kita mengakui dan ridho untuk menyekutukan Allah dengan sesuatu lainnya. Setidaknya membiarkan orang lain tambah mantap dalam kesesatannya.  Na’udzubillaahi min dzalik.  Semoga Allah mengampuni ketidaktahuan kita yang telah lalu dan semoga petunjuk Allah bagi kita semua.

Wallahu a’lam bishshowab.

%d bloggers like this: