Dukun berselimut teknologi

Jaman sekarang adalah jaman kemajuan teknologi.  Maka tidak mengherankan para dukun mistik pun (termasuk peramal, pengobat alternatif, pemijat/urut dan penasihat spiritual) berupaya menyelimuti praktek perdukunannya  dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perdukunan Gaya Modern

Perdukunan dengan praktek tradisional berupa bau kemenyan, kembang tujuh rupa,  maupun keris bertuah  mulai ditinggalkan orang karena terkesan syirik banget, atau kuno banget. Para dukun menyadari bahwa saat ini semakin banyak masyarakat yang terdidik dengan baik dan mulai faham mengenai agama sedikit-sedikit.  Yang pertama kali dilakukan adalah dengan mengganti istilah. Dukun klenik berubah panggilan menjadi Paranormal. Bila ia dukun yang mengobati penyakit maka diganti menjadi Ahli Pengobatan Alternatif.  Demikian pula dengan ritualnya.  Bila dulu si pasien harus menjalani ritual-ritual yang agak kuno seperti ‘kungkum’ (berendam) di sungai tertentu atau di sendang malam hari, atau ‘puasa mutih’ yang hanya makan nasi, atau ‘ngebleng’ dengan cara semedi tidak boleh melihat cahaya, atau ‘diruwat’ dengan memberi sajian kepada dewa Betara Kala untuk menghilangkan bencana, atau ‘menginjak mushaf al-Qur’an’  untuk mendapatkan kesaktian, atau malahan ‘ritual zina’ seperti di Gunung Kemukus yang biasanya untuk mencari kekayaan,  maka kini para dukun menghapus ritual-ritual ‘serem’ dan menggantinya dengan gaya hi-tech misalnya melalui SMS atau televisi sehingga terasa mudah.

 

 

 

Mereka yang ‘agak modern’ mulai membungkus ilmunya dengan sedikit teknologi untuk semakin memantapkan pengaruhnya, maka para dukun juga memberikan berbagai istilah atau sebutan terhadap kemampuannya dengan istilah canggih  seperti misalnya, keris yang di’isi’ untuk perlindungan si pemakai disebut sebagai benda yang mengandung ‘medan energi’ padahal benda tersebut pada hakikatnya isinya jin.  Mengobati jarak jauh dengan mengirim jin kepada si sakit diistilahkan dengan ‘transfer energi’.  Memasang ‘susuk’ yaitu  benda-benda kecil semacam jarum emas, inten kusuma atau lainnya di tubuh pasien agar ia tampak menarik dan berwibawa diistilahkan dengan  ‘membuka aura’ atau ‘membangkitkan energi positif’.    Menyihir orang untuk mempengaruhi pikiran dan pandangan si pasien dinamakan “Hypnotherapy” dan berbagai istilah lainnya.  Untuk menutupi aktifitas mereka dalam ‘pengisian’ tersebut, terkadang mereka seolah-olah melakukan pijatan atau urut yang sebenarnya sedang memindahkan  si ‘energi’ tadi ke tubuh si pasien.

Padahal orang yang mempunyai pengetahuan sedikit saja mesti tahu bahwa istilah-istilah tersebut dibuat-buat atau di pas-pasin. Contoh, istilah transfer energi dari si paranormal kepada si pasien.  Definisi energi yaitu: ‘Kemampuan untuk melakukan usaha/aksi’.   Lantas energi tubuh yang bagaimana yang bisa dikirim jarak jauh ke orang lain untuk mengobati atau mempengaruhinya? Bagaimana caranya seorang mentransfer energinya ke orang lain, kemudian si ‘energi’ masuk ke tubuh orang itu dan mencari sumber penyakit, mengobatinya dan sebagainya, sulit masuk diakal bukan? Oleh karenanya istilah-istilah berbau teknologi dalam masalah gaib memang sulit bisa dijelaskan  karena sudah di luar akal manusia.

Banyak juga yang tertipu dengan sebutan olah raga berupa senam pernafasan yang terkadang rawan disusupi ‘pengisian’ diri dengan istilah menarik energi yang ada di sekitar tempat latihan melalui konsentrasi pikiran hingga tercapai ‘hening’  alias kosong pikiran.  Tujuannya terkadang hanya untuk sehat, tetapi sering ada efek sampingnya berupa tenaga metafisik yang dapat menjatuhkan orang dari jarak jauh, mematahkan besi atau memukul lawan hingga semaput.  Dalam latihannya pun sering kita jumpai ritual-ritual yang bid’ah berupa membaca doa-doa, wirid atau dzikir Asma ul Husna sambil menarik napas dalam-dalam dan menahannya beberapa saat atau sambil melakukan gerakan-gerakan silat atau isyarat-isyarat yang banyak meniru dari agama Hindu atau Budha.  Jelas ritual ini bid’ah / tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam dan oleh karenanya hal itu menyalahi/menyelisihi tata cara ibadah yang disunnahkah/dicontohkan oleh beliau.

Merasa Mendapat Mukjizat, Karomah atau Indra Keenam

Selain yang memperoleh ‘ilmu’ nya melalui tirakat atau usaha, maka ada juga orang-orang yang tiba-tiba saja mendapat ‘kemampuan lebih’ dari orang biasa.  Ada yang tiba-tiba bisa melihat makhluk ghaib, ada yang tiba-tiba bisa meramal atau mengobati orang sakit.  Mereka yang memperoleh itu merasa itu adalah anugrah yang diberikan oleh Tuhan.  Seperti seorang wanita peramal yang sering muncul di televisi, ia mengatakan bahwa ia mendapatkan ilmu meramal dari Tuhan. Padahal tidak demikian adanya, justru disinilah peran jin beraksi, memberikan sesuatu yang tidak diminta sehingga mereka merasa mendapat mukjizat dan sebagainya.  Masih berkaitan dengan pencampuran dunia gaib dan ilmu pengetahuan, ada anak yang bisa meramal atau lainnya diberi istilah keren, ‘anak indigo’. Ini dikaitkan dengan warna aura si anak yang tertangkap oleh kamera khusus (ditemukan oleh Prof. Kirlian dari Rusia) dimana warna ini (indigo yaitu biru menuju violet) dianggap warna aura yang jempolan. Professor itu menemukan kamera untuk melihat aura yaitu aktifitas listrik di sel-sel syaraf manusia yang sangat kecil sekali tegangannya. Dari aktifitas listrik itulah timbul warna-warna cahaya tertentu berkaitan dengan suasana hati, kondisi fisik, pikiran dan lainnya. Sampai di sini masih mungkin masuk di akal, tetapi menjadi tidak masuk akal ketika orang mencoba membalikkan hal itu yaitu merubah warna yang kelam menjadi warna yang dianggap aura jempolan alias menjadikan warna aura sesuai dengan keinginan agar diperoleh kemampuan tertentu. Ingin sakti atau ingin sehat maka warna auranya dirubah menjadi warna lain dengan cara-cara yang ujung-ujungnya mistik lagi-mistik lagi.

Istilah keren lain bagi kemampuan supranatural adalah indra ke-enam  yang terletak pada cakra mata ketiga menurut istilah mereka yang hidup di dunia mistik.   Maaf bila boleh bicara terus terang, orang yang mempunyai ‘kelebihan’ atau ‘orang pintar’ sebenarnya adalah orang yang ketempelan jin.  Seharusnya orangtua yang mempunyai anak seperti ini prihatin dan berusaha menghilangkannya dengan membiasakan anak beribadah sesuai contoh dari Nabi, menghindari maksiat dan sebagainya, bukan sebaliknya justru di-explored / dilatih dan dikembangkan.

Dalam dunia perdukunan, seorang dukun mempunyai makhluk gaib yang membantunya dalam melakukan prakteknya. Makhluk gaib itu tentunya jin, walaupun terkadang dialihkan istilahnya menjadi khodam (artinya ‘pembantu’ – dalam bhs. Arab) yang katanya diperoleh dari ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an yang diamalkannya, atau bahkan ada yang tertipu dan yakin bahwa yang membantunya adalah Malaikat padahal kita ketahui Malaikat tidak akan menghamba kepada selain Allah.   Syetan dari jenis jin  memang mempunyai kemampuan untuk melakukan sihir dan merubah dirinya ke dalam bentuk yang memungkinkan  dapat dilihat oleh manusia, mengingat zatnya yang asli tidak mungkin kita lihat berdasarkan dalil yang syar’i.   Ketika merubah dirinya, si syetan ini bisa menampakkan diri kemudian mengaku-aku sebagai Malaikat.  Adapula yang mengaku memperoleh wangsit dari Nabi ketika bermimpi. Padahal telah datang dari Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam,

Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu anhu, Rasulullaahu shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa melihatku dalam mimpinya, maka sungguh dia telah melihatku, karena sesungguhnya setan tidak mampu menyerupai diriku”. (H.R. Imam Muslim)

Sejatinya, tidak ada orang yang lahir setelah Nabi wafat yang tahu seperti apa wajah Nabi karena beliau melarang manusia untuk menggambar makhluk bernyawa, yang berarti tidak pernah ada pula yang mempunyai gambar wajah Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Hadits di atas menunjukkan sulitnya kita memastikan bahwa seseorang benar-benar didatangi oleh Nabi di dalam mimpinya.

Pernah ada seorang teman yang mengatakan kepada penulis bahwa adiknya yang pengikut tarekat/sufi melakukan sholat tahajud tiap malam hingga 40 rakaat. Itu terjadi karena setiap kali ia selesai salam selalu muncul wajah ‘allah’  datang kepadanya, sehingga ia mengulangi sholat agar bisa melihat wajah itu kembali.  Secara syariat jelas ini adalah kebohongan besar atau mungkin saja karena ketidaktahuannya ia tertipu oleh syetan yang mengaku-aku tuhan.

Bayangkan, seorang Nabi mulia, Musa ‘alayhissalaam saja tidak diperkenankan melihat Allah di dunia ini bagaimana pula dengan manusia biasa.  Firman Allah yang mengkisahkan Nabi Musa ‘alayhissalaam tersebut dapat kita lihat pada surah Al-A’raf ayat 143:

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.

Jadi siapa pula yang datang kepada si sufi tersebut? Tentunya jin lah yang datang karena memang wahyu dapat datang dari Allah dan juga bisa datang dari setan sebagaimana firman Allah:

QS. Al-An’aam:112. “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka mewahyukan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Gaya ustadz

Bagi masyarakat awam, maka dukun dengan gaya ustadz mempunyai tempat tersendiri karena dianggap sebagai kyai karomah, wali, atau peruqyah.  Mereka beranggapan para dukun itu mempunyai ‘ilmu putih’  yang katanya ilmunya itu ‘datang sendiri’  tanpa semedi, atau hasil dzikir / wirid ribuan kali dan puasa berhari-hari.  Inilah pemahaman yang menyesatkan karena orang yang datang kepadanya merasa datang ke tempat yang halal dan bersih dari noda-noda syirik padahal mereka sedang berbuat syirik tanpa sadar!

Ritual-ritual yang aneh-aneh diganti dengan ritual berupa membaca doa yang diantaranya menyebut nama-nama jin tertentu.  Tentu saja di pasien tidak tahu karena doanya bercampur antara bahasa Arab, bahasa jawa, melayu atau lainnya. Seringkali para dukun membaca Bismillah dengan keras, kemudian membaca al-Fatihah lalu setelahnya membaca secara perlahan-lahan (tidak terdengar) mantera-mantera yang berisi kesyirikan seperti permintaan tolong kepada jin atau orang sholeh yang telah mati seperti Syaikh Abdul Qodir Jilani (yang mana jika beliau hidup tentu tidak akan rela namanya digunakan dalam ritual syirik tersebut). Pasien mengira ia sedang berdo’a kepada Allah padahal ia juga berdo’a kepada jin atau orang-orang sholeh yang sudah wafat. Padahal seseorang yang telah berada di alam kubur  tidak akan dapat berhubungan dengan orang-orang yang hidup di dunia.  Firman Allah di Surah Al-Mukminun ayat 100:

..Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.

Juga Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallam menjelaskan dalam sabda beliau:

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya“.([HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)

Bila dengan do’a dirasa kurang cukup maka dengan juga melakukan puasa pada hari tertentu dengan tujuan tertentu yang tentunya jatuh dalam perbuatan bid’ah yang berarti tertolak.

Adapula membaca wirid dengan jumlah tertentu yang ditentukan oleh si dukun (tentu bersama jin-nya) yaitu  doa-doa permintaan kepada orang mati. Membaca sholawat nariyah sebanyak 4444 kali  atau membaca kasidah Burdah yang mana pembacanya tidak mengetahui bahwa di dalamnya terkandung doa kepada Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam seakan-akan beliau mempunyai sifat ketuhanan seperti berupa kemampuan memberi rejeki atau melepaskan seseorang dari bencana atau kesulitan yang mana hal tersebut adalah milik Allah ta’ala semata.

Salah satu contoh bacaan yang menyalahi akidah adalah dalam Sholawat Nariyah yaitu: “yang dengan-nya (yaitu dengan Muhammad Sholallaahu ‘alaihi wasallam) segala ikatan (maksudnya kesulitan) menjadi lepas, segala kesedihan akan lenyap karenanya, dan dengannya segala cita-cita tercapai, dengannya pula segala kebutuhan akan terpenuhi,” …. dan seterusnya.

Demikian pula dalam “kasidah burdah”  terdapat syair yang mempertuhankan Nabi yaitu salah satunya: “Wahai makhluk termulia, aku tidak memiliki tempat berlindung kecuali engkau saat bahaya melanda.” Dan masih banyak lagi lainnya.

Jelas doa dan sholawat atau bertawasul dengan meminta pertolongan kepada Nabi – Shollaallaahu ‘alayhi wa sallam – setelah beliau wafat bertentangan dengan:

QS. Yunus: 106. “Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.”

Jimat dan Rajah

Termasuk usaha para syetan menipu pasien adalah menyuruh wali-wali mereka (dukun) memberi jimat kepada pasien berupa jimat yang bertuliskan Arab baik berupa ayat al-Qur’an ataupun berbentuk rajah dengan pola huruf, angka-angka yang sulit dicerna artinya.  Padahal jimat, apapun bentuknya, apapun isinya adalah syirik.

Parahnya, ada hadits-hadits palsu atau yang tidak ada asalnya yang beredar di masyarakat termasuk di kalangan kaum santri seperti contoh berikut:

Jikalau seseorang di antara kalian meyakini sebuah batu (sebagai jimat), niscaya ia akan bermanfaat.”

Hadits ini oleh Ibnu Taimiyyah – Rahimahullah –  dinyatakan maudhu’ (palsu) dan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani – Rahimahullah – dinyatakan laa ashla lahu alias tidak ada asalnya / tidak ada sumbernya.

Hadits palsu di atas bertentangan dengan hadits shahih sebagai berikut: Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Barangsiapa menggantungkan jimat ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad, Al-Hakim dan ABu Ya’la).

Ketika Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam melihat seseorang yang menggunakan jimat penguat berupa gelang kuningan, maka beliau bersabda:

Sesungguhnya benda itu tidak menambah melainkan kelemahanmu, tanggalkanlah ia, karena jika engkau mati sedangkan benda itu masih ada pada dirimu niscaya engkau tidak akan beruntung selamanya.”  (HR. Ahmad).

Dengan melihat dalil-dalil di atas maka jelaslah keharamannya. Hanya saja memang beredar berbagai hadits palsu yang membuat sebagian umat Islam menganggap bolehnya perkara perdukunan ini, oleh karenanya kita harus benar-benar mencari tahu derajat keshahihan / kebenaran suatu hadits agar kita tidak terperdaya mengikuti sesuatu hadits karena meyakini pasti benar datang dari Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.

Ramalan

Demikian pula halnya dengan ramalan, termasuk pula ramalan bintang dan sebagainya.  Para peramal adalah wali setan karena mendapatkan informasi dari jin. Dalam satu hadits riwayat Bukhari yang cukup panjang, dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam pernah menjelaskan masalah ramalan yang terkadang benar.  Kejadiannya ialah apabila Allah memutuskan sesuatu perkara di langit, maka para malaikat tunduk mendengarkan firman Allah. Maka ketika para malaikat membicarakannya, para setan saling bertumpuk ke langit berusaha mencuri dengar pembicaraan tersebut. Terkadang belum sempat di dengar mereka dilempar dengan panah api. Kemudian setan menyampaikannya kepada setan di bawahnya terus hingga ke bawah dan sampai lah berita kebenaran yang ditambah dengan seratus kedustaan kepada para tukang sihir, dukun atau peramal.

Hal ini sebagaimana juga dijelaskan oleh Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam:

Kalimat tersebut berasal dari kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga para walinya (dukun), kemudian ia menambahnya dengan seratus kedustaan.”  (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).

QS. Al-Jin: 8-9. “dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,      dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”

QS. Al-Jin: 26-27. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.       Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”

Sungguh mendatangi para dukun atau peramal (kecuali untuk mendakwahinya) sangat berat dosanya:

Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur atas apa yang diturunkan kepada Muhammad.”  (HR. Al-Bazzar)

Hukum Perdukunan

Allah ta’ala telah menetapkan hukum-hukum mengenai perdukunan ini. Pada hakikatnya, datangnya kemampuan para dukun adalah atas perjanjian mereka dengan syetan dari jenis jin  untuk membuat manusia jatuh ke dalam kesyirikan – dosa besar yang paling besar dan dosa yang tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala apabila pelakunya menyadari dan tidak sempat bertobat dari perbuatannya.

QS. An-Nisaa’:48. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

QS. An-Nisaa’:116. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

QS. Al-Jin:6. “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungankepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. “

Bahkan tidak hanya itu, bila seseorang berbuat syirik, maka seluruh amalnya menjadi hapus sebagaimana telah disampaikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala :

QS. Az-Zumar: 65. “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Penutup

Sayangnya masih banyak buku-buku sihir ber-cover kitab ajaran Islam bertebaran dijual di pinggir jalan seperti Kitab Mujarobat, Kitab Syamsul Ma’arif, Kitab Mamba’ul Hikmah dan lainnya yang isinya berupa tata cara membuat rajah atau jimat, baik untuk pelet/pengasihan, pengobatan atau kanuragan berupa kekebalan dan sebagainya. Kondisi ini makin parah dengan banyaknya orang mengamalkan isi buku-buku tersebut bahkan orang-orang yang dipanggil ustadz atau pak Kyai oleh masyarakatnya. Banyak orang yang terkena syubhat dengan mempercayai perkataan para dukun atau orang-orang jahil berupa keyakinan bahwa ke paranormal seperti orang pergi ke dokter yaitu merupakan washilah atau usaha dalam mencapai tujuan seperti mencari rizqi, kesembuhan, mencari pasangan hidup. Bahkan ada juga anggapan bahwa memelet istri atau suami dengan tujuan agar ia tidak selingkuh diperbolehkan demi kelanggengan kehidupan rumah tangga. Jelas ini salah kaprah. Tujuannya baik tetapi caranya tidak benar!

Para dukun pun berani mengatakan “ini bebas dari syirik!”  Mereka meyakinkan pasiennya dengan mengatakan bila niatnya baik dan kemudian  tercapai maka itu tanda adanya ijin dari Allah ta’ala.  Ini benar, tetapi patut diketahui bahwa ijin dari Allah tidak berarti Allah telah meridhoi perbuatannya.  Misalnya ada seseorang yang berobat ke paranormal kemudian ia sembuh, maka ia sebenarnya diijinkan untuk sembuh tetapi tentunya dengan kemurkaan-Nya.  Dan itupun biasanya sembari diiringi dengan penundaan azab di dunia hingga satu saat yang Allah tentukan untuk mencabut kesenangannya secara tiba-tiba.  Ini berlaku juga untuk keinginan manusia yang lain dalam rangka mendapat kesenangan di dunia namun dengan cara maksiat atau masih melakukan maksiat. Seorang koruptor tentunya akan berhasil hidup kaya raya dan juga dihormati oleh orang di sekelilingnya karena kekayaannya itu  – hingga suatu saat datang azab Allah secara tiba-tiba pada puncak kejayaannya dan terkaget-kagetlah pelaku maksiat tersebut.  Inilah yang disebut dengan “ISTIDRAJ”.

Dalam Hadits Riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Jika engkau melihat Allah memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba padahal dia tetap dalam kemaksiatan, maka sesungguhnya itu adalah ‘istidraj’. Kemudian Rasulullaah melanjutkan dengan membaca, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. “(QS. Al-An-am: 44).

QS. Al-A’raf: 182. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.

Jadi jangan heran bila orang kafir, orang musyrik, orang yang memakan hasil riba, pezina dan pelaku maksiat lainnya bisa bersenang-senang hidup di dunia karena itulah istidraj dimana suatu saat Allah akan mencabutnya secara tiba-tiba  di dunia atau mengazabnya di akhirat kelak bila ia tidak sempat bertobat saat umurnya dicabut.

Allaahu ta’ala a’lam, dan hanya kepada Allah ta’ala kita mohon perlindungan.

%d bloggers like this: