Indahnya Pacaran Setelah Nikah

Siapa yang tak kenal istilah pacaran? Tentu banyak yang memahami istilah ini mulai dari yang pernah melakukan hingga anak-anak kecil yang belum pernah melakukannya pasti mengetahui istilah ini.  Dan rata-rata, manusia di Indonesia ini melakukan kegiatan pacaran dengan berbagai aktifitasnya.  Mulai dari yang sekedar ngobrol berduaan – baik itu ditempat sepi atau di tengah keramaian mall –  hingga yang mengaplikasikannya dalam bentuk pergaulan sebagaimana suami-istri memadu kasih.   Ini semua terjadi akibat salahnya pemahaman kebanyakan manusia yang menganggap pacaran adalah upaya yang harus dilakukan sebelum dilanjutkan ke jenjang pernikahan.

Namun untuk lebih adil, kita lihat definisi pacaran menurut ensiklopedia bebas secara online sebagai beriktu:

Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Dalam pacaran, ada aktivitas yang disebut dengan kencan. Aktivitas ini berupa kegiatan yang telah direncana maupun tak terencana. Kencan yang tak terencana disebut dengan blind date.


Tradisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi dalam masyarakat individu-individu yang terlibat. Dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Berdasarkan tradisi zaman kini, sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta-kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksualatau percumbuan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002:807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang pacar). Memacari adalah mengencani; (atau) menjadikan dia sebagai pacar. Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama. 

(http://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran)

Bila kita membaca definisi di atas, maka pacaran sepertinya adalah hal lumrah dan normal dalam siklus kehidupan manusia.  Lahir – sekolah – kerja – pacaran – nikah – mempunyai anak – nikahkan anak – mati.   Pacaran diartikan sebagai suatu aktivitas yang dibutuhkan dalam rangka mencari istri/suami yang cocok hingga kelak bila sudah menikah akan cocok pula hingga kakek nenek.  Konsekwensinya, bila belum menemukan yang cocok maka harus gonta ganti pacar – plus – bumbu-bumbu pacarannya seperti yang lumrah pada masyarakat kita berupa berduaan, sentuhan, gandengan tangan, pelukan, ciuman, hingga mungkin ada pula yang permisif hingga sampai ke taraf hubungan suami istri dan hamil.  Penulis kira tidak perlu membahas lagi apa yang disebut pacaran itu karena rata-rata sudah mafhum dan hendaknya kita bahas saja secara syariat mengenai dibolehkannya pacaran.

Larangan dan Kebolehannya

Larangan berpacaran sebenarnya sudah jelas diatur dalam Islam yaitu di dalam Al-Qur-an dan hadits Rasulullah shahihah (yang sah datang dari Rasulullah). Banyak orang yang berpendapat bahwa pacaran diperbolehkan asalkan tidak sampai ke hubungan suami istri.  Bahkan lucunya (yang sebenarnya adalah memprihatinkan) adanya gadis-gadis remaja berkerudung dan berusaha menutupi auratnya untuk tidak dilihat oleh kaum laki-laki yang bukan mahramnya. Mereka juga menahan diri dari bersalaman dengan lawan jenisnya.  Tetapi anehnya, mereka menghalalkan pacaran dalam rangka membina jalan menuju mahligai rumah tangga.  Mereka ‘halal’kan diri mereka untuk berduaan dengan sang calon suami (istilah halus pengganti istilah pacar), bergandengan tangan dengan sang calon, bahkan membuka kerudung  karena ia merasa yakin toh sang calon kelak  akan melihat dirinya secara utuh dalam sebuah pernikahan yang suci. Wah-wah, ini jelas salah kaprah dan salah menempatkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram dan  juga bukan suaminya itu.  Beda satu menit pun, selama ia belum menjadi istrinya tentu hal itu tidak boleh dilakukannya.

Al-Qur’an Surah Al-Mu’minuun ayat 1-7 menjelaskan:

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”

Di sini dijelaskan bahwa manusia diwajibkan untuk menjaga kemaluannya yaitu dengan jalan tidak mencari kepuasan melalui jalan yang tidak diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Pacaran sebelum nikah, Jalan Menuju Perzinahan

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, jiwa mengkhayal dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya”. Dan Syababah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Warqa’ dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”  (Hadits Riwayat Bukhari No. 6122).

Dalam hadits lain diriwayatkan pula:

Kedua tangan berzina dan zinanya adalah menyentuh, kedua kaki berzina dan zinanya adalah berjalan, mulut berzina dan zinanya adalah mencium.” (Hadits Riwayat Abu Dawud No.1840)

Firman dan hadits di atas menjelaskan bahwa zina tidaklah hanya berkaitan dengan zina kemaluan yang sesungguhnya  tetapi juga dari pandangan mata yang tidak ditundukkan / dilepas dengan melihat kepada lawan jenis yang bukan hak-nya baik dengan syahwat ataupun tidak, pembicaraan yang berbau mesum, rayuan,  maupun  khayalan terhadap pergaulan bebas.

Allah berfirman dalam al-Qur’an Surah An-Nuur ayat 30 agar para laki-laki tidak memandang wanita yang bukan istri ataupun mahram-nya, sebagai berikut:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Juga diperintahkan kepada kaum wanita tidak memandang laki-laki yang bukan suami atau mahram-nya,  menutup auratnya kecuali kepada suami dan mahramnya seperti diwahyukan dalam al-Qur’an Surah An-Nuur ayat 31:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Oleh karenanya Allah benar-benar tegas melarang kita untuk mendekati zina tersebut.  Bukan hanya melarang berzina, tetapi mendekatinya pun dilarang.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Israa’ ayat 32, Allah berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Dalam sabdanya, Rasulullaahu ‘alayhi wa sallam melarang seseorang laki-laki dan seorang wanita bertemu di suatu tempat berdua saja kecuali ada mahram si wanita.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya dan janganlah seorang laki-laki menemui seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya”. Kemudian ada seorang laki-laki yang berkata: “Wahai Rasulullah, sebenarnya aku berkehendak untuk berangkat bersama pasukan perang ini dan ini namun isteriku hendak menunaikan haji”. Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berangkatlah haji bersama isterimu“.  (Hadits Riwayat Bukhari No.1729, No.4832, Ahmad No.1833)

Juga dalam satu riwayat dari Jabir bin Abdullah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah menyendiri dengan seorang wanita yang tidak ada bersamanya seorang mahramnya karena yang ketiganya setan“.  (Hadits Riwayat Ahmad No.14124)

Tidak diragukan lagi, maka apa-apa yang disebutkan di atas mengenai zina dan jalan mendekatinya seperti: berduaan, memandang, sentuhan, rayuan, mencium adalah perbuatan yang umum terjadi pada orang-orang yang sedang berpacaran.  Dan semuanya telah datang dalil yang melarangnya yaitu yang melarang orang kepada berbagai jalan menuju perzinahan – walaupun zina yang hakiki itu sendiri mungkin tidak terjadi!

Hukuman Bagi Pezina

Zina merupakan satu dari perbuatan dosa besar di dalam Islam.  Imam Ahmad bin Hanbal – Rahimahullah  berkata di dalam kitabnya Ad-Daa’ wad-Dawaa’ : “Aku tidak mengetahui dosa yang paling besar setelah membunuh manusia melainkan zina.”

Melakukannya jelas terancam azab Allah di akhirat kelak dan bahkan di dunia pun sebenarnya masuk dalam perbuatan  yang dapat dijatuhi hukum hadd.

Hukuman bagi seseorang yang berzina dan ia bukanlah seorang yang telah menikah atau pernah menikah, maka ia mendapatkan hukuman berupa didera (cambuk) masing-masing seratus kali.

Al-Qur’an Surah An-Nuur ayat  2:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. ”

Sedangkan hukuman bagi orang berzina yang telah menikah atau pernah menikah maka ia mendapatkan tambahan hukuman berupa dirajam (dilempar batu hingga mati).

…dan laki-laki yang sudah pernah menikah (berzina) dengan perempuan yang sudah pernah menikah, adalah dicambuk seratus kali dan dirajam.” (Hadits Riwayat Ahmad No. 15345, At-Tirmidzi No. 1354,   Abu Dawud No.3834).

Siapa yang berhak menghukum?

Yang perlu diingat adalah, hukuman hadd tersebut tidak boleh dilakukan oleh orang-perorangan tetapi harus dilakukan oleh pemimpin muslim  di suatu negeri (ulil amri) dimana sebelum dijatuhkan hukuman ada berbagai proses dan bukti yang harus tersedia  seperti adanya pengakuan atau adanya 4 orang saksi yang menyaksikan secara jelas terjadinya suatu perzinahan dan lain sebagainya yang tidak dapat dibahas secara singkat di sini.

Hukuman cambuk atau rajam (di dunia), tidaklah menghapuskan hukuman di akhirat kecuali adanya taubat sebelum ajal menjemputnya. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam ketika beliau menceritakan mimpi beliau ketika diajak dua orang (malaikat) melihat keadaan neraka, dimana beliau  melihat laki-laki dan wanita yang telanjang dibakar di dalam tungku api.  Ketika beliau bertanya kepada kedua orang yang mengajak beliau, maka keduanya menjelaskan:

…Dan orang-orang yang kamu lihat berada di dalam tungku api, mereka adalah para pezina.”  (Hadits Riwayat Bukhari No. 1297)

Oleh karenanya, bila dalam suatu negeri tidak dijatuhkan hukum hadd terhadap pelaku zina, maka pelakunya harus bertobat dan menyesali perbuatannya serta banyak melakukan ibadah dan amal sholih  dan bukan justru sebaliknya kemudian merasa lepas dan semakin menjadi-jadi kemaksiatannya, karena lepas dari hukuman di dunia ia belum tentu bisa lepas dari hukuman di akhirat.  Ini adalah perkara yang benar-benar bergantung kepada kehendak Allah saja. Bila Allah mau, maka Allah akan  mengampuni dosa orang yang bertaubat dari zina.  Bila tidak, maka Allah lebih berhak untuk mengazabnya di akhirat kelak.

Indahnya Pacaran Setelah Nikah

Jangan terburu berpikiran bukan-bukan,  yang penulis maksudkan dengan pacaran setelah nikah adalah aktivitas dan bentuk-bentuk berkasih sayang, kemesraan  dan bercumbu rayu di antara pasangan suami istri yang sah. Sebelumnya mereka bertemu dalam suatu pertemuan yang terjaga dari fitnah karena sang calon suami nazhor (melihat) sang calon istri dengan didampingi oleh walinya, kemudian dilakukan khitbah (melamar) dan dilanjutkan dengan pernikahan.

Jadi bukan maksudnya setelah nikah kemudian pacaran lagi dengan orang  yang bukan suami atau istrinya, tetapi keindahan pacaran ini baru terjadi bila dilakukan oleh suami kepada istri dan sebaliknya.

Berduaan, saling memandang, bergandengan tangan serta mencium (tentu saja tidak di depan orang lain) seperti  yang lumrah dilakukan orang berpacaran akan menjadi indah dan menentramkan hati bila dilakukan di antara dua sejoli yang telah menjadi suami-istri.  Halal, bebas dosa bahkan berpahala pula sehingga menjadikan pacaran setelah nikah ini menjadi kenikmatan yang membekas di hati dan penuh barokah.

Dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, “Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka.” Maka beliau pun bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah, bahkan pada kemaluan seorang dari kalian pun terdapat sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang diantara kami menyalurkan nafsu syahwatnya, apakah akan mendapatkan pahala?” beliau menjawab: “Bagaimana sekiranya kalian meletakkannya pada sesuatu yang haram, bukankah kalian berdosa? Begitu pun sebaliknya, bila kalian meletakkannya pada tempat yang halal, maka kalian akan mendapatkan pahala.”  (Hadits Riwayat Muslim No.1674)

Bukan sekedar omong kosong, bila banyak di antara pasangan suami istri yang menikah dengan didahului pacaran kemudian  setelah menikah justru terasa hambar pernikahannya, hilang pula kemesraannya.  Berbeda dengan orang yang baru menikah setelah itu mulai hidup dalam mawaddah cinta yang penuh gairah.  Suami atau istri yang menjadi pacar sejati inilah yang membuat suatu pernikahan layaknya pacaran seumur hidup tanpa terlilit dosa. Terbalik dengan kondisi orang yang berpacaran dulu baru menikah, maka hari-hari penuh kemesraan di masa pacaran dahulu mulai hilang ketika pernikahan dilakukan.

Memang begitulah yang dilakukan oleh syaitan, membisikkan rayuan-rayuan untuk bermesraan kepada pasangan yang belum menikah agar mereka terjerat dalam kasih sayang yang dibalut dengan syahwat liar penuh  dosa.  Sebaliknya ketika pasangan itu kemudian menikah, syaitan pun pergi dari keduanya dan membiarkan pasangan itu bosan dengan pernikahannya karena hampir semua hal menyenangkan dari pasangannya telah dia rasakan dari semenjak belum menikah.  Setelah itu datang kembali syaitan kepada mereka dengan bisikan untuk  kembali mencari kemesraan di luar pernikahan, sehingga terjadilah perselingkuhan itu, dijadikan oleh syaitan  wanita dan pria  yang bukan  haknya sebagai pasangan impian yang menarik hati bahkan membangkitkan syahwatnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Semoga kita semua dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak lupa penulis menasihati bagi yang dahulu pernah pacaran sebelum menikah, bertaubatlah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan di masa lalu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun.

Billahi tawfiq, wa shollatu wassalaamu ‘ala Nabiyinaa Muhammadin.

%d bloggers like this: