Menjelang Ramadhan: Tutup Buku Kemungkaran

FIREMUNKARTutup buku kemungkaran!  Menyambut bulan Ramadhan ini, maka marilah kita mulai dengan lembaran baru untuk  selamanya dan menjauhi  larangan-larangan Allah  yang selama ini sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, ringan atau berat  ternyata  pernah kita lakukan.  Bukan sekedar di Ramadhan ini, tetapi setiap hari di setiap bulan dan di setiap tahun hingga akhir hayat kita.

Memangnya kemungkaran apa yang kita lakukan?  Mungkin akan ada pertanyaan seperti itu bila mendengar hal tersebut.    Bahkan pertanyaan itu juga ditambahi dengan kata-kata: “Rasanya saya sudah beribadah dengan baik, yang wajib dikerjakan, yang sunnah saya juga sering lakukan!”

Alhamdulillah bila semua itu telah kita lakukan dengan baik, tetapi tahukah kita terkadang masih melanggar larangan Allah Subhanahu wa ta’ala  dan RasulNya?

Berikut ini adalah sebagian kegiatan yang lumrah dilakukan di sekitar kita yang terkadang dilakukan orang tanpa disadari bahwa itu merupakan larangan.

(1)  Mendatangi peramal atau mempercayai ramalan  adalah sesuatu yang diharamkan.  Tetapi di jaman ini segala hal yang berbentuk demikian telah dikemas dengan cara yang halus dan canggih pula.  Coba saja kita lihat isi koran hingga televisi.  Mulai dari ramalan bintang (zodiac) hingga iklan para peramal bertebaran di mana-mana.  Akibatnya, para remaja hingga orangtua banyak yang menggandrungi ramalan karena menganggapnya sebagai hal yang lumrah dan bermanfaat bagi dirinya. “Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.” (HR. Abu Dawud, Shahih).

Sebenarnya masalah ramal meramal dalam bentuk modern ini bukan hal baru.  Penulis ingat di tahun 70-an, seorang penyanyi top, ADE MANUHUTU menyanyikan lagu berjudul VIRGO.  Lagu ini sangat top dan banyak orang menyanyikannya dimana-mana.  Kalau sekarang para peramal memanfaatkan teknologi modern yang luas karena di-iklan-kan di televisi dan disebarkan ramalannya melalui SMS  berlangganan misalnya dengan menulis REG Spasi MAMA LEMON eh LOREN.  Parahnya lagi, televisi kadang-kadang memberikan iklan gratis bagi si peramal yaitu dengan mewawancarainya pada awal tahun dsb.

Mengapa masalah seperti ini penulis taruh di nomor 1, karena masalah aqidah, tauhid adalah masalah yang paling penting.  Dakwah para ambiya’ (Nabi) pertama kali adalah masalah tauhid. Dakwah yang mengajarkan kalimatul Haqq, yaitu LAA ILAHA ILLALLOH, yang artinya adalah Laa ma’buda bihaqqin illaLLOH (tiada Ilah yang patut diibadahi dengan haq melainkan Allah saja).

Keburukan masalah perdukunan yang termasuk di dalamnya kegiatan ramal meramal, penggunaan kekuatan sihir atau gaib (yang biasanya melibatkan jin) untuk mencari kekayaan, kesembuhan, cinta dan bahkan mencelakai orang lain telas jelas larangannya berdasarkan banyak dalil.

– Wa Indahu mafaatikhul ghoyb, laa ya’lamuha illa Huwa (al-An’amm 59).  artinya: Dan di sisi Allah kunci masalah ghoib, tiada yang mengetahuinya kecuali Dia (Allah) semata.

– Wa annahu kaana rijalun minal insi ya’udzuuna bi rijalin minal jinni, fazaduuhum rohaqo (Jin 6).  Artinya: Ada segolongan orang yang meminta tolong/perlindungan kepada jin, maka mereka (jin itu) menambah kesalahan kepada mereka (orang itu).

Ini menjadi dasar haramnya meminta pertolongan kepada jin yang biasanya dilakukan oleh para dukun atau bahkan orang yang mengaku kyai tapi mempraktekkan hal demikian untuk meramal atau mengobati  sekalipun mereka membaca-baca ayat al-Qur’an sebagai kedok.

Yang saya sampaikan ini juga berkaitan erat dengan maraknya pemahaman Islam secara liberal  sebagaimana yang diasong oleh kelompok JIL, Paramadina dan berbagai LSM lainnya yang banyak dibantu oleh LSM dari luar negeri seperti Asia Foundation dan Rand Corporation.  Mereka berupaya untuk menyebarkan pemahaman bahwa semua agama sama baiknya yang akibatnya keyakinan kaum muslimin terhadap Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah meluntur hingga keimanan terhadap firman Allah pun menghilang. Akibat yang paling parah adalah tidak dipatuhinya lagi syariat Islam karena dianggap tidak sesuai lagi dengan hukum dunia modern ala barat. Padahal sebagai umat Islam, kita harus yakin bahwa Allah – lah yang paling tahu tentang makhluk dan hukumNya lah yang paling benar dan terbaik buat manusia.   Contoh dari hilangnya keimanan kepada syariat adalah Perkawinan antar agama Islam dan lainnya menjadi biasa, pindah agama atau murtad menjadi biasa dan bila masalah aqidah sudah tidak peduli, maka kemaksiatan dan dosa lainnya menjadi lebih mudah dilakukan oleh mereka.

(2) Kegiatan merokok,  ini kelihatannya sepele, tetapi kegiatan ini jelas-jelas merugikan.  Bagi perokok, sadar tidak sadar ia merusak dan menyakiti diri sendiri dan orang lain secara perlahan.  Terkadang sudah jelas-jelas dicantumkan di bungkusnya  yaitu peringatan mengenai bahaya rokok, tetapi tetap saja orang tidak peduli. Padahal setidaknya, merokok adalah perbuatan sia-sia dan menghamburkan uang.

Sesungguhnya   Allah  itu  membenci  tiga perkara  untuk  kalian,  (yakni)  berita   yang  tidak  jelas, menghambur-hamburkan  harta,  dan banyak bertanya.” HR Bukhari & Muslim (lihat “Tidak  merokokkarena Allah”, karangan Syaikh Muhammad Jamil Zainu).

(3) Ghibah alias menceritakan  tentang orang lain dengan sesuatu yang orang tersebut tidak menyenanginya, merupakan salah satu kegiatan yang paling menyenangkan di kalangan sebagian kita. Kelihatannya ringan saja, tetapi  sebenarnya hal itu bagaikan memakan daging saudaranya yang telah mati,  demikianlah Allah mengumpamakannya di dalam surat Al-Hujuraat 12.  Sadar atau tidak sadar kita terlibat di dalam ghibah ketika kita melihat dan mendengarkan acara televisi tentang berita-berita artis atau orang terkenal lainnya.

(4) Melepas pandangan mata kepada yang diharamkan menjadi kegiatan umum di masyarakat kita saat ini.   Terkadang memang kesempatan itu datang begitu mudahnya.  Lawan jenis (pria atau wanita) sering menampilkan dirinya dalam keadaan yang terbaik (tabarruj)  tetapi tidak untuk keluarganya sendiri karena cara pergaulan yang berbaur dengan lawan jenis.   Bila sudah begini maka dari mata biasanya turun ke hati dan ujung-ujungnya syahwat tidak terkendali karena terbiasa menuruti hawa nafsu saja.  Allah Sub-haanahu Wa Ta’ala berfirman:   “ ..(agar) mereka menahan  pandangan mereka..” (QS.An-Nuur: 30/31).

(5) Menikmati riba merupakan hal yang biasa dilakukan orang.  Menjalankan riba oleh kebanyakan kita  tidak dianggap sebagai sesuatu yang terlarang. Padahal riba jelas dilarang di dalam QS. An-Nisaa’:161 dan merupakan salah satu dari tujuh perkara yang dapat membuat celaka, yaitu dengan menyekutukan Allah, membunuh jiwa yang diharamkan, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh wanita baik-baik berzina  (lihat HR. Bukhari & Muslim, no. 304/1 Mutiara pilihan Riyadush Sholihin/Abdul Aziz Sa’ad Al ‘Utaibiy).

(6) Aurat memang sesuatu yang harus di sembunyikan kecuali dihadapan suami/istri atau mahramnya.  Tetapi jangan  pula heran bila kini aurat tidak lagi merupakan hal yang perlu disembunyikan. Pakaian model terbuka mulai dari yang digunakan di kolam renang hingga pakaian yang digunakan di kantor, sekolah dan tempat pesta sudah dibuat sedemikian terbuka hingga terlihatlah auratnya kepada siapa saja.  Bahkan, pakaian yang seolah-olah memenuhi kaidah agamapun kini telah dimodifikasi sedemikian rupa dengan bahan ketat dan tipis  akibatnya, walaupun kulit tertutup  rapat tetap saja tidak mampu menyembunyikan lekuk isinya. Lupakah kita bahwa menutup aurat adalah kewajiban? Dalil menutup aurat ini dapat dilihat antara lain dalam Al-Qur’an surat An-Nuur 31 dan Al-Ahzab 59.

(7) Pungutan liar, komisi dianggap biasa di perkantoran. Mark-up harga, kickback atau pengembalian sejumlah dana kepada petugas pemberi kerja/proyek  yang nota bene adalah mengambil uang kantor/negara melalui tangan orang lain jelas merupakan dosa yang pada gilirannya merusak perekonomian.   Parahnya, hal demikian bahkan dianggap rejeki oleh sebagian orang. Demikian pula dengan suap, padahal, “Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam  melaknat orang yang memberi suap, orang yang menerima suap, serta orang yang menjadi perantara keduanya tersebut.”  (HR at-Tirmidzi, Ibn Hibban, dan al-Hakim).

Ada sebuah riwayat dari Bukhari dan Muslim tentang tidak diperbolehkannya kita menerima hadiah yang berkaitan dengan jabatan kita.  Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengutus seorang laki-laki bernama Lutbiyah untuk memungut zakat dari seseorang. Setelah menerima zakat dari orang yang dimaksud, Lutbiyah menghadap ke Rasulullah. Dia kemudian menyetorkan sebagian uang yang diperolehnya kepada Rasulullah, seraya berkata, “Ini untuk Anda (maksudnya untuk Baitul Maal).”Sedangkan sebagian yang lain ditahan oleh Lutbiyah, sambil berkata, “Dan yang ini hadiah yang diberikan orang kepadaku.” Setelah mendengar pernyataan itu Rasulullah berdiri di atas mimbar. Mula-mula beliau memuji dan menyanjung Allah Ta’ala, kemudian beliau bersabda, “Ada seorang petugas yang kutugaskan memungut zakat, dia berkata, “Ini zakat yang kupungut kusetorkan kepada Anda, dan yang ini hadiah pemberian orang kepadaku.” (Kalau benar itu hadiah untuknya pribadi, tidak ada kaitannya dengan tugasnya memungut zakat), mengapa dia tidak duduk saja di rumah orangtuanya menunggu orang mengantar hadiah kepadanya? Demi Allah yang jiwaku berada dalam kuasa-Nya, tidak seorang jua pun di antara kalian yang menggelapkan zakat yang ditugaskan kepadanya memungutnya, melainkan pada hari kiamat kelak, dia akan memikul unta (dari zakat) yang digelapkannya itu melenguh-lenguh di kuduknya, atau sapi yang menguak-nguak, atau kambing yang mengembik-ngembik.”:

(8) Judi terselubung tanpa sadar kita lakukan misalnya dengan mengikuti kuis SMS dengan tujuan mendapatkan hadiah. Itu sebabnya kita harus berhati-hati, sebab ketika untuk mendapatkan undian kita harus mengeluarkan sejumlah uang tertentu (dengan berbagai bentuk) maka berlakulah ayat Allah:

“Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu innamaal-khomru wa-l-maysiru wal-anshoobu wal-azlaamu rij-sum-min ‘amali-sy syaythoon, faj-tanibuu la’allakum tuflikhun”

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-Maa’idah 90).

Demikian sekilas kebiasaan munkar umat Islam yang dapat disampaikan, masih banyak hal-hal lain yang merupakan larangan tetapi orang meremehkan dosa yang ditimbulkannya dan menganggap ringan siksa Allah di hari pembalasan kelak, Naudzubillahi min dzalik.

Jadikan Ramadhan ini sebagai ajang menjadikan jiwa kita lebih bersih dan amal kita lebih sholih – semoga   Allah Subhanahu wa ta’ala memudahkan langkah kita menuju jalan yang  diridhoi olehNya. Amin. Allahu a’lam bisshowab. (Ibnu AQ / 070809)

%d bloggers like this: