Muhrim itu siapa sih?

Alhamdulillah wa sholatu wa salaamu ‘ala sayidinaa Muhammad, wa ‘ala alihi wa as-habihi wa man tabi’ahum bi ikhsanin ilaa yawmiddin.

Di kalangan masyarakat luas, masih terjadi kesalahan anggapan tentang istilah “muhrim”. Istilah muhrim sering dikaitkan dengan pasangan suami istri yang mana dengan demikian yang satu adalah muhrim bagi yang lainnya. Padahal hal tersebut mengandung dua kesalahan, baik secara istilah maupun makna, yakni:

Kesalahan yang pertama, penggunaan istilah muhrim. Makna secara istilah dari “muhrim” adalah “orang yang sedang melakukan ihram” untuk berhaji atau umroh. Jadi bila terkait dengan hubungan pergaulan antara laki-laki dan wanita maka istilah yang benar adalah mahrom(1) yaitu wanita yang dilarang untuk dinikahi oleh laki-laki tertentu.

Kesalahan yang kedua, penyebutan istilah muhrim/mahrom untuk si istri atau bagi si suami. Secara hukum syari’at, seorang laki-laki tidak diperbolehkan menikah dengan mahromnya jadi mana mungkin mereka menikah? Oleh karenanya kita wajib mengetahui siapa-siapa yang disebut mahrom itu, bagaimana adab pergaulan antara seseorang dengan mahromnya dan bagaimana batasan pergaulan dengan orang yang bukan mahrom?

BATASAN PERGAULAN DENGAN ORANG YANG BUKAN MAHROMNYA

Sebelum kita membahas siapa saja yang disebut mahrom, maka kita akan bahas terlebih dahulu adab pergaulan dengan orang yang bukan mahrom sebagai berikut:

1. Tidak boleh melihat auratnya kecuali wajah dan telapak tangannya dan tidak boleh memandangnya melebihi keperluan yang wajar.

Allah Sub-hanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an Surah An-Nuur ayat 30:

“Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah (2) mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Sabda Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam:

Ketika datang Asma’ binti Abu Bakar (saudari kandung ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘anha – istri Nabi) dengan menggunakan baju tipis, maka Rasulullaah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam berpaling dan bersabda: “Wahai Asma’ jika seorang wanita telah haid maka tidak boleh nampak darinya kecuali ini dan ini”, lalu beliau mengisyaratkannya kepada wajah dan telapak tangan beliau. (Hadits Riwayat Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

2.  Tidak boleh menyentuhnya, berjabat tangan, mencium dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)

3.  Tidak boleh berduaan (kholwat) baik ditempat sepi atau di tengah keramaian.

Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

4.  Tidak boleh safar / bepergian tanpa ada mahromnya.

Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Janganlah seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya, dan janganlah wanita ber-safar kecuali bersama mahromnya, Maka ada seorang lelaki berdiri lalu berkata: Wahai Rasulullaah, sesungguhnya istriku pergi haji padahal saya ikut dalam peperangan ini dan itu.  Maka Rasulullaah menjawab: “Berangkatlah untuk berhaji dengan istrimu.” (HR. Bukhari, Muslim).

5.  Tidak memerdukan / melembutkan suara kepada yang bukan mahromnya.

Allah Sub-hanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 32:

Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

Setelah kita melihat uraian di atas, maka mengetahui bahwa ada batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan wanita yang harus dijaga oleh seseorang kepada orang yang bukan mahromnya. Allah Sub-hanahu wa ta’ala telah menetapkan batasan-batasan di atas dalam rangka menutup berbagai jalan (Saddu Dzariah) menuju keburukan dan kemaksiatan dan memang ada kecenderungan hati manusia untuk melakukannya.

Sebaliknya batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan wanita tersebut di atas gugur/tidak berlaku (menjadi halal) bagi pasangan suami-istri – dan dalam kadar tertentu – juga menjadi halal khusus kepada mahrom yang permanen.

Oleh sebab hilangnya batasan-batasan pergaulan antara seorang laki-laki dengan wanita karena adanya label mahrom pada seseorang, maka kita wajib mengetahui siapa-siapa yang menjadi mahrom permanen kita agar tidak salah dalam menentukan batasan-batasan pergaulan tersebut.

SIAPAKAH MAHROM KITA?

Mahrom adalah wanita yang haram dinikahi oleh seorang laki-laki tertentu. Berdasarkan sebab-sebabnya, maka mahrom dapat dibagi menjadi 2 yaitu:

A) Mahrom permanen, dimana seorang wanita haram dinikahi sampai kapan juga (Muabbad).

B) Mahrom temporal, dimana seorang wanita haram dinikahi kecuali bila penghalang yang ada telah hilang sehingga wanita tersebut menjadi halal untuk dinikahi. (Muaqqod).

Penjelasannya ialah sebagai berikut:

A) Mahrom yang bersifat permanen (Muabbad)

Berdasarkan firman Allah Sub-hanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ ayat 22-23, seorang laki-laki dilarang secara permanen untuk terikat pernikahan dengan wanita sebagai berikut:

I. Larangan menikah permanen karena faktor keturunan / nasab :

  1. Ibu, yaitu yang memiliki hubungan darah melalui kelahiran termasuk di dalamnya nenek dari pihak ibu atau bapak dan selanjutnya ke atas.
  2. Anak, yaitu yang memiliki hubungan darah melalui keturunan termasuk di dalamnya cucu wanita dari anaknya yang laki-laki atau wanita dan seterusnya ke bawah.
  3. Saudari wanita (kakak/adik), baik seayah seibu, atau seayah saja atau seibu saja.
  4. Bibi (‘ammah) dari pihak ayah termasuk bibinya ayah dan seterusnya ke atas.
  5. Bibi (kholah) dari pihak ibu termasuk bibinya ibu dan seterusnya ke atas.
  6. Keponakan, yaitu anak wanita dari pihak saudara laki-laki dan seterusnya ke bawah.
  7. Keponakan, yaitu anak wanita dari pihak saudari wanita dan seterusnya ke bawah.

II. Larangan menikah permanen karena faktor perkawinan / mushoro’ah :

Seorang laki-laki juga dilarang secara permanen untuk terikat pernikahan dengan:

  1. Ibu tiri (istri ayah).
  2. Mertua wanita (ibu dari istri), termasuk ibu dari mertua (nenek dari istri).
  3. Anak tiri (Anak wanita dari istri yang telah dicampurinya).
  4. Menantu (istri dari anak kandung)

III. Larangan menikah permanen karena faktor persusuan / rodho’ah :

Diharamkan juga yaitu seorang laki-laki menikahi wanita karena sebab persusuan seperti misalnya: ibu susuan (yang menyusuinya), anak wanita dari ibu susuan (saudari sepersusuan), saudari dari ibu susuan (bibi), anak wanita dari saudari/saudara sepersusuan, ibu dari suami ibu susuan (nenek) dan lain-lain yang berlaku sebagaimana hubungan nasab / kekerabatan.

Dengan status mahrom permanen ini, maka :

  1. Seorang laki-laki boleh melihat aurat yang biasa tampak saat berwudhu seperti rambut, leher, tangan, kaki dari wanita yang menjadi mahromnya tersebut.(Lihat Al-Qur’an Surah An-Nuur: 31)
  2. Seorang laki-laki boleh memboncengkan mahromnya di atas hewan tunggangan (kendaraan).Dari ‘Abdur Rahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq radliallahu ‘anhuma berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan aku agar memboncengkan ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk melaksanakan ‘umrah dari at-Tan’im”. (HR. Bukhari No.2763)
  3. Seorang laki-laki boleh menyentuh, berjabat tangan atau mencium mahromnya bilamana hal tersebut tidak menimbulkan syahwat. Hal ini dicontohkan oleh Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam, Dari ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘anha : “Apabila Fatimah (putri Rasulullah) masuk menemui Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam, beliau langsung berdiri menyambutnya, lalu menggandeng tangannya, menciumnya dan mendudukkannya di tempat duduk beliau. Sebaliknya apabila beliau mengunjungi Fatimah, maka Fatimah pun berdiri menyambut beliau, menggandeng tangan, menciumj dan mempersilahkan beliau duduk di tempat duduknya.” (HR.Abu Dawud, Tirmidzi, dan Al-Hakim).
  1. Bolehnya berkholwat (menyepi/berduaan) seorang laki-laki dengan mahromnya untuk suatu keperluan yang syar’i (diperbolehkan dalam syariat).
  2. Bolehnya bersafar (berpergian) seorang laki-laki dengan seorang wanita mahrom. Bahkan wajib bagi seorang wanita bersafar ditemani suaminya atau ditemani laki-laki yang menjadi mahrom permanennya.

Note: Mahrom Permanen ini berlaku selamanya dan tidak ada satu pun alasan yang dapat merubah keharamannya menjadi halal.

B) Mahrom yang bersifat tidak permanen / temporal (Muabbad)

Seorang laki-laki dilarang untuk terikat pernikahan karena adanya penghalang karena pernikahan

dengan seorang wanita. Laki-laki ini dilarang menikahi :

  1. Ipar (saudari wanita istri) yaitu menggabungkan wanita kakak beradik dalam satu perkawinan dengan dirinya, kecuali bila istrinya itu telah meninggal dunia/bercerai.

(Lihat Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ ayat 23)

  1. Bibi dari istri baik dari pihak ayahnya atau ibunya istri, pengecualiannya bila istrinya itu telah meninggal dunia/bercerai.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:”Tidak boleh seorang wanita dikumpulkan (dalam perkawinan) dengan bibinya dari pihak ayah dan antara wanita dengan bibinya dari pihak ibu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Note: Walaupun saudari ipar dan bibi dari istri disebut sebagai mahrom juga, tetapi mahrom ini bersifat tidak permanen sehingga bukan tidak mungkin statusnya suatu saat menjadi bukan mahrom/boleh dinikahi. Oleh karenanya bagi saudari ipar dan bibi dari istri berlaku batasan pergaulan seperti kepada bukan mahromnya seperti: tidak boleh melihat auratnya kecuali wajah dan telapak tangan, tidak boleh menyentuhnya, tidak boleh berduaan dengannya, tidak boleh safar dengannya dan hal-hal lainnya yang dilarang bagi bukan mahrom sebagaimana rinciannya telah disebutkan pada awal pembahasan.

Kesimpulan

Dari pembahasan singkat di atas, maka diperoleh kesimpulan bahwa pengetahuan dan pemahaman terhadap istilah “mahrom” merupakan hal yang penting untuk diketahui dan dipelajari makna serta konsekwensi hukum syariatnya. Sebab dengan memahaminya maka seseorang dapat terhindar dari kesalahan dalam menentukan bentuk pergaulan terhadap lawan jenisnya.

Sebagai contoh, saudari dari istri atau saudara dari suami (ipar), keponakan wanita dari istri atau keponakan laki-laki dari suami bukanlah seorang mahrom permanen walaupun dalam keseharian masyarakat luas dianggap sebagai saudara dekat. Namun bukan pendapat masyarakat yang kita ikuti tetapi syariat lah yang harus kita taati.

Ketepatan penentuan mahrom ini akan menghindarkan kita dari dosa karena terlanggarnya larangan-larangan dalam syariat Islam dan juga terhindar kepada terjadinya kemaksiatan baik dalam perbuatan maupun hati. Allah Sub-hanahu wa ta’ala telah menetapkan syariat agama ini melalui Al-Qur’an dan melalui petunjuk uswatun hasanah (tauladan yang baik) manusia yaitu Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam, maka siapakah lagi yang paling tahu tentang kondisi manusia ini selain Allah Sub-hanahu wa ta’ala yang telah menciptakan manusia?

Wallaahu a’lam bishshowab.

Note:

  1. Secara lughoh (bahasa), arti mahrom berasal dari kata “haroma” (fi’il madhi/kata kerja lampau) yang artinya melarang. Isim maf’ul (obyek) dari haroma tersebut adalah “mahrom” yaitu orang yang dilarang. Sedangkan secara istilah mahrom adalah wanita-wanita yang diharamkan bagi laki-laki untuk menikahinya.
  2. Harap difahami kata “hendaklah” yang sering kita temui dalam terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia bukanlah berarti sekedar himbauan atau tidak diwajibkan, tetapi merupakan kata sisipan. Bila kita perhatikan teks asli dalam bahasa arabnya, maka tidak ada kata-kata yang bermakna “hendaklah” di sana.

> Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ ayat 22-23: artinya:

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang wanita; saudara-saudaramu yang wanita, saudara-saudara bapakmu yang wanita; saudara-saudara ibumu yang wanita; anak-anak wanita dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak wanita dari saudara-saudaramu yang wanita; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara wanita sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua wanita yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

> Al-Qur’an Surah An-Nuur ayat 30-31: artinya:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

%d bloggers like this: