Mengapa harus salafi?

Mengapa harus salaf? Tepatnya mengapa harus menjadi pengikut kaum salafus sholeh? Lebih tepatnya lagi mengapa harus bermanhaj salaf dalam beragama Islam ini?

Manhaj secara bahasa artinya jalan yang terang. Sedangkan secara istilah manhaj adalah jalan atau metode atau cara dalam memahami Islam.

Sedangkan salaf adalah telah berlalu atau yang terdahulu. Menurut istilah maka salaf bermakna sifat yang khusus dimutlakkan kepada para shahabat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wasallam. Selain mereka juga masuk kategori salaf adalah orang-orang yang mengikuti mereka (shahabat)dengan baik yaitu para tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Wajibnya bermanhaj salaf

Mengikuti manhaj salaf (yang pengikutnya disebut sebagai salafi) menjadi kewajiban ketika kita mengetahui bahwa kaum salafush sholih merupakan orang-orang yang dipuji oleh Allah Sub-hanahu wa ta’ala dan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wasallam karena mereka telah teruji dan sukses dalam menjalankan syariat agama ini dengan sebabmereka mendapatkan pengajaran secara langsung dari Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wasallam dan bahkan mereka hadir / hidup ketika ayat-ayat  Al-Qur’an masih turun kepada Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wasallam sehingga mengetahui waktu dan sebab turunnya suatu ayat, konsekwensi dan juga implementasi dari suatu ayat.

Dengan demikian, para shahabat adalah orang-orang yang paling memahami agama Islam dan mengetahui  kebenaran yang hakiki setelah Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wasallam. Oleh karenanya kepada merekalah kita belajar baik melalui hadits maupun atsar yang kita ketahui keshahihannya.

Dalil wajibnya mengikuti kaum salafus sholeh

– Dalil dari Al-Qur’an, di antaranya:

QS. At Taubah ayat 100:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”

Dari ayat ini kita mengetahui bagaimana Allah Sub-hanahu wa ta’ala memuji orang-orang yang masuk Islam di awal-awal dakwah Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam (yaitu para Shahabat). Di antaranya adalah Khulafa’ur Rasyidin yaitu Shahabat Abu Bakar, Umar Ibn Khotob, Utsman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhum.  Termasuk di antara mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha istri Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam. Ayat ini sekaligus mematahkan hujjah kaum Rafidhah (Syi’ah) yang menganggap mereka semua kafir setelah Rasulullah wafat. Manalah mungkin Allah Sub-hanahu wa ta’ala salah dalam memuji, meridhoi bahkan menjanjikan surga, dan bahkan pendapat Rafidhah tersebut menyangsikan bahwa Allah mengetahui mereka akan kafir?! Maha suci Allah dari pendapat yang demikian.

QS. An-Nisaa’ ayat 115:

Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Mafhum mukholafah (pemahaman secara terbalik) dari ayat di atas menunjukkan wajibnya tidak menentang Rasulullah, Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam. Juga wajibnya mengikuti jalan (manhaj) orang-orang mukmin yaitu manhaj para Shahabat Radhiyallaahu ‘anhum jami’an. Allah Sub-hanahu wa ta’ala pun mengancam orang-orang yang tidak mau mengikutinya akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam.

QS. Al An’aam ayat 153:

Dan sungguh inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah!  Jangan kalian ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kalian bertakwa.

Dari ayat di atas kita mengetahui bahwa banyak jalan dalam memahami agama Islam. Namun dari sekian banyak jalan itu maka hanya satu yang benar. Ini menjelaskan bahwa Islam tidak bisa dipahami melalui berbagai pemahaman, namun hanya satu kebenaran dan itulah yang boleh kita ikuti.

– Dari hadits Nabi Shollallahu ‘alayhi wa sallam, di antaranya:

(1) Dari Abdullah Ibn Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu, “Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam  membuat garis dengan tangannya (di atas tanah) kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.’  Selanjutnya beliau membaca firman Allah (Surah Al-An’aam ayat 153).”

* Hadits ini shahih, riwayat Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim dan al-Baghowi.

Hadits di atas menjelaskan tafsir dari surah Al-An’aam ayat 153 di atas yaitu yang menetapkan hanya ada satu kebenaran dalam memahami Islam.

(2) Dari Abu Sa’id al-Khudry Radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kamu mencaci-maki shahabatku, demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika seandainya salah seorang dari kalian infaq sebesar gunung Uhud berupa emas, maka belum mencapai nilai infaq mereka meskipun (infak mereka hanya) satu mud dan tidak juga separuhnya. ”

* Hadits ini shahih, riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad, Al-Baghowi.

Hadits di atas menunjukkan kelebihan para shahabat Ridhwanullaahu ‘alayhim ajmain, tidak hanya dari sisi pahala yang lebih besar tetapi juga tidak bolehnya merendahkan mereka yang berarti para Shahabat adalah individu-individu pilihan Allah Sub-hanahu wa ta’ala.

(3) Dari Irbadh Ibn Sariyah Radhiyallaahu ‘anhu, “Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Sungguh orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham-mu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

* Hadits ini shahih, riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimy, al-Baghowi.

Telah dimaklumi bahwa mengikuti Sunnah (tata cara) Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam dalam kesehariannya adalah berarti berpegang teguh kepada keyakinan, perkataan, perbuatan dan perintahnya. Hadits di atas menunjukkan bahwa Sunnah Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam digabungkan dengan Sunnah Shahabat (Khulafa’ur Rasyidin) yang berarti wajib juga untuk mengikuti dengan teguh Sunnah mereka.

(4) Dari Abdullah Ibn Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu para Shahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabiut Tabi’in).”

Hadits ini shahih, riwayat Al Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban.

Hadits ini telah jelas menunjukkan 3 generasi yang terbaik yaitu Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in (Salafush sholih).

(5) Dari Muawiyah Ibn Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya (umat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi 73 golongan, yang 72 golongan tempatnya di Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga yaitu al-Jama’ah.”

* Hadits ini shahih, riwayat Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim, ad-Darimi.

(6) Dari Abdullah Ibn ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘… Semua golongan di Neraka kecuali satu (yaitu) yang aku dan para shahabatku berjalan di atasnya.”

* Hadits ini Hasan, riwayat At-Tirmidzi, al-Hakim

Dua hadits di atas menjelaskan bahwa ada 73 golongan dalam Islam yang mana 72 golongan tempatnya (sementara) di Neraka dan hanya satu yang  langsung menuju Surga. Yaitu golongan yang mengikuti jalan Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam dan para Shahabat.  Adapun yang dimaksud dengan Jama’ah dalam hadits tersebut adalah para Shahabat Semoga Allah meridhoi mereka semua  sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah dalam I’laamul Muwaqqi’iin – sebab tidak ada jama’ah selain jama’ah para Shahabat pada masa Rasululullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam pada masa tersebut.

Demikianlah beberapa dalil secara ringkas yang menunjukkan wajibnya mengikuti manhaj / jalan para Salafush Sholih yaitu para Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in yang insya’ Allah dengannya menyelamatkan agama kita.

Wallahu a’lam.

 

Diambil sebagian dari Kitab Mulia dengan Manhaj Salaf, penulis Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, dan ceramah Ustadz Arman Amri.

 

%d bloggers like this: