Iman = Percaya?

Alhamdulillahi wa syukrulillah, wa sholatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa as-haabih.

Sedari kecil kita telah diajari tentang ‘Iman’ baik di sekolah umum maupun melalui guru-guru ngaji kita di rumah atau di surau, musholla dsb.  Namun jarang sekali kita diajari tentang makna iman.

Setiap kita diajarkan bila ditanya tentang rukun iman maka  akan menjawab: “Rukun Iman ada 6 yaitu percaya kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Malaikat-NYA, percaya kepada Kitab-Kitab-NYA, percaya kepada Rasul-Rasul-NYA, percaya kepada Hari Akhir, serta percaya adanya Taqdir baik atau buruk.”

Jawaban di atas berdalil dengan Hadits Shohih riwayat Bukhari dan Muslim dari Shahabat Umar ibn Khotob Radhiyallahu ‘anhu – ketika Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam – didatangi Malaikat Jibril  ‘alayhissalaam  dan kemudian bertanya tentang Islam, Iman dan Ikhsan kepada Rasulullah dimana jawaban  beliau menjadi washilah dalam rangka mengajarkan para shahabat – Radhiyallahu ‘anhum.

Yang jadi pertanyaannya, apakah iman adalah sekedar percaya saja? Bila dikatakan Iman kepada Allah berarti  percaya kepada Allah, cukupkah jawaban tersebut? Untuk lebih jelasnya marilah kita sama-sama mencoba membahas sedikit mengenai Iman sebagai berikut:

Makna Iman

Secara bahasa, iman artinya pembenaran hati. Sedangkan secara istilah yang dirumuskan jumhur ulama (mayoritas ulama) adalah: “membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.” Hal ini sebagaimana al Imam asy-Syafi’i meriwayatkan mengenai  ijma para shahabat, tabi’in dan orang orang yang sejaman dengan beliau atas pengertian tersebut.

Penjelasannya ialah,

‘membenarkan dengan hati’ adalah menerima segala apa yang dibawa (disampaikan) oleh Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.
‘Mengikrarkan dengan lisan’ berarti mengucapkan dua kalimat syahadat “LAA ILAAHA ILLALLAAH”, sedangkan
‘mengamalkan dengan anggota badan’ yaitu hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan dan anggota badan mengamalkan dalam bentuk ibadah sesuai fungsinya.

Hakikat Iman

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah  gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (Al Anfal : 2-4).

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa orang orang yang lembut hatinya dan takut kepada Allah –  Subhanahu wa ta ‘ala – ketika namaNya disebut maka keyakinannya bertambah dengan  mendengar ayat ayat Allah Subhanahu wa ta ‘ala.  Mereka tidak mengharapkan kepada selain Allah dan tidak menyerahkan hati mereka kecuali kepadaNya.

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman: “Dan orang orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang orang muhajirin), mereka itulah orang orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia.” (Al Anfal: 74).

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala ‘mensifati’ para shahabat Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam, baik dari kalangan Muhajirin (yaitu yang turut hijrah dari Makkah menuju Madinah) maupun kaum Anshor (yaitu penduduk Madinah yang menolong mereka) dengan sifat iman yang sebenar-benarnya karena iman mereka yang kokoh dan amal perbuatan mereka yang menjadi buah dari iman tersebut. Dan sifat iman yang sebenar-benarmya ini dipuji Allah Sub-hanahu wa ta’ala dengan ayat:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100).
Ayat ini dengan gamblang menjelaskan orang-orang yang mau mengikuti Islam (beriman) pada awal-awal da’wah Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam ialah sebagai kaum yang diridhoi Allah (ini sekaligus sebagai bantahan atas kesesatan penganut Syi’ah yang mengkafirkan hampir seluruh shahabat dan istri-istri Nabi – kecuali beberapa orang saja yang mereka akui).
Rukun & Cabang Iman

Rukun Iman
Sebagaimana telah disebutkan di muka maka Rukun Iman terdiri atas 6 yaitu sebagaimana jawaban Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam atas pertanyaan Jibril ‘alayhissalaam yaitu:
Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya dan Hari Akhir dan engkau beriman kepada Takdir yang baik maupun yang buruk.” (Hadits riwayat Bukhari I/19,20 dan Muslim I/37)
Cabang-Cabang Iman
Dalam hadits riwayat Muslim I/63 Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah LAA ILAAHA ILLALLAH, dan paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari tengah jalan, sedangkan rasa malu itu juga salah satu cabang dari iman.
Beliau menjelaskan bahwa cabang yang paling utama adalah “tawhid” yang wajib bagi setiap orang – yang mana tidak satu pun cabang iman itu menjadi sah kecuali sesudah sahnya tawhid itu. Adapun yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan seperti duri dan lainnya. Di antara yang paling utama dengan yang paling rendah tersebut maka ada cabang-cabang iman lainnya seperti cinta kepada Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam, berjihad, memuliakan tetangga dan lain sebagainya. Di antara cabang-cabang iman itu ada yang bersifat rukun / pokok yang mana hilang iman misalnya ketika seseorang mengingkari hari akhir / dibangkitkan (lhat surah At-Taghobun ayat 7) dan ada pula yang bersifat furu’ / cabang yang mana tidak menghilangkan iman ketika diingkari misalnya tidak mau memuliakan tetangga – walaupun demikian dalam keadaan demikian maka iman seseorang berkurang.
Bersambung..  materi Pembatal Pembatal Iman. Insya’ Allah.

* Diambil sebagiannya dari kitab Tawhid Lisshofits Tsani al Aliy (Terjemah oleh Yayasan Al Sofwa – Jakarta)

%d bloggers like this: