Jangan kotori akidah kita!

Sudah menjadi kebiasaan hampir seluruh masyarakat di dunia termasuk di dunia Islam pada hari-hari ini disibukkan dengan berbagai rencana bagaimana menikmati malam pergantian tahun 2012 ke tahun 2013. Seakan tidak ada kesibukan lain yang lebih mempunyai makna selain menikmati acara ‘malam tahun baruan’.

Padahal jika kita menilik sejarah perayaan Natal dan Tahun Baru, maka sebagaimana yang diakui oleh penulis barat sendiri berbunyi: *)

Catholic Encyclopedia, edisi 1911,

“Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Pharaoh dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”

Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946,

Natal bukanlah upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944,

“Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari.” Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”

Dari sejarah ini kita mengetahui bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru mempunyai keterkaitan dengan syi’ar agama di luar Islam yaitu hari perayaan kelahiran Dewa Matahari versi kaum Romawi, Mesir Kuno dan Persia Majusi atau perayaan kelahiran tuhan (Yesus) versi kaum Nasrani. Bahkan sama-sama kita ketahui umat nasrani beribadat di Gereja di dua malam tersebut dan ini sudah cukup untuk menjelaskan bahwa merayakannya berarti kita mengikuti keyakinan mereka tentang kelahiran ‘tuhan’.

Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam sendiri tidak mengajarkan umatnya untuk memperingati hari kelahiran atau tahun baru. Tidak juga kelahiran beliau dan tahun baru hijriyah 1 Muharam. Tidak ada contoh akan hal tersebut dan Nabi pun telah bersabda:

Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah itu sesat..” (H.R. Muslim)

Secara nyata pun kita melihat bahwa merayakan tahun baru menjadikan umat Islam terlalaikan dari kewajiban menuntut ilmu, kehilangan waktu sholat, berfoya foya dan bahkan bermaksiat lainnya yang sering terjadi di antara muda mudi yang berduaan menikmati malam pergantian tahun.

Maka hendaklah kita mengingat sinyalemen dari Nabi berikut:

”Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan masuk ke dalamnya”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nashara? Maka beliau menjawab:” Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”.(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad).

Sayangnya, walau sudah sudah diperingatkan seperti itu (masuk ke dalam lubang biawak) masih banyak saudara-saudari kita seiman yang masih saja melakukannya.

Wallahul musta’an.

*(lihat The Plain Truth of Christmas yang ditulis oleh pendeta Herbert W. Armstrong, mengenai masuknya ritual kaum pagan Romawi ke dalam ritual agama kristen)

%d bloggers like this: