Mencabut Akar Terorisme

Wawancara khusus DR. Muhammad Arifin bin Badri dengan Majalah Tapal Batas Edisi 16/2012  bulan Desember 2012.

Berbagai kasus terorisme yang terjadi di Indonesia lebih dari satu dasawarsa ini selalu dikaitkan dengan individu atau pun kelompok umat Islam. Walaupun tidak melulu umat Islam yang dikaitkan dengan terorisme namun beberapa tahun belakangan pelaku yang paling dominan dan terungkap selama ini adalah terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam.

Berbagai kajian, seminar maupun penelitian telah dilakukan oleh berbagai pihak baik pemerintah maupun lembaga-lembaga studi yang ada di Indonesia untuk mencoba menghadang perkembangan faham ekstrim yang telah merugikan negara, bangsa dan warganegara Indonesia tanpa terkecuali umat Islam sendiri. Namun lebih dari satu dasawarsa itu pula sejak terjadinya bom Bali I tahun 2002 hingga saat ini masalah terorisme masih saja belum terselesaikan dengan tuntas dan selalu saja ada ‘wajah-wajah baru’ yang melakukan bom bunuh diri atas nama jihad dan berbagai alasan lainnya yang terkadang tidak ada relevansi sama sekali terjadi di Indonesia seperti misalnya alasan pembalasan atas pembantaian umat Islam di Palestina oleh negara Israel, invasi Ameriika Serikat di Irak maupun penindasan-penindasan umat Islam di negara-negara lainnya.

Dalam melakukan pemberantasan terorisme maka selayaknya pemerintah juga melibatkan para ulama dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia sendiri guna ‘mencabut akar terorisme’ yang terjadi di Indonesia sehingga fungsi pemerintah tidak terkesan sebagai ‘pemadam kebakaran’ saja, tetapi bersama para ulama, pemimpin pondok pesantren maupun para juru dakwah menjadi agen informasi kepada kaum muda Islam yang menjelaskan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam) sekaligus membentengi dari pemahaman terorisme dan pemahaman-pemahaman menyimpang lainnya.

Dalam edisi kali ini Tapal Batas menurunkan satu wawancara dengan DR. Muhammad Arifin bin Badri, Dosen Sekolah Tinggi Dirosat Islamiyyah (STDI) Imam Syafii Jember Jawa Timur. Latar belakangnya yang kuliah di Fakultas Syariah Islamic University of Madinah – Saudi Arabia sejak tingkat S1 hingga tingkat Doktoral jurusan Fiqih di Universitas yang sama menjadikan ia merupakan salah satu narasumber penting dalam memberikan berbagai masukan terkait dengan pemberantasan faham ekstrim di Indonesia.

Selain dikenal sebagai seorang dosen, DR. Muhammad Arifin bin Badri juga dikenal sebagai salah satu pakar ilmu fiqih, narasumber dalam berbagai seminar Ekonomi Syariah, Anggota Dewan Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), Pembina Media InsanTV sekaligus sebagai ustadz ahlussunnah wal jama’ah yang mengisi berbagai kajian agama di berbagai tempat. Penampilannya yang berjanggut lebat pernah membuatnya dicap sebagai ‘teroris’ oleh sebuah televisi swasta besar di Indonesia, padahal justru ia merupakan salah satu da’i yang sering menjelaskan bahwa terorisme bukanlah jihad dan bertentangan dengan pemahaman Islam yang benar.

Berikut penuturannya mengenai terorisme di Indonesia.

Apa sebenarnya definisi terorisme dalam syariat agama Islam?

Kata terorisme berasalkan dari kata teror yang dalam bahasa arab diartikan dengan kata “irhab”, yaitutindak membangkitkan rasa takut dan cemas pada orang lain. Bila kita telusuri penggunaan kata “irhab” dalam Al Qur’an, niscaya kita temukan bahwa “irhab” digunakan dalam tindakan yang terpuji dan juga yang tercela.

Misalnya pada surat Al Anfal ayat 60, disebutkan kata : “turhibuna”. Pada ayat ini kata “irhab” digunakan pada tindakan yang terpuji, yaitu menakut-nakutimusuh dari luar. Allah memerintahkan umat Islam agar menyiapkan segala bentuk kekuatan guna menumbuhkan rasa segan pada diri musuh-musuh umat Islam.

Adanya tindak “irhab” seperti ini kita dapat hidup bermartabat dan bebas dari campur tangan asing. Sebagaimana dengan cara ini stabilitas dan kedaulatan negeri kita dapat terjaga.

Saya yakin, setiap negara berjuang keras untuk mampu melakukan “irhab” atau teror dengan makna semacam ini. Seluruh negarasaat ini berlomba-lomba untuk menciptakan kemandirian dalam segala hal termasuk dalam persenjataan. Karena itu pada kesempatan ini saya mengapresiasi upaya pemerintah kita yang terus mengupayakan terciptanya kemandirian alut sista kita. Semua ini dilakukan bukan untuk menindas atau merampas hak negara lain, namun untuk melindungi kepentingan bangsa kita dari ancaman pihak luar atau dalam negeri.

Sebagai wartawan, anda pasti ingat bagaimana kondisi negara kita beberapa tahun silam, semasa mengalami embargo senjata. Pesawat tempur kita satu persatu berjatuhan dan martabat negara kita dinodai oleh negara-negara lain.

Pada ayat lain kita temukan kata “irhab” digunakan dalam hal yang tercela yaitu tindakan membangkitkan rasa takut atau cemas dengan cara atau untuk tujuan yang tidak dibenarkan. Contohnya pada surat Al A’raf ayat 116. Pada ayat ini Allah mengisahkan bagaimana para tukang sihir Fir’aun menyihir pandangan masyarakat, sehingga mereka menjadi takut dan cemas.

Kata “irhab” juga digunakan untuk menggambarkan sikap takut kepada Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha pedih siksa-Nya, sebagaimana pada surat Al Baqarah ayat 40. Pada ayat ini, Allah memerintahkan Bani Israil agar senantiasa takut kepada kepada Allah Azza wa Jalla.

Singkat kata, kata teror atau “irhab” memiliki makna yang luas sehingga tidak bijak bila kata ini disempitkan pada tindakan yang tercela saja.

Apakah memang di dalam agama Islam diajarkan mengenai terorisme ini?
Islam adalah agama pembawa rahmat bagi semesta alam, sebagaimana ditegaskan pada surat Al Anbiya’ 107. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Islam hanya mengajarkan hal-hal yang menyejukkan hidup seluruh umat manusia.

Benar adanya, Islam mengajarkan jihad melawan musuh. Walau demikian jihad dalam Islam hanyalah dijalankan dengan cara-cara yang terhormat dan bermartabat sebagaimana digambarkan pada surat Al Anfal ayat 58 berikut:

Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian oknum umat Islam dengan latar belakang yang berbeda-beda memahami ajaran islam ini secara parsial. Sikap ini menjerumuskan mereka dalam kesesatan karena salah memahami dan mengimplementasikan sebagian syari’at Islam. Padahal Allah memerintahkan kita untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara kafah, sebagaimana ditegaskan pada surat Al Baqarah ayat 208.

Berdasarkan ini, para ulama’ sepakat bahwa metode paling benar dalam memahami dalil baik Al Qur’an ataupun hadits ialah dengan menggabungkan seluruh dalil terkait pada setiap masalah. Selanjutnya dari komulasi seluruh dalil tersebut disimpulkan satu pemahaman yang dapat mengakomodir seluruh dalil-dalil yang ada.

Kalau kita merujuk kepada keterangan para teroris yang tertangkap atau melalui rekaman video mereka, dijelaskan dalil-dalil dari Al Qur’an dan   hadits yang mendasari tindakan mereka. Bagaimana tanggapan anda?

Sebagaimana telah saya kemukakan bahwa ada sebagian oknum umat Islam yang memahami dan mengamalkan Islam secara parsial, sehingga mereka terjerumus dalam kesalahan. Contoh sederhana: Pada surat Al Ma’un ayat 4, dinyatakan: “maka celakalah bagi orang-orang yang mendirikan shalat.”

Bila ayat ini anda pahami secara parsial niscaya anda terjerumus dalam kesalahan. Beda halnya bila anda mengkaji ayat di atas secara komprehensif dan mengaitkanya dengan dalil-dalil lain yang terkait. Dengan kajian semacam ini anda akan sampai pada pemahaman yang benar, yaitu yang celaka ialah orang yang mendirikan shalat namun dengan cara-cara yang menyimpang. Shalat namun melalaikan syarat atau rukunnya, atau shalat namun hampa dari penghayatan, sehingga shalatnya sia-sia.

Kejadian serupa juga terjadi dengan dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah status keislaman atau kekafiran seseorang. Ulama’ telah menjelaskan bahwa dalil-dalil yang ada haruslah dikaji secara menyeluruh, agar dicapai pemahaman yang tepat.

Semua umat Islam telah mengetahui bahwa Fir’aun dinyatakan kafir karena ia dengan sadar mengaku sebagai tuhan, sebagaimana dikisahkan pada surat An Nazi’at ayat 24. Namun bila perbuatan ini, yaitu mengaku sebagai tuhan terjadi tanpa disengaja, alias salah ucap maka pelakunya tidak kafir.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa pada suatu hari Nabi mengisahkan satu kisah yang sangat unik. Beliau bersabda:“Sungguh kegembiran Allah atas taubat seorang hamba melebihi kegembiraan seorang musafir di padang pasiryang berhasil menemukan kembali onta tunggangannya, yang pergimembawa serta perbekalannya. Karena putus asauntuk dapat menemukan ontanya,musafir itu berbaring di bawah sebatang pohonguna menanti datangnya ajal. Namun betapa terkejutnya ia, tanpa diduga-duga, onta yang telah pergi itu datang menghampirinya. Tanpa menunda-nunda, ia langsung memegang tali kekangnya. Dan karena tertalu girang, ia berkata: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu”. Begitu girang, sampai-sampai ia salah berucap.

Singkat kata para ulama’ menjelaskan bahwa klaim kafir atas seseorang hanya dapat terjadi bila telah memenuhi berbagai persyaratan dan telah sirna seluruh penghalangnya. Para ulama’ juga menegaskan bahwa klaim kafir atas seseorang adalah bagian dari hukum agama yang hanya boleh dilakukan oleh seorang ulama’ yang mumpuni, sebagaimana halnya hukum-hukum Islam lainnya.

Bila prosedur penetapan hukum kafir yang merupakan satu produk hukum agama ini dilanggar niscaya terjadi ketimpangan dan kekacauan sebagaimana yang dijelaskan pada hadits berikut:

Sejatinya Allah tidaklah mencabut ilmu agama dengan cara mencabutnya langsung dari dada hamba-hambanya. Namun Allah mencabut ilmu dengan cara mematikan para ulama’. Hingga pada saatnya nanti tidak tersisa seorang ulama’pun, sehingga akibatnya masyarakat menjadikan orang-orang bodoh sebagai panutan mereka. Acap kali orang-orang bodoh tersebut ditanya tentang suatu hal maka mereka menjawab tanpa dasar ilmu, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan orang lain.” Bukhari dan Muslim.

Apakah memang ada multi tafsir dalam menafsirkan Al Qur’an dan hadits?

Bila yang dimaksud dengan multi tafsir dalam penafsiran Al Qur’an dan hadits adalah antara para ulama’ yang berkompeten, maka sebatas yang saya ketahui hanyalah sedikit. Dan kalaupun itu terjadi, biasanya ulama’-ulama’ lain yang lebih berkompeten dan jumlahnya lebih banyak segera meluruskan pemahaman sebagian orang yang terbukti menyimpang.

Namun bila yang dimaksudkan dengan multi tafsir adalah antara semua orang tanpa menilik tingkat kredibilitas mereka, maka benar adanya. Telah tejadi perbedaan pandang antara ulama’-ulama’ yang berkompeten dengan tokoh-tokoh sekte yang menyimpang. Misalnya perbedaan antara ulama’-ulama’ yang berkompeten termasuk yang terafliiasi dengan empat mazhab menyatakan bahwa pelaku dosa besar tetap berstatus sebagai orang islam, walaupun kadar imannya surut atau berkurang.

Di sisi lain, tokoh-tokoh sekte khowarij menyatakan bahwa setiap pelaku dosa besar secara otomatis keluar dari islam alias kafir. Dan karena telah berstatus sebagai orang kafir maka nyawa, keluarga harta dan harga dirinya halal untuk mereka rampas.

Pemahaman sekte inilah yang terbukti diajarkan kepada para pemuda yang terjaring oleh jaringan teroris. Berbagai referensi, buku atau tulisan tooh-tokoh sekte ini banyak beredar di masyarakat dan juga dapat dengan mudah diunduh dari berbagai situs atau blog di jaringan internet.

Bolehkah berbeda tafsir sebagaimana sebagian kalangan mengatakan bahwa kebenaran hanyalah milik Allah sehingga semua orang boleh saja menafsirkan Al-Qur’an sesuai pendapat atau pemahamannya?

Perbedaan adalah suatu kepastian yang tidak dapat dipungkiri karena telah menjadi bagian dari kodrat ilahi, sehingga tidak perlu dirisaukan atau diperangi. Namun yang perlu ditekankan ialah siapakah yang berhak untuk menafsirkan Al Qur’an dan Al Hadits? Tentunya kita sepakat bahwa hanya orang-orang yang berkompeten, yaitu para ulama’ yang berhak manafsirkan Al Qur’an dan Al Hadits.

Di sisi lain ada satu hal penting yang perlu ditekankan yaitu etika ketika berbeda pendapat. Islam mengajarkan agar semua pihak senantiasa bersikap obyektif sehingga mengedepankan kebenaran di atas segala hal dan meninggalkan pendapat yang terbukti menyimpang. Rasulullah telah menegaskan: “Setiap anak manusia pastilah banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan ialah yang mudah bertaubat.” Riwayat At Tirmizy.

Sebagaimana halnya Islam juga mengajarkan bahwa adanya perbedaan pendapat antara orang-orang yang berkompeten tidak sepantasnya dijadikan sebagai alasan untuk saling membenci atau menjatuhkan. Bila kedewasaan sikap semacam ini dimiliki oleh setiap komponen masyarakat, niscaya tercipta suasana yang kondusif dan harmonis walau diantara mereka terjadi perbedaan.

Bagaimana tafsir yang seharusnya digunakan oleh umat Islam? 

Umat islam dalam urusan agama sepatutnya bersikap selektif, sehingga tidak ceroboh dalam menerima suatu penafsiran atau pendapat. Bila ada suatu pemahaman, terlebih dahulu ditinjau dasar hukumnya lalu ditinjau pula siapa yang mengutarakannya. Bila terbukti suatu penafsiran dinyatakan tanpa dalil yang kuat atau diutarakan oleh orang yang tidak berkompeten, maka sudah sepantasnya untuk ditolak.

Sebagian orang mengatakan bahwa para teroris terkait dengan pemahaman khowarij atau wahhabi. Apakah benar demikian?

Benar adanya, pemikiran para pelaku teror menyimpang yang terjadi saat ini terbukti berafiliasi dengan pemahaman sekte khowarij sebagaimana telah saya utarakan sebelumnya.

Adapun pemahaman wahhabi yang diyakini oleh masyarakat sebagai pemahaman yang diajarkan oleh syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab maka sepenuhnya tidak benar. Sebagai salah satu buktinya, adalah negara Saudi Arabia yang merupakan negara yang beliau dirikan bersama murid-muridnya adalah salah satu korban praktek terorisme.

Selama saya mengenyam pendidikan di Saudi Arabia selama 15 tahun, saya menyaksikan dengan langsung bagaimana pemerintah dan ulama’-ulama setempat dengan gencar memerangi pemahaman sesat ini. Bahkan menurut saya, negara Saudi dalam hal perang terhadap terorisme telah melangkah lebih maju, yaitu dengan mempersempit ruang peredaran buku-buku yang mengajarkan paham ekstrim. Sebagaimana Saudi Arabia juga membentuk Badan Rehabilitasi guna membebaskan para pemuda dari pengaruh paham sesat ini.

Ada sebagian kalangan umat Islam yang menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara ‘thogut’ karena menerapkan hukum selain hukum Islam, pada gilirannya mereka menganggap Indonesia adalah negara kafir dan membolehkan upaya upaya perlawanan kepada pemerintah baik menjatuhkan atau membangun negara baru yang menerapkan hukum Islam – baik dengan cara halus misalnya melalui konstitusi maupun dengan cara kekerasan. Apakah pernyataan yang demikian dapat dibenarkan?

Masalah status negara kita, maka kita semua mengetahui bahwa negara kita adalah negara demokrasi dan bukan negara agamis. Namun status ini bukanlah masalah utama dalam hal ini, mengingat Islam tidak mementingkan bentuk suatu negara. Islam lebih mengedepankan substansi dibanding model atau sebutan suatu negara. Substansi suatu negara ialah tegaknya kebenaran, dan keadilan serta tercapainya kebebasan menjalankan ibadah bagi umat Islam. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan sahabatnya untuk berhijrah ke negri Habasyah (Etiopia). Alasannya jelas, yaitu karena raja setempat -walau beragama nasrani- memberikan perlindungan kepada semua orang yang tinggal di negerinya untuk menjalankan ajaran agamanya.

Walau demikian Islam tetap mengajarkan agar setiap orang, masing-masing sesuai dengan potensi dan wewenangnya untuk berperan aktif dalam penegakan kebenaran dan keadilan. Semua berpartisipasi dengan cara-cara yang bijak dan lembut. Allah Ta’ala berfirman: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(An Nahl 125)

Kepolisian dalam hal ini Detasemen Khusus (Densus) 88 akhir-akhir ini terus saja menangkapi orang-orang yang dianggap teroris. Padahal selama ini begitu banyak tersangka teroris atau calon teroris yang telah ditangkap. Apakah ini tanda bahwa pemahaman yang dianut oleh teroris telah begitu meluas di masyarakat sehingga selalu saja ada yang menjadi tersangka teroris baru?

Benar demikian adanya, para penganut paham ekstrim dengan bebas mengajarkan pahamnya di negeri kita. Belum ada upaya serius untuk menanggulangi penyebaran paham ini di masyarakat kita. Yang terjadi selama ini hanyalah sebatas penangkapan atau penindakan terhadap orang-orang yang telah beraksi atau dikhawatirkan akan beraksi. Adapun pemahamannya masih dengan leluasa disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat.

Menurut anda, apa yang menyebabkan pemahaman teroris ini berkembang di masyarakat?

Banyak hal yang melatarbelakangi penyebaran paham sesat, termasuk paham ekstrim, diantaranya: rendahnya pemahaman masyarakat terhadap agamanya, banyak dari tokoh agama kita yang lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan urusan selain agama. Ditambah lagi negara kita tidak memiliki pengawasan yang cukup terhadap penyebaran paham dan praktek keagamaan masyarakat guna mencegah penyebaran paham-paham menyimpang seperti ini. Akibatnya masyarakat kita menjadi mangsa empuk bagi para tokoh-tokoh paham sesat.

Kita melihat kasus terorisme di masa lalu misalnya Jama’ah Imron yang membajak pesawat Garuda Woyla terinspirasi oleh Revolusi Syiah di Iran   tahun 1979. Mereka juga pernah mengirim surat ke kedutaan Iran untuk meminta dukungan dana. Apakah ini berarti ada pengaruh asing pada setiap kejadian terorisme?

Masalah pengaruh asing, adalah suatu hal yang pasti terjadi, karena banyak pihak yang berkepentingan dari terjadinya instabilitas di negara kita.  Namun sebagai bangsa yang berdaulat tidak layak bila kita hanya bisa melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, karena itu sama halnya dengan mengemis rasa iba dari mereka.

Marilah kita bangun kemandirian dalam menanggulangi ancaman dan menyelesaikan masalah yang ada di dalam negri kita. Dengan cara ini kita menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat. Pihak luar  segan untuk megusik dan musuh dalam selimut menjadi ciut untuk berulah. Demikianlah pelajaran yang dapat kita petik dari ayat berikut:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang tidak kamu tidak ketahui (musuh dalam selimut atau orang-orang munafik); sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”  Al Anfal 60

Bagaimana cara-cara yang harus dilakukan untuk merubah pemahaman teroris yang berkembang di masyarakat tersebut?

Menurut hemat saya, cara paling efektif guna mencegah penyebaran paham sesat ialah dengan melakukan tindakan preventif. Sebarkan paham dan praktek keagamaan yang benar yang berlandaskan pada Al Qur’an dan Al Hadits selaras dengan praktek ulama’ terdahulu. Sejarah selama lebih dari 13 abad telah membuktikan bahwa Islam yang benar mampu menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi semua umat.

Upaya ini dilengkapi dengan memberikan penyuluhan yang cukup kepada masyarakat tentang berbagai paham sesat, sehingga mereka dapat mewaspadainya.

Metode ini serupa dengan penanggulangan wabah penyakit, yaitu dengan membudayakan gaya hidup sehat dan memberi mereka suntikan imunusiasi yang tepat. Dengan cara ini insya Allah masyarakat dapat mencapai hidup sehat dan terhindar dari ancaman wabah penyakit.

Kita melihat aksi kekerasan yang dilakukan berbagai kelompok Islam di Indonesia misalnya dengan merusak sarana umum, merusak perusahaan yang identik dengan negara Amerika Serikat bahkan hingga melawan aparat keamanan yang semuanya dilakukan dalam rangka memprotes film yang menghina agama Islam. Menurut anda, bagaimana sebaiknya memprotes hal tersebut karena di satu pihak masyarakat ingin membela nama baik Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam sementara di pihak lain tidak ada tindakan tegas dari negara- negara yang notabene adalah negara Islam?

Islam sama sekali tidak membenarkan tindak anarkis semacam ini, karena tindakan itu hanyalah sia-sia, bahkan semakin merugikan umat Islam. Adapun orang-orang yang mencoreng kesucian Islam tetap saja tidak tersentuh.

Cara yang benar dalam mencegah ulah nakal seperti ini ialah dengan bahu-membahu bersama pemerintah kita dalam menciptakan kemandirian dalam berbagai hal, termasuk dalam kekuatan militer. Bila umat Islam telah memiliki kemandirian dalam segala aspek, niscaya bangsa lain akan segan, sehingga berpikir sejuta kali bila hendak mengusik ketenangan umat Islam.

Bagaimana syari’at agama Islam dalam menyikapi umat agama yang berbeda?

Adanya perbedaan idiologi, keyakinan dan agama adalah bagian dari kodrat ilahi. Karena itu Allah Azza wa Jalla mengutus para rasul dan dan menurunkan kitab-kitab guna menjadi petunjuk bagi umat manusia dalam menentukan jalan hidupnya. Sebagaimana halnya manusia juga dibekali dengan hati nurani dan akal sehat. Harapannya, dengan berbekalkan akal sehat dan petunjuk wahyu yang dibawa para rasul, setiap manusia dapat menentukan jalan hidupnya dengan tepat.

Inilah alasan mengapa Islam tidak pernah memaksa siapapun untuk memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Tiada paksaan untuk masuk ke dalam agama.(Islam). Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Al Baqarah 256.

Karena itu dalam surat Al A’araf 179 ditegaskan bahwa kesalahan seseorang dalam menentukan jalan hidupnya, merupakan bukti nyata bahwa ia telah menyia-nyiakan hati nurani dan nalar sehatnya.

Alasan inilah yang melandasi setiap orang Islam untuk meyakini bahwa hanya Islam yang benar dan hanya islam  yang diterima Allah, sebagaimana ditegaskan pada surat Ali Imran ayat 19 & 85.

Walau demikian halnya, Islam menekankan agar keyakinan ini diterapkan dengan cara yang bijak, lembut dan jauh dari tindakan anarkis. Karenanya Islam memberikan ruang yang luas bagi umatnya untuk dapat hidup damai bersandingan dengan penganut agama lain, asalkan mereka tidak menampak kebencian atau permusuhan kepada Islam dan  umatnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tiada pula mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”  Al Mumtahanah 8

Toleransi dianjurkan, berbuat baik disyari’atkan, tolong menolong menjadi suatu kepastian walaupun anda bersebrangan agama dengan tetangga. Masing-masing umat menjalankan iman dan ibadah sesuai dengan yang diajarkan oleh agamanya, tanpa harus saling menghina atau memperolok-olok demikian ditegaskan pada surat Al-An’am ayat 108.

Islam mengajarkan bertoleransi, namun pada saat yang sama Islam mengharamkan praktek tukar menukar idiologi atau amal ibadah, sebagaimana yang ditegaskan pada surat Al Kafirun.

Selain dikenal sebagai seorang dosen dan ahli ekonomi syariah, anda juga dikenal sebagai ustadz di berbagai tempat termasuk berceramah di Markas Brimob di Kelapa Dua Depok. Dengan penampilan berjanggut serta bercelana tidak melebihi mata kaki apa anda tidak takut disangka teroris?

Telah saya kemukakan bahwa terorisme bukanlah penampilan namun suatu idiologi atau pola pikir menyimpang yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan. Memelihara jenggot dan mengenakan celana di atas mata kaki adalah tuntunan agama islam, sehingga harus diamalkan.

Dan sebagai seorang juru dakwah saya memiliki tanggung jawab moral untuk menjelaskan dan juga membuktikan bahwa penampilan seperti ini tidak ada kaitannya dengan terorisme. Terlebih para aktor teroris ketika melancarkan aksinya tidak berjenggot dan mengenakan pakaian biasa sebagaimana yang dikenakan oleh masyarakat umum. Biasanya, mereka memanjangkan jenggotnya setelah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Dan sebagai seorang wartawan, anda pasti mengetahui fenomena ini. Sekali lagi saya tekankan bahwa terorisme adalah pola pikir menyimpang yang diwujudkan dalam tindakan dan bukan penampilan.

Beberapa waktu yang lalu anda sempat salah ditampilkan sebagai seorang tokoh teroris oleh stasiun televisi TVOne hingga akhirnya dilakukan klarifikasi atas kesalahan tersebut. Bagaimana perasaan anda ketika pertama kali mendengar kesalahan tersebut?

Pada awalnya saya cukup terkejut, karena saya merasa selama ini turut berperan aktif dalam menanggulangi paham ekstrim ini, namun kok malah tertuduh menjadi salah satu aktornya. Terlebih Badri yang dimaksud telah ditangkap oleh aparat yang berwajib. Sehingga menurut hemat saya kesalahan ini fatal dan jauh dari alasan yang dapat diterima oleh nalar sehat.

Saat ini sudah tidak ada masalah lagi?

Setelah pihak TVOne bersikap kooperatif dengan meralat pemberitaan dan memberi saya ruang untuk memberikan klarifikasi, maka masalah ini saya anggap selesai. Saya tidak berkepentingan untuk mengusut lebih lanjut latar belakang terjadinya kesalahan ini. Yang penting bagi saya adalah misi saya sebagai seorang juru dakwah dalam menyebarkan pemahaman islam yang benar tidak terganggu dengan pemberitaan tersebut.

Sebagai penutup, apa pesan anda kepada kaum muslimin agar tidak jatuh dalam pemahaman teroris maupun pemahaman yang menyimpang lainnya?

Saya menyeru kepada seluruh umat Islam, marilah kita kaji agama kita ini langsung dari sumbernya yaitu Al Qur’an dan Al Hadits sesuai dengan kaedah-kaedah yang telah diajarkan oleh ulama’-ulama’ kita. Hal ini yang mendorong saya bersama teman-teman untuk merintis sekolah tinggi (STDI Imam Syafii) di kota Jember Jawa Timur, yang proses perkuliahannya kami menggunakan bahasa Arab. Harapannya, mahasiswa kita mampu mengkaji syari’at Islam secara langsung dari sumbernya yaitu Al Qur’an dan Al Hadits, sehingga terhindar dari berbagai paham yang menyimpang.

Saya juga mengajak seluruh umat Islam untuk berperan aktif bersama pemerintah kita dalam membangun negara ini. Masing-masing dari kita menyalurkan kontribusinya melalui berbagai media yang ada dan dengan cara-cara yang selaras dengan potensi dan wewenangnya masing-masing. Besar harapan saya negara kita yang merupakan negara Islam terbesar di dunia ini dapat menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain dalam penegakkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya.

%d bloggers like this: