Dalil Sutroh (pembatas sholat)

Rasulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Idzaa shollaa ahadukum falyusholli ilaa sutroh, walyadnu minha walaa yada’ ahadan yamurru baynahu wa baynaha.”

Artinya: “Apabila seseorang di antara kalian melaksanakan sholat, maka sholatlah dengan menggunakan pembatas, dan hendaklah dia mendekati pembatas tersebut, janganlah ia membiarkan seorang pun lewat di antara dirinya dan pembatas tersebut.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah).

Syarat-syarat sutroh:

– tinggi sutroh sekitar min. sejengkal tangan. Bisa berupa tiang masjid, tas, dinding dan sebagainya.

– jarak dari berdiri kurang lebih 3 hasta (secukup untuk sujud)

– sutroh digunakan saat sholat sendiri atau menjadi imam sholat.

– makmum sholat berjama’ah tidak disyaratkan sutroh karena sutroh imam adalah sutroh makmum.

– hendaknya menahan orang yang lewat di depan kita (antara kita dan sutroh)

– diperbolehkan lewat dihadapan makmum bila ada keperluan mendesak.
* Beberapa dalil berkait dengan sutroh di antaranya:

Hadits Rasulullah:

“Janganlah kalian sholat kecuali menghadap sutroh dan jangan biarkan seorangpun lewat di depanmu, jika dia enggan maka tolaklah dengan lebih keras karena syaithon bersamanya.” (Hadits riwayat Muslim dan Ibnu Khuzimah)

“Seandainya seseorang tahu dosanya lewat di depan orang sholat, maka lebih baik baginya berhenti selama 40 (tahun)” Hadits riwayat Bukhori dan Muslim).

Dari ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘anha, “Pada waktu perang tabuk Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam ditanya tentang sutroh orang sholat, maka beliau menjawab, ‘tiang setinggi pelana’ ” (dikeluarkan Oleh Muslim di dalam shahihnya).

Atsar sahabat:

Dari Qurroh ibn Ilyas, dia berkata: “Umar telah melihat saya ketika saya sedang sholat di antara 2 tiang, maka dia memegang tengkuk saya lalu mendekatkan saya kepada sutroh, maka dia berkata,’ Sholatlah engkau dengan menghadap kepadanya’ ” (dikeluarkan oleh Bukhari dalam shahihnya).

Dari Anas ibn Malik, dia berkata, “Sesungguhnya saya melhat sahabat2 Nabi bergegas menuju tiang2 di saat sholat Maghrib, sampai Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam keluar (dari rumah beliau ke masjid).” (Dikeluarkan oleh Bukhari dalam shahihnya).

Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: