HUKUM SHOLAT BERJAMA’AH DI MASJID

interior-Masjid-Nabawi-Madinah12
 

 

 

 

A. Hukum sholat berjama’ah bagi kaum laki-laki.

Pendapat 1.

Fardhu ‘ain (Wajib). Ini  adalah pendapat Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu dan Abu Musa, Atho’ bin Abu Robbah, Al Auza’i  dan Abu Tsaur, dan merupakan pendapat imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Hazm dan ini yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Dalilnya antara lain:

a) disyariatkannya sholat khouf yaitu sholat berjama’ah dalam keadaan takut diserang musuh (saat perang) dengan adanya beberapa perbedaan tatacara daripada sholat dalam keadaan aman (lihat QS An Nisaa’ ayat 102).

Bila dalam keadaan berperang saja diperintahkan berjama’ah apalah lagi dalam keadaan aman.

b) Perintah Allah dalam surat Al Baqoroh ayat 43: “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (dalam keadaan berjamaah)..”

c) Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu berkata: “suatu hari datang seorang buta kepada Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mendapatkan penuntun yang mengantarkanku ke masjid’.  Maka ia meminta keringanan untuk shollat di rumah. Maka Rasulullah mengijinkannya. Namun ketika laki-laki itu beranjak pergi maka Rasulullah memanggilnya dan bertanya ‘Apakah kamu mendengar adzan?”, Ia menjawab, “Ya”, Rasululloh bersabda, “Penuhilah seruan (adzan) itu.” (HR. Muslim)

Bila seorang buta tetap diperintahkan untuk datang sholat berjama’ah ke masjid maka apalah lagi seorang yang sehat dan normal.

Pendapat 2.

Fardhu Kifayah atau Mustahab.
Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i.

Dalil mereka antara lain adalah:

Dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sholat jama’ah lebih utama daripada sholat sendiri sebanyak 27 derajat. (HR Bukhari dan Muslim)

Namun patut diketahui tidak ada dari para imam dengan pendapat ini  yang menyepelekan sholat 5 waktu berjama’ah di masjid walaupun mereka tidak mewajibkannya. Kaum muslimin tetap ditekankan sholat berjama’ah di masjid bila tidak ada halangan.

B. Hukum sholat berjama’ah bagi kaum Wanita

Hukumnya tidak wajib dan bila berjama’ah (baik dengan sesama wanita di rumah atau di masjid) maka berlaku keumuman hadits tentang keutamaan berjama’ah.

Apakah sebaiknya di masjid atau di rumah?

Syaikh bin Baz dalam kitab Ad Da’wah memfatwakan bolehnya seorang wanita untuk sholat di masjid bila ia memenuhi adab-adab wanita ketika keluar rumah antara lain menutup auratnya dengan pakaian sesuai syariat, tidak berhias dan tidak menggunakan wewangian. Namun tentunya sholat di rumah lebih baik baginya.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian melarang istri-istri  kalian datang ke masjid, dan rumah-rumah mereka (wanita) lebih baik bagi mereka.” (HR Abu Dawud).

Rasulullah bersabda di Madinah, dimana keutamaan sholat di masjid Nabawi 1000 kali lebih utama dibanding masjid lain. Maka rumah kaum wanita ternyata lebih utama bagi kaum wanita.

Juga salah satu syarat bolehnya wanita sholat di masjid adalah tidak bercampur baur dengan kaum laki-laki baik saat sholat maupun ketika keluar/masuk masjid atau berwudhu.

Berkenaan dengan wewangian, Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang wanita keluar menuju masjid dan menyebar bau wanginya, tidak akan diterima oleh Allah sholatnya sampai dia kembali ke rumahnya dan mandi.”. (HR Al Baihaqi).
Dalam riwayat An Nasa’i disebutkan “..mandi sebagaimana mandi junub.”

Sebagian kalangan menganggap riwayat-riwayat di atas adalah bentuk pengekangan kepada kaum wanita, padahal ini adalah bentuk perlindungan Islam kepada kaum wanita agar tidak menjadi obyek pandangan dan gangguan dari laki-laki yang mempunyai penyakit di hatinya.

Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: