Selamat Natal = Meridhoi keyakinan Kufur ?

Sudah mulai musim natal lagi .. Sekedar mengingatkan kembali diri kita karena manusia  adalah tempatnya lupa (insan = lupa)..

Sudah kita fahami bahwa peringatan Natal mengandung pemahaman bertentangan dalam aqidah Islam yang shohih dimana kita harus  mentauhidkan Allah semata. Sementara natal justru  bermakna menserikatkan Allah karena meyakini lahirnya si tuhan anak.   Padahal tidaklah kaum muslimin  memiliki ilaah (sesembahan) yang haq/benar kecuali hanya Allah saja.

Dalam peringatan natal  kaum nasrani memperingati kelahiran Nabi Isa ‘alayhissalaam (Yesus, dalam bahasa yunani) sebagai anak ‘tuhan’. Keyakinan seperti ini sebenarnya dipengaruhi keyakinan kaum pagan (penyembah dewa-dewa) yang percaya akan kelahiran putra dewa matahari di bulan Desember (lihat the Plain Truth of Christmas).

Keyakinan tsb  merupakan berita ghoib (tidak diketahui hakikatnya) dan tidaklah kita sebagai orang beriman meyakini permasalahan agama sampai ada penjelasannya berupa dalil dari Al Qur’an dan hadits yang shohih.  Bila tidak ada, maka keyakinan apalagi yang mengandung kemusyrikan seperti itu wajib ditinggalkan.

Coba kita lihat penjelasan Allah azza wa jalla siapakah yang disalib:

“Dan karena ucapan mereka: sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka . .” (An Nisaa’ 157)

Jadi Allah menyatakan bahwa bukan Isa (Yesus) yang disalib.

Kedua, Yesus dinyatakan sebagai anak ‘tuhan’ oleh Paulus setelah  ‘pertemuannya’ dengan cahaya menyilaukan (menurutnya itulah Yesus setelah penyaliban). Ini terjadi ketika Paulus  dalam perjalanan menuju Damsyik.

Sekarang kita lihat penjelasan Allah azza wa jalla:

“Wahai ahli kitab janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah (yang diciptakan dengan) kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dariNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah  dan Rasul RasulNya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi
adalah kepunyaanNya. Cukuplah Allah menjadi pemelihara.” (An Nisaa’ 171)

Setelah kita mengetahui dalil di atas maka masihkah kita sanggup mengucapkan selamat natal kepada kaum nasrani yang tentunya akan dimaknai sebagai doa keselamatan bagi orang yang yakin  Allah mempunyai putera? Atau ucapan itu menjadi keridhoan kita  atas aqidah menyimpang mereka? Atau setidaknya, ucapan selamat kita akan membuat mereka semakin  mantap dalam kekufuran mereka? Laa hawla walaa quwwata illaa biLlaahi, semoga Allah senantiasa membantu kita dalam menjaga aqidah yang lurus sebagai persyaratan diterimanya amal kita di akhirat kelak.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:
‪”Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan masuk ke dalamnya”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nashara? Maka beliau menjawab:” Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”.(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad).‬

%d bloggers like this: