Merayakan Tahun Baru di Mekkah, adakah?

Makin deket ke liang kubur

Makin deket ke liang kubur

Alhamdulillah, Allaahumma sholli wa sallim ‘ala nabiyinaa Muhammad.

Bagi sebagian orang Indonesia yang pernah berada di negara Saudi pada akhir bulan Desember misalnya ketika haji atau umroh, maka akan terheran-heran karena malam pergantian tahun baru sepi sepi saja, tidak terdengar tiupan trompet, tidak juga pemandangan indah kilauan  kembang api warna-warni di angkasa atau bahkan tidak nampak orang saling sekedar mengucapkan selamat tahun baru.

Lantas mengapa ini bisa terjadi? Jawabnya, sebagian besar masyarakat di sana bangga dengan Islam sebagai jati diri, tidak merasa rendah dihadapan pemeluk agama lainnya  terutama ketika mengetahui:

1. Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda ketika beliau melihat kaum anshor merayakan hari raya di masa jahiliyah mereka: “Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersukaria padanya di masa jahiliyah, kemudian Allah menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya, yaitu Iedul Qurban dan Iedul Fithri.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa-i dan Al Baghowi – shahih).

2. Wasiat Nabi: “..Wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaur Rosyidin..” (HR Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Al Hakim – shahih.)

3. Seringnya Nabi memerintahkan agar umat Islam menyelisihi kebiasaan-kebiasaan orang Nasrani, Yahudi atau Majusi baik dalam perkara ibadah hingga masalah janggut. Tentunya Nabi tidak tanpa sebab  memerintahkan demikian, hal itu karena beliau melihat umatnya sering ‘minder’ atau ‘kagum’ melihat ‘kebesaran’ budaya umat-umat sebelumnya seperti Bani Israil (Yahudi), Romawi (Nasrani) dan Persia (Majusi). Beliau sangat ingin umat beliau bangga dengan agama dan syariatnya.

4.  Merayakan Tahun Baru disikapi oleh pemeluk agama Kristen dengan beribadah di gereja-gereja sehingga menjadi bagian ibadah tahunan mereka. Dan  sebenarnya perayaan ini pun mengadopsi kebiasaan kaum pagan / penyembah dewa-dewa.

“Julius Caesar Penguasa Romawi menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru sejak tahun 46 sebelum masehi. Romawi mendedikasikan hari itu untuk Janus, dewa semua pintu gerbang, pintu-pintu dan permulaan waktu. Januari sendiri diambil dari nama Janus dewa yang memiliki 2 wajah, satu ke masa depan satu ke masa lalu.”
(The world Book encyclopedia 1984 vol 14 hal 237).

5. Telah mafhum bahwa malam tahun baru banyak diisi dengan adanya berbagai ketidaktaatan yang dilakukan sebagian orang seperti: kemubaziran misal dengan membakar kembang api, hura hura. Juga pesta-pesta campur baur antara pria wanita yang bukan mahram, dihidangkannya  minuman keras, kencan bahkan perzinahan.

Maka, mengingat sabda-sabda Nabi, kemudian mengetahui kemusyrikan yang melatarbelakangi diperingatinya tahun baru serta kemaksiatan yang banyak terjadi dalam peringatan tahun baru, maka sudah selayaknya kaum muslimin di sana berlepas diri dari peringatan-peringatan yang tidak syar’i semacam perayaan tahun baru. Nah kini, bagaimana dengan kita? Semoga Allah limpahkan hidayah dan kekuatan. Nas-alullohas salamata wal ‘afiyah.

Download picture di atas untuk PP/DP BB anda melalui link: https://ibnuaq.files.wordpress.com/2013/12/tambah-dekat-ke-liang-kubur2.gif

%d bloggers like this: