Sunnah Pengurusan Jenazah

 “Laporan Dauroh Pengurusan Jenazah Sesuai Sunnah Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam”

Hari / Tanggal : Ahad / 14 Syawwal 1435 (10 Agustus 2014M)
di Masjid Imam Syafi’i, Studio Alam – Depok.
Disampaikan oleh pemateri: Ust. Abu Islama Imanuddin MA.

Alhamdulillahi wa syukrulillah, wassholatu wassalaamu ‘ala Rasuulillah, Nabiyinaa Muhammad, wa ‘ala alihi wa ash-habihi ajma’in, amma ba’d.

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi pada setiap insan, maka mengurus jenazah adalah bagian dari kehidupan seorang muslim. Walaupun memang ada orang-orang, yayasan atau lembaga keagamaan yang bisa membantu mengurus jenazah bila terjadi kematian di suatu keluarga, namun sesungguhnya orang yang paling berhak melakukan pengurusan adalah anggota keluarga si mayit sendiri, apakah itu suami/istrinya, anaknya, orangtuanya, saudara kandungnya maupun lainnya yang masih bertalian darah dengannya. Oleh karenanya sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim/muslimah untuk mengetahui sunnahnya (tata-caranya) yang sesuai dengan apa yang dipraktekkan dan diperintahkan oleh Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.

Adapun sunnah-sunnah dalam pengurusan jenazah dimulai sejak sebelum kematian hingga selesai dikuburkannya.

Mohon dibaca dengan seksama dan semoga bermanfaat.

 

> SEBELUM KEMATIAN

Kematian biasanya didahului dengan sebab sakit/penyakit. Oleh karenanya hal ini dimulai dengan adab menjenguk seseorang yang sakit. Hendaklah membesarkan hati orang yang sakit dengan harapan harapan kesembuhan. Do’akan dengan do’a yang diajarkan Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam seperti salah satu di antara banyak do’a yang diajarkan adalah:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

( As-aluLLOHal ‘azhim, Robbal ‘arsyil ‘azhim an yasy-fiyak )

Artinya: “Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik Arsy yang agung, agar Dia menyembuhkanmu” (dibaca 7x). (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 2/210 dan Shahihul Jami’ 5/180.)

Bila ini terjadi kepada diri kita sendiri, hendaknya kita mempersiapkan diri dengan membuat wasiat khususnya wasiat kepada keluarga dan kaum muslimin pada umumnya berupa wasiat taqwa: yaitu agar keluarganya selalu bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla (mematuhi perintah Allah dan menjauhi laranganNya) dengan menjaga akidah tauhid yaitu untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun dalam hal:

  • “Uluhiyah” (peribadatan, misalnya dalam niat pelaksanaan sholat, puasa, zakat, haji, menyembelih qurban, dalam permintaan / do’a dan sebagainya),
  • “Rububiyah” (perbuatan Allah seperti misalnya meyakini Allah lah satu-satunya Yang Menciptakan Alam Semesta, Menghidupkan/Mematikan, Memberi rizki, Menyembuhkan, Memberi Manfaat dan Mudharat),
  • “Asma wa Shifah” (mengimani Nama-Nama serta Sifat-Nya tanpa dimaknai di luar apa yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya).

Tidak diperbolehkan berwasiat dengan wasiat yang dilarang seperti meminta bila kelak ia mati supaya dibacakan di kuburan Al-Qur’an tujuh hari tujuh malam. Atau agar kuburannya dibangun, diberi lampu, dan sebagainya. Wajib bagi ahli warisnya tidak melaksanakan wasiat seperti itu.

Bila menyangkut harta benda, maka wasiat tidak boleh melebihi 1/3 dari harta waris. Misalnya seseorang berwasiat agar ahli warisnya memberikan shodaqoh sebesar seluruh jumlah hartanya ke masjid. Hal tersebut tidak boleh  kecuali 1/3-nya saja. Dan tidak boleh wasiat mengenai harta ditujukan untuk ahli waris sebab ahli waris telah memiliki hak dan perhitungannya sendiri.

Tidak juga diperbolehkan seseorang meminta kematian sebagaimana halnya seseorang tidak boleh membunuh diri. Ajarkanlah orang sakit untuk bersabar dan banyak mengingat Allah sebagai satu satunya Yang Maha Menyembuhkan.

Sakarotul Maut

Bilamana seseorang berada dalam keadaan sakarotul maut yaitu tampak keadaan seseorang dalam kepayahan menjelang kematiannya maka hendaklah didampingi oleh keluarganya untuk menguatkan imannya sebab pada saat itu pasukan iblis mendatanginya untuk menyesatkan/memurtadkannya dengan membisikkan ke dalam hatinya hal-hal berupa kemungkaran.

Bahkan terkadang bila seseorang dirawat di RS Katolik / Kristen maka akan datang beberapa orang misionaris mereka untuk memurtadkan kaum muslimin dengan berdo’a dan mengajarkan kepada orang yang sakit berupa do’a–do’a yang syirik seperti menyebut-nyebut Yesus sebagai ‘tuhan’ dan sebagainya. Maka keluarganya yang hadir hendaknya orang yang bertaqwa kepada Allah dan dapat segera ‘mengusir dengan baik-baik’ mereka dengan mengingatkan bahwa orang sakit tersebut adalah orang muslim dan hanya membutuhkan do’a dari kaum muslimin.

Yang hadir adalah orang yang bertaqwa kepada Allah, sebab hendaknya yang hadir tidak berkata-kata yang membuat orang sakaratul maut bertambah berat misalnya dengan mengatakan, “Kami sudah ikhlas ditinggal,” dan sebagainya. Berkatalah yang baik dan ajarkan untuk berprasangka baik kepada Allah.

– Talqinlah / Tuntunkan kalimat tauhid yaitu:

لا الٰه الاالله

(“LAA ILAAHA ILLALLOOH”)
Artinya: Tidak ada Ilaah (sesembahan) yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda:

من كان آخر كلمه لا اله الا الله دخل الجنّة

Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallaah’, dia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud, Al Hakim – shahih).

PERHATIAN: hanya kalimat tersebut yang diajarkan oleh Nabi Shollallaahu ‘alayhi wasallam.

Tidak digunakan logika dalam hal ini seperti misalnya kasihan dianggap terlalu panjang – sehingga dianggap cukup mengajarkan, “Allah.. Allah.” saja, atau khawatir baru berucap “Laa Ilaah” (Tidak ada Tuhan) tiba tiba ruhnya dicabut/mati. Sungguh Allah Maha Mengetahui ucapan seorang hamba baik yang terucap maupun yang diniatkan dalam hatinya. Dan tentu Rasulullah lebih mengetahui syariat agama ini dibanding kita karena beliau hanya mengucapkan apa yang diwahyukan kepada beliau Shollallaahu ‘alayhi wa sallam. Bila hal itu baik maka tentu Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam telah mengajarkan “Allah.. Allah” saja. Namun syariat dan kebaikan itu bukan berasal dari anggapan orang tetapi berdasarkan dalil – baik itu berupa firman Allah (al Qur’an) maupun berupa perintah/perbuatan Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam (hadits-hadits shohih).

> SAAT KEMATIAN

a. Hendaklah memejamkan mata mayit. Mata yang terbuka tidaklah menunjukkan keadaan mayit yang banyak dosa atau lainnya.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda ketika memejamkan mata sahabat yang meninggal dunia yaitu: Abu Salamah Rodhiyallaahu ‘anhu:

إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَلاَ تَقُوْلُوْا إِلاَّ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ
يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

Sesungguhnya ruh apabila telah dicabut, akan diikuti oleh pandangan mata, maka janganlah kalian berkata kecuali dengan perkataan yang baik, karena malaikat akan mengamini dari apa yang kalian ucapkan.” [HR Muslim].

Juga ikat dagunya ke atas kepala dengan tali kain bila mulutnya  terbuka.

b. Menutup sekujur tubuh mayit dengan kain yang lebar.
Disunnahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, setelah melepas pakaiannya. Hal ini supaya tidak terbuka auratnya.

Dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْد حِبَرَةٍ

Dahulu ketika Rasulullah meninggal dunia ditutup tubuhnya dengan burdah habirah (pakaian selimut yang bergaris).” [Muttafaqun ‘alaih].

Kecuali bagi orang yang mati dalam keadaan ihram,maka tidak ditutup kepala dan wajahnya.

c. Keluarganya boleh bersedih/menangis tetapi tidak boleh berlebihan seperti meraung/meratap, berteriak-teriak atau bersedih terus menerus. Hendaknya ia sabar dan juga menyabarkan orang lain.

d. Yang datang boleh membuka kain di bagian wajah untuk melihat wajah mayit dan mahram boleh menciumnya. Tidak mengapa jika ada air mata yang mengenai wajahnya.
Dalilnya adalah ketika Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama menangis ketika putra beliau wafat yang masih kanak-kanak, yaitu Ibrahim.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda,

“Wahai anakku! Aku tidak memiliki hak kuasa apapun yang dapat kuberikan kepadamu di sisi Allah”. Melihat Nabi menangis Abdurrahman bin Auf dan Anas radhialallhuanhu lalu bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa Anda menangis? Bukankah Anda telah melarang menangis?’ Beliau menjawab : “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya tangisan itu adalah rahmat, dan barangsiapa tidak memiliki kasih sayang maka ia tidak mendapatkan kasih sayang”, kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya mata bisa berlinang, hati juga bisa berduka namun kita hanya bisa mengucapkan yang diridhai Rabb kita. Wahai Ibrahim, sungguh kami sangat bermuram durja karena berpisah denganmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

e. Segera menunaikan wasiatnya (yang tidak menyalahi syariat) dan segera melunasi hutang-hutangnya baik kepada manusia, maupun kepada Allah berupa nadzar, hutang puasa wajib, fidyah, kaffaroh dan sebagainya.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin terikat dengan hutangnya hingga dilunasi.” [HR Ahmad, At Tirmidzi].

f. Menyegerakan pengurusan jenazahnya. Kecuali bila mati mendadak, maka hendaknya ditunggu beberapa saat hingga jelas tanda-tanda kematiannya.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

Tidak pantas bagi mayat seorang muslim untuk ditahan di antara keluarganya.” [HR Abu Dawud].

 

> MEMANDIKAN JENAZAH

Dilakukan di tempat tertutup dari pandangan orang yang tidak ikut memandikannya. Yang tidak bertugas memandikan/membantu memandikan maka tidak perlu ikut ke ruang pemandian jenazah.

Yang paling berhak adalah orang yang diwasiati oleh si mayit ketika hidup untuk memandikannya. Bila tidak ada wasiat maka  yang paling berhak adalah dari keluarganya (orangtua, anaknya, saudara kandungnya atau suami/istrinya) dan tentu yang tahu mengenai sunnahnya (cara yang diajarkan Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam). Bila tidak ada yang bisa, maka dapat dilakukan dan dipimpin oleh orang muslim yang tahu tata caranya dan amanah. Tidak boleh seorang yang memandikan mayit menceritakan apa-apa yang mungkin ia dapati dari tubuh si mayit saat memandikan kecuali menceritakan hanya yang baik-baik saja.

Mayit laki-laki dimandikan oleh laki-laki dan mayit perempuan dimandikan oleh perempuan. Suami boleh memandikan istrinya dan juga sebaliknya.

Tata cara memandikan

a. Hendaknya memulai dengan Bismillah dan niat ikhlas (di dalam hati) untuk memandikan jenazah.

b. Melepas pakaian si mayit yang jika sulit dapat dengan menggunting pakaiannya tersebut.

c. Beri kain penutup pada bagian auratnya. Mayit yang berusia di atas 7 (tujuh) tahun maka auratnya tetap dijaga agar tidak terbuka ketika dimandikan dan yang memandikan pun diusahakan untuk tidak melihat aurat mayit.
1
d. Mengurut dan menekan bagian perut agar kotorannya dapat keluar. Sambil disiram air bersih. Setelah tidak ada kotorannya maka dicuci baik qubul (kemaluan) maupun dubur hingga bersih. Yang memandikan hendaknya menggunakan sarung tangan atau kain yang dibelitkan di jari – sebab tidak boleh menyentuh kemaluan mayit tanpa penghalang.
1 1 1

e. Setelah bersih, dimandikan seperti mandi janabah/besar yaitu dimulai dengan mewudhukan mayit (mengucapkan Bismillah kemudian mencuci kedua telapak tangan, mulut, hidung, membasuh wajah, kedua tangan hingga sikut, mengusap kepala dari depan hingga belakang dan kembali ke depan, kedua telinga dan membasuh kedua kaki hingga mata kaki).

Semua dimulai dari bagian tubuh sebelah kanan, dilakukan 3 kali kecuali mengusap kepala dan telinga cukup 1 kali.

* Berkumur dan membersihkan hidung mayit caranya dilakukan dengan menggunakan kain basah bersih yang dililitkan ke jari kemudian digosok-gosokkan dengan lembut ke gigi dan mulut bagian dalam si mayit. Demikian pula membersihkan lubang hidung. Jadi tidak dengan memasukkan air ke dalam mulut dan lubang hidung!
1 1 1

1 1 1

1 1

 

f. Setelah diwudhukan, dimandikan dengan cara menyiramkan air seperti mandi janabah ke kepala dan wajah dengan air yang dicampur perahan daun sidr (bidara). Bila sulit mendapatkan bidara maka gunakan air sabun. Bagi mayit wanita yang rambutnya panjang harus diuraikan agar kulit kepalanya dan rambut benar-benar bersih.

1

Kemudian membasuh tubuh sebelah kanan mulai dari leher, pundak hingga telapak kaki, depan dan belakang dengan memiringkan ke kiri si mayit.
membasuh tubuh sebelah kiri dari pundak hingga telapak kaki, depan dan belakang dengan memiringkan ke kanan si mayit. Jangan menelungkupkan mayit.
1   1

1   1

g. Basuh sebanyak 3 kali atau lebih sesuai kebutuhan, yang penting jumlahnya ganjil dan pada basuhan terakhir gunakan air yang dicampur kapur barus.

h. Jangan lupa membersihkan kuku-kuku tangan dan kaki dan sela-selanya. Jika diperlukan potong kukunya.
1

 

i. Keringkan dengan handuk dan sisir rambutnya. Untuk rambut wanita yang panjang maka dijalin/kepang jadi tiga bagian yaitu sebelah kanan, kiri dan tengah. Letakkan rambut yang telah dijalin tiga tersebut di belakang kepala.

Catatan: bila selesai dimandikan keluar kotoran maka cukup dibersihkan tanpa perlu dimandikan lagi, namun menurut Syaikh Abdullah bin Jibrin hendaknya di wudhukan tanpa perlu dimandikan lagi. Juga tidak harus membersihkan sisa-sisa daun sidr / bidara yang tertinggal di tubuh mayit.

i. Tutup kembali mayit yang telah dimandikan dengan kain yang bersih agar tertutup auratnya.

1

j. Disunnahkan bagi orang yang memandikan jenazah untuk mandi setelahnya.

Sebab Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

Barangsiapa yang memandikan mayit, maka hendaklah dia mandi. Dan barangsiapa yang memikul jenazah, maka hendaklah dia wudhu“. [HR Ahmad, Abu Dawud].

 

> MENGKAFANKAN

a. Jumlah kain kafan adalah 3 (tiga) lembar dan tidak ada perbedaan antara mayit laki-laki dan mayit perempuan. Kain kafan yang digunakan adalah kain yang bagus.

Dari ‘Aisyah Rodhiyallaahu ‘anha:

Bahwasanya Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam dikafankan dalam tiga kain putih buatan Sahuliyah Yaman, bahannya dari katun, tidak ada padanya gamis dan imamah (sorban).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ

“Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah memperbagus kafannya.” [HR Muslim].

b. Jika ada, maka salah satunya adalah kain bergaris (digunakan sebagai kain yang pertama). Bila sulit diperoleh maka kain bergaris bisa digantikan dengan kain putih polos biasa.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

إِذَا تُوُفِّيَ أَحَدُكُمْ فَوَجَدَ شَيْئًا فَلْيُكَفَّنْ فِي ثَوْبٍ حِبَرَةٍ

Jika wafat seorang di antara kalian dan mampu, maka hendaknya dikafankan dalam kain yang bergaris-garis. ” (HR. Abu Dawud – shahih).

* Catatan: Sebagian ulama ahli fiqih  (seperti Ibnu Qudamah di dalam Al Mughni) berdalil dengan hadits namun sanadnya lemah yaitu menjadikan kafan kaum wanita sebanyak lima lembar yaitu untuk sarung, baju dan kerudung dan 2 lembar lagi penutup kafan.

Tata Cara Mengkafani

a. Tumpuk kain kafan 3 rangkap. Kain yang bergaris (jika ada) letakkan paling atas yaitu yang akan menjadi pembungkus pertama.

b. Kemudian letakkan mayit di tengah-tengah kain dan usahakan lebarnya cukup. Tangan mayit tidak perlu dilipat/sedekap, tapi luruskan saja.
1

c. Kain lembar pertama (bergaris) ditutupkan dari sisi kanan mayit terlebih dulu baru kemudian yang sisi sebelah kiri mayit. Setelah itu dilanjutkan dengan lembar kedua hingga lembar ketiga dengan cara yang sama. Ditutup dari kepala hingga kaki.

1 1 1

* Gambar praktek latihan menggunakan manusia hidup sehingga kepalanya sengaja terbuka (agar tetap bisa bernafas). Namun pada keadaan sesungguhnya maka kepala langsung ditutup.

d. Ikat dengan kuat, dan tidak ada dalil yang menentukan jumlah tali pengikat. Tergantung kebutuhan saja.
  1  1  1

e. Tidak ada aturan arah mayit saat dimandikan atau dikafankan. Bahkan bila memungkinkan, mengkafani juga di atas tempat memandikan dengan cara setelah selesai dimandikan mayit diangkat dan kafan diletakkan di bawahnya.
Catatan: bila diperlukan saja mayit disumpal dengan kapas untuk mengatasi darah atau cairan yang keluar.

f. Selesai dikafankan maka mayit siap untuk disholatkan.

 

> SHOLAT JENAZAH

Tempat sholat jenazah sebaiknya adalah di tempat khusus menyolatkan jenazah di luar masjid, namun diperbolehkan menyolatkan di dalam masjid.

Dari A’isyah Rodhiyallaahu ‘anha ia berkata :

“Demi, Allah! Tidaklah Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallama menyalatkan jenazah Suhail bin Baidha’ dan saudaranya (Sahl), kecuali di masjid. ” [HR Muslim].

Sholat jenazah dilakukan berdiri tanpa ruku’, duduk dan sujud. Mayit diletakkan dengan sisi tubuh sebelah kanan mengarah ke kiblat.

Imam berdiri menghadap bagian kepala mayit bila mayit tersebut laki-laki sedangkan bila mayit perempuan ia berdiri di tengah.

a. Memperbanyak jumlah makmum.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

Tidaklah seorang yang mati, kemudian dishalatkan oleh kaum muslimin, jumlahnya mencapai seratus orang, semuanya mendo’akan untuknya, niscaya mereka bisa memberikan syafa’at untuknya.” [HR Muslim].

Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh empatpuluh orang yang tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan memberikan syafa’at kepada mereka untuknya.” [HR Muslim].

b. Menjadikan sholat jama’ah menjadi setidaknya 3 shof walaupun hanya sedikit yang mengikuti sholat janazah.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

 مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ صُفُوفٍ فَقَدْ أَوْجَبَ

Barangsiapa yang menyalatkan jenazah dengan tiga shaf, maka sesungguhnya dia diampuni.” [HR At Tirmidzi]

Tata Cara Sholat Jenazah

a. Jumlah takbir adalah 4 kali takbir. Namun Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallama pernah bertakbir lebih dari itu, yaitu 5, 6, 7 kali dan 9 kali. Rasulullah mengangkat tangannya hanya pada takbir yang pertama. Namun diperbolehkan juga pada mengangkat tangan setiap kali takbir. Suara Takbir tidak dikeraskan (terkecuali imam dikeraskan sekedar terdengar oleh makmum).

b. Setelah takbir pertama membaca Al Fatihah dan surat pendek dengan sirr (tidak dikeraskan).  Dalam permasalahan membaca surat setelah Al Fatihah, Imam Syafi’i tidak menetapkan adanya membaca surat setelah Al Fatihah sebagaimana dapat dibaca dalam kitab Al Umm (1/270).

c. Setelah takbir kedua membaca sholawat Ibrohimiyah seperti yang dibaca ketika tasyahud dalam sholat.

d. Setelah takbir ketiga mengikhlaskan doa bagi mayit sebagaimana beberapa contoh do’a dari Nabi.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ, وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ, وَاعْفُ عَنْهُ, وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ, وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ, وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ, وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اَلْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ, وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ, وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ, وَأَدْخِلْهُ اَلْجَنَّةَ, وَقِهِ فِتْنَةَ اَلْقَبْرِ وَعَذَابَ اَلنَّارِ

Ya Allah ampunilah dia, dan rahmatilah ia, dan berikan ia afiat, dan maafkan dia, mulyakan tempat tinggalnya, luaskan tempat masuknya, dan cucilah ia dengan air, salju,dan embun. dan bersihkan ia dari dosa sebagaimana terbersihkan kotoran putih dari noda. Dan gantikan kampung yang lebih baik dari kampungnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya. Masukkan ia ke dalam surga, dan lindungi dia dari fitnah kubur dan adzab neraka.” (HR. Muslim).

atau

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا, وَمَيِّتِنَا, وَشَاهِدِنَا, وَغَائِبِنَا, وَصَغِيرِنَا, وَكَبِيرِنَا, وَذَكَرِنَا, وَأُنْثَانَا, اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اَلْإِسْلَامِ, وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اَلْإِيمَانِ, اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ, وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ

Ya Allah, ampuni orang yang hidup di antara kami, orang yang meninggal, orang yang hadir, yang tidak hadir, anak kecil, orang dewasa, laki, maupun perempuan. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dalam Islam. Barangsiapa yang Engkau wafatkan, wafatkanlah dalam keimanan. Ya Allah janganlah Engkau haramkan untuk kami pahalanya, dan jangan Engkau sesatkan kami sepeninggalnya.” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, At Tirmidzi dan Al Hakim).

e. Setelah takbir ke empat diam sejenak atau membaca doa bagi kaum muslimin.

f. Mengucapkan salam ke kanan (dan boleh juga ditambah salam ke kiri).

Catatan:
– sholat jenazah boleh dilakukan berkali-kali asalkan oleh orang yang belum mensholatkannya, baik secara berjama’ah maupun sendiri.
– Selesai sholat maka tidak ada lagi amalan yang dicontohkan oleh Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam baik berupa isyhad (persaksian yang diucapkan oleh yang hadir bahwa mayit adalah orang baik) maupun do’a-do’a kembali yang dipimpin oleh imam atau lainnya sebab do’a tersebut telah dilakukan pada takbir ketiga (tersebut di atas).

 

> MEMBAWA DAN MENGUBURKAN JENAZAH

Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dishalatkan, maka dia memperoleh satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga dikuburkan, maka dia memperoleh dua qirath,”.kemudian Beliau ditanya: “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab,”Seperti dua gunung yang besar.” [HR Muslim].

 

Tata Cara Membawa Jenazah

– Bersegera membawa jenazah ke pekuburan dengan berjalan antara cepat dan lambat (tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat, namun dengan berhati-hati).

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda,

“Bersegaralah kalian ketika membawa jenazah. Apabila dia orang shalih, maka kalian akan segera mendekatkannya kepada kebaikan. Dan apabila bukan orang shalih, maka kalian segera meletakkan kejelekan dari punggung-punggung kalian.” [HR Muslim].

Catatan:

– Tidak disyariatkan menutup keranda dengan kain bertuliskan ayat-ayat al Qur’an karena hal tersebut mengandung penghinaan terhadap firman Allah sebab Firman Allah bukanlah pajangan atau penutup keranda.

– Tidak juga disyariatkan meletakkan rangkaian bunga-bunga di atas keranda. Perbuatan seperti ini meniru-niru orang di luar Islam (agama Hindu) dan merupakan amalan yang diada-adakan dari yang apa yang tidak diperintahkan Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.

– Tidak dilakukan “berobosan” (keluarga mayit berjalan menerobos di bawah keranda yang diangkat), tidak juga bagian kepala mayit dipayungi, dan tidak juga ada saweran/menyebar beras kuning, uang atau memecah kendi. Hal ini mengikuti perbuatan orang di luar Islam yang hal tersebut dilarang oleh Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.

– tidak ada keharusan untuk membawa jenazah dengan arah kepalanya lebih dahulu.

– tidak disyariatkan dalam mengangkat dan mengiringi jenazah dengan mengeraskan suara baik berupa do’a, sholawat, dzikir atau bacaan Al-Qur’an.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

“Janganlah mengiringkan jenazah dengan suara keras dan api.” [HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani].

– Yang mengiringi jenazah adalah kaum laki-laki.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama melarang kaum wanita untuk mengiringi jenazah.

وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:   نُهِينَا عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ, وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا

Dari Ummu Athiyyah: “Kami dilarang untuk mengiringi jenazah, akan tetapi tidak ditekankan kepada kami.” [HR Bukhari].

– Disunnahkan untuk tidak duduk hingga jenazah diletakkan di tanah.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda, “Apabila kalian mengikuti jenazah, maka janganlah duduk hingga diletakkan.” [HR Bukhari dan Muslim].

– Disunnahkan bagi orang yang telah selesai mengangkat jenazah untuk ber-wudhu’.

Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

“Barangsiapa yang memandikan mayit, maka hendaklah dia mandi. Dan barangsiapa yang mengangkatnya, maka hendaklah dia berwudhu.” [HR Abu Dawud].

 

Tata Cara Penguburan

a. Yang melakukan penguburan / menurunkan jenazah adalah kaum laki-laki walaupun si mayit adalah wanita. Dan yang paling berhak turun adalah keluarganya atau kerabatnya namun dengan syarat orang yang turun ke dalam liang adalah orang yang tidak melakukan jima’ pada malam harinya.
Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallama bersabda:

“Adakah di antara kalian yang tidak berhubungan badan tadi malam?’ ‘Saya, wahai Rasulullah,’ jawab Abu Tholhah. Kemudian beliau berkata,‘Turunlah’
Anas berkata, “Maka Abu Tholhah pun turun ke kuburnya.” (HR. Bukhari / Fat-hul Baari III/207, no. 1342).

b. Mayit diturunkan dari arah kaki kubur terlebih dahulu dan diletakkan dengan posisi berbaring di atas lambung kanannya dengan wajah menghadap arah kiblat.

أَدْخَلَ الْمَيِّتَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ الْقَبْرَ، وَقَالَ: هَذَا مِنَ السُّنَّةِ

Dari Abu Ishaq, “Bahwasanya Abdullah bin Zaid memasukkan jenazah dari arah kaki kubur, kemudian ia berkata: ini termasuk sunnah.” (HR. Abu Dawud)

c. Yang meletakkan mayit ke dalam kubur mengucapkan “Bismillaah wa ‘alaa Sunnati Rasuulillaah,” atau membaca, “Bismillaah wa ‘alaa Millati Rasuulillaah,” sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alayhi wa sallam jika meletakkan (memasukkan) jenazah ke liang lahad, beliau selalu membaca: “Bismillahi wa ‘alaa sunnati Rasulillaah.” (Dengan menyebut Nama Allah dan mengikuti Sunnah Rasulullah). [Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud (IX/32, no. 3197), Sunan at-Tirmidzi (II/255, no. 1051), Sunan Ibni Majah (I/494, no. 1550)]

Juga berdasarkan hadits al-Bayadh, dari Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallama, beliau bersabda:

Ketika mayat dimasukkan di kuburnya, maka hendaklah orang yang memasukkannya itu membaca di saat dia meletakkan mayit di lahad: ‘Bismillaahi wa billaahi wa ‘alaa millati Rasuulillaah’ (Dengan menyebut Nama Allah, demi Allah dan mengikuti Sunnah Rasulullah).” [HR. Al-Hakim (Mustadrak I/366).]

d. Setelah diletakkan maka tidak ada syariat untuk membuka tali ikatan kain kafan, tidak pula membuka kain di bagian wajah si mayit dan tidak pula diciumkan ke tanah. Tidak pula si mayit di-adzankan dan di-iqomahkan. Namun para ulama membolehkan untuk melepas ikatannya ketika mayit ketika mayit telah diletakkan di lahad. Namun hendaknya melepas ikatan tersebut tidak tidak dengan dilatarbelakangi niat agar tidak menjadi hantu pocong atau mitos / kesyirikan lainnya.

e. Setelah itu si mayit ditutup dengan kayu papan atau sejenisnya dan kemudian ditutup dengan tanah. Disunnahkan bagi yang berada di sekitar kubur untuk turut menabur (melemparkan) ke atas kubur tiga genggaman tanah dengan kedua tangannya setelah liang lahat ditutup. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah,

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam telah melakukan shalat Jenazah, kemudian beliau mendatangi kuburan mayit itu, lalu menaburkan (melemparkan) tiga kali genggaman tanah ke bagian atas kepala mayit.” [HR. Sunan Ibni Majah (I/499, no. 1565)]

f. Selesai pemakaman maka tanah kubur ditinggikan sejengkal dan diletakkan batu sebagai tanda, di bagian kepala.

g. Tidak disyariatkan menyiram kubur dengan air mawar, ditaburi bunga atau menancapkan pelepah kurma. Mengenai pelepah kurma yang oleh Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama ditancapkan di kuburan adalah kekhususan beliau karena beliau atas ijin Allah mengetahui dua orang penghuni kubur sedang disiksa, dan kemudian beliau menancapkan pelepah kurma basah sembari berdo’a dan berharap selama pelepah kurma itu belum kering Allah akan meringankan siksanya. Dengan demikian bila kita melakukan hal yang sama kepada kubur seseorang itu adalah merupakan prasangka buruk bahwa penghuni kubur sedang disiksa dan ini tidak disyariatkan.

h. Disyariatkan berdoa kepada Allah untuk penghuni kubur. Kemudian setiap orang yang hadir berdo’a sendiri-sendiri tanpa dipandu atau di-imami seseorang. Tidak pula dibacakan Al-Qur’an, Tahlil, Talqin atau lainnya.

i. Dari ‘Utsman bin ‘Affan Rodhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Bahwasanya apabila Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallama selesai menguburkan mayit, beliau berdiri di samping kubur seraya bersabda: “Mohonlah ampunan bagi saudaramu dan mohonkanlah keteguhan baginya karena ia sekarang sedang ditanya.” [HR. Abu Dawud, (‘Aunul Ma’buud IX/41, no. 3205).]

j. Tidak diperbolehkan menulis sesuatu di atas kuburan. Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam melarang di atas kuburan diberi warna dan ditulis sesuatu. Dan Beliau melarang di atasnya dibangun dan diinjak. [HR At Tirmidzi].

k. Tidak boleh mengubur orang kafir di kuburan kaum muslimin dan sebaliknya.

l. Tidak boleh menambahkan sesuatu di atas kuburan, baik dengan tanah atau bangunan. Karena hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu yang marfu’, beliau berkata:  “Rasulullah melarang mendirikan bangunan di atas kuburan atau ditambahkan kepadanya tanah.” [HR An Nasa-i, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani].

m. Dibenci berjalan di atas kuburan dengan mengenakan alas kaki tanpa ada udzur. Namun apabila ada udzur, seperti tempatnya sangat panas atau terdapat banyak duri, maka tidak mengapa berjalan dengan mengenakan sandal. Didalam hadits Basyir bin Nahik, ia berkata: Ketika aku berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam , tiba-tiba ada seseorang yang berjalan di kuburan dengan mengenakan sandal.

Kemudian Beliau bersabda:  “Wahai, orang yang mengenakan sandal! Celakalah engkau! Lepaskanlah dua sandalmu!” Kemudian lelaki tersebut melihat sandalnya. ketika dia melihat Rasulullah melepas sandalnya, maka dia melepas dan melempar kedua sandalnya. [HR Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani].

%d bloggers like this: