Jangan berprasangka buruk!

Berprasangka baiklah…

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Hujurat: 12)

Ketika seseorang yang selalu berprasangka baik bertemu yang lebih muda maka orang itu berkata,”Pemuda ini lebih sedikit bermaksiat dibandingkan diriku.”

Dan bila ia bertemu yang lebih tua dari dirinya maka ia berkata,”Orang tua ini lebih banyak berbuat kebaikan dibandingkan diriku.”

Demikianlah seorang beriman seharusnya. Ia akan mendahulukan prasangka baik kepada saudaranya.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa Sallam bersabda,
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari no.6064, Muslim no. 2563).

Bila ada sebuah keburukan akhlak seseorang yang didengarnya maka ia berkata,”Mungkin ia belum mendengar akhlak Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.
Bila ia memberi salam namun tidak dijawab, maka ia berkata,”Barangkali ia belum diberitahu mengenai wajibnya menjawab salam.”

Bila mendengar seseorang berbuat syirik semisal meminta-minta kepada penghuni kubur, maka jangan mengatakannya kafir, murtad atau bid’ah dan pasti masuk neraka, tetapi berprasangka baiklah, sebab bisa jadi ia melakukannya karena belum sampai hujjah kepada pelakunya / belum mengetahui dalilnya, atau mungkin masih ada syubhat (kerancuan) di pemikirannya dan carilah beribu alasan lainnya.

Bedakan antara menghukumi suatu perbuatan dengan menghukumi pelakunya. Kita boleh menghukumi berdasarkan kriteria. Contoh,
“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.” (QS. al-Balad ayat 19-20).

Ayat di atas hanya menetapkan kriterianya, tidak menunjuk satu nama orang tertentu.

Adapun memastikan seorang muslim yang fasik (pelaku dosa besar) tertentu misalnya si Fulan masuk neraka – bukanlah hak manusia menentukannya. Sebab kita tidak tahu apakah Allah akan mengazabnya atau mengampuninya. Kita tidak tahu mungkin saja orang itu sempat bertaubat dan berbagai prasangka baik lainnya. Namun demikian bukan berarti kita boleh sengaja berbuat fasik dengan niat untung-untungan, siapa tahu tetap masuk surga.

Demikian pula sebaliknya, manusia tidak berhak untuk memastikan si Fulan yang sholih masuk surga dan memberikan sebutan Almarhum (yang dirahmati) kepadanya sebab kita pun tidak tahu hakikat dirinya, niatnya dan akhir kematiannya. Kita hanya boleh memberi sebutan berbentuk doa: Allahu yarham (semoga Allah merahmati).

Syaikh bin Baaz Rahimahullah seorang ulama Saudi yang sering dijuluki ulama Wahhabi, beliau berkata dalam salah satu fatwa beliau:
“Aku juga menasehati mereka agar berhati-hati untuk tidak tergesa-gesa dalam menyebutkan hukum kafir, fasik atau bid’ah kepada orang lain tanpa bukti dan kejelasan, karena Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa Sallam bersabda : “Barang siapa yang berkata kepada saudaranya sesama muslim wahai kafir maka kata itu pasti berlaku bagi salah seorang di antara mereka berdua” (Mutafaqun ‘ala shihatihi).

Bila kita selalu berprasangka baik maka hidup kita lebih tenang, in sya Allah…..

%d bloggers like this: