Pergaulan Islami

Alhamdulillah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Fitnah/ujian di jaman ini sangatlah dahsyat. Bila di tahun 70an – 80an akses menuju kemaksiatan masih terbatas, contohnya pornografi dalam bentuk film seluloid 8mm sulit diperoleh dan membutuhkan peralatan proyektor yang mahal. Namun 10 tahunan kemudian muncul lah Sony memperkenalkan video cassette yang ringkas. Film yang tak pantas dilihat orang (dewasa sekalipun) semakin mudah didapat. beberapa  tahun kemudian, muncul lagi teknologi lebih modern seperti LD, VCD, DVD dengan alat pemutar yang lebih kecil lagi. Dan kini, akses tersebut lebih terbuka lagi bahkan sedemikian mudahnya. Cukup buka smartphone, aktifkan internet dan … Dunia terbuka lebar! Bagi yang mencari ilmu agama pun mudah, mau yang benar atau yang sesat sekalipun lengkap. Bagi pehobi kebejatan juga tersedia. Tak heran bila kemaksiatan pun merajalela.

Kini, anak-anak kecil begitu mudah mengakses pornografi. Bahkan sulit dideteksi karena tersembunyi dalam kantung mereka. Sepertinya sih main game tapi terkadang bertambah semangatnya karena ada game yang bonusnya pornografi bila menyelesaikan game itu. Akibatnya, anak-anak sejak kecil sudah memikirkan ‘itu’.  Komunikasi canggih? Media interaksi sosial? Jelas sangat membantu urusan kita tapi bisa juga malah maksiat tambah mudah. Peminatnya bisa berkomunikasi untuk merealisasikan kemaksiatan itu.

Kisah nyata beberapa waktu lalu (2015) : Seorang teman yang berprofesi sebagai guru SMP Negeri bercerita dengan trenyuh, bagaimana tidak, salah seorang siswinya ketahuan terlibat dalam jaringan prostitusi online. Ya, siswi SMP yang jelas berusia sangat belia! Menurut siswi yang mengaku awalnya dijebak teman ini, komunikasi mereka (antara pemberi jasa dan penerima jasa) dilakukan melalui media sosial seperti Facebook, Tweeter dan Instagram. Sungguh musibah!

Bagaimana nasib generasi kita kelak? Berapa banyak anak-anak tak berbapak atau yang mati di tangan oknum praktisi aborsi kelak akibat pergaulan bebas? Berapa banyak generasi yang rusak moralnya?

Islam mengajarkan dan memerintahkan umat manusia untuk menjaga nasab / garis keturunan dan ini merupakan salah satu dari maqosidu (tujuan) asy-syariah. Dan implementasinya adalah Islam tidak berkompromi dengan perzinaan, ini bisa kita lihat dari beratnya hukuman. 100 kali cambuk bagi yang belum pernah menikah atau Rajam. Namun ingat, hukuman ini hanya boleh dijalankan oleh negara, bukan perorangan, dan Islam mendahulukan Taubat ketimbang hukuman bilamana Allah tutupi aibnya.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” Al Qur’an Surah Al Isra’: 32.

Lihatlah dengan seksama, Allah memerintahkan untuk tidak mendekati! Jadi belum sampai kepada zina itu sendiri sudah terlarang. Dan setiap larangan tentulah berkonsekwensi dosa bila dikerjakan.

~ Adapun yang MENDEKATI ZINA itu antara lain:

√ MEMANDANG lawan jenis.   Dalam surat An Nuur: 30-31, Allah memerintahkan pria dan wanita untuk menundukkan pandangannya dari melihat lawan jenis yang bukan istri/suaminya atau bukan mahromnya. Diperintahkan pula kaum wanita menutup aurat.

* Contoh Mahrom seperti orangtua, kakak, adik, bibi, anak, keponakan dsb. Sedangkan kerabat yang bukan mahrom a.l. adalah ipar, sepupu, bibi/paman/keponakan dari pihak istri/suami kita dll.

Mengapa Allah memerintahkan menundukkan pandangan? Sebab dari pandanganlah fikiran seseorang mudah terhanyut walaupun hanya wajah. Menurut para ulama wajah adalah bagian utama yang menyebabkan seseorang terfitnah. Oleh karenanya walau bagian lain telah tertutup, ulama menganjurkan penggunaan cadar bilamana seorang wanita dikarunia wajah yang cantik.

– KHOLWAT. Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda,

“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahromnya, dan tidak boleh seorang perempuan bersafar kecuali bersama mahromnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

Para ulama menjelaskan kholwat ini adalah berduaannya seorang wanita dan seorang laki-laki di suatu tempat, baik di tempat tertutup maupun terbuka. Walau tidak ada hubungan istimewa. Contohnya, berdua saja antara majikan laki-laki dengan pembantu wanita, Suami dengan saudari iparnya,  baik itu di rumah, mobil, atau di jalanan sekalipun karena selalu setan hadir menjadi yang ketiganya. Karena bujuk rayu, yang tak mungkin bisa terjadi.

Demikian pula terlarang seorang wanita bepergian ke luar kota sendirian karena rawan godaan maupun gangguan.

√ MENYENTUH lawan jenis yang bukan mahromnya. Fitnah besar timbul dari hal ini. Siapapun maklum sentuhan dapat menimbulkan perasaan khusus. Sesholih apapun seseorang maka syaithon akan membisikkan ke hatinya hal yang tidak baik mulai dari sekedar rasa senang, cinta hingga syahwat kepada yang tidak halal baginya.

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahromnya)” (HR. Ar Ruyani dalam Musnad-nya, 2/227, dishahihkan Al Albani.

√ IKHTILATH. Dunia pendidikan saat ini, terutama di sekolah-sekolah umum sangat tidak bersahabat dengan syariat. Ikhtilath / berbaurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pergaulan jelas memudahkan terjadinya pelanggaran baik sengaja maupun tidak sengaja seperti bersentuhan, bebasnya memandang lawan jenis yang pada gilirannya dapat berlanjut ke jenjang pacaran yang tentu lebih banyak lagi menabrak larangan Allah dan Rasul-Nya.

√ WANITA MELEMBUT-LEMBUTKAN SUARA  sebagaimana firman Allah dalam surah Al Ahzab: 32

“maka janganlah kamu menundukkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”

Berapa banyak orang terpikat oleh gaya bicara yang manja dan merayu. Apalagi dengan kata-kata yang menggoda. Penampilan menarik pula. Lengkap sudah fitnah syahwat.

Termasuk bagian ini adalah wanita baligh membaca al Qur’an di hadapan pria yang bukan mahrom sebagaimana umum kita saksikan dimana wanita lomba mengaji sambil diindah-indahkan suaranya, mendayu-dayu di depan umum bahkan ditonton dirinya oleh ribuan atau mungkin jutaan orang.

√ MENARIK PERHATIAN PRIA atau TABARRUJ (berhias).

Termasuk larangan karena ‘mengajak’ kepada perzinaan adalah memperbagus penampilan seorang wanita yang bukan untuk suaminya. Menampakkan aurat / tidak berhijab, memakai minyak wangi agar dicium baunya oleh pria lain dan juga melenggak-lenggokan saat berjalan adalah di antara larangan tersebut.

Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda: “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan kaum laki-laki agar mereka mencium bau harum yang digunakannya, maka perempuan tersebut adalah pezina.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad.  Tirmidzi mengatakan hadits ini Hasan Shohih).

Wewangian dimaksud di sini adalah yang mempunyai aroma kuat sehingga tercium dari jarak yang dapat dihirup kaum laki-laki. Bila sekedar untuk dirasakan diri sendiri in sya Allah tidak mengapa.

Demikian beberapa hal berkaitan dengan mendekati zina sebagaimana dimaksud surah Al Isra’ :32.

Sebagai penutup, maka janganlah kita merasa yakin dan kuat terhadap godaan syahwat sehingga menabrak larangan Allah dengan alasan diri kita tidak mungkin tergoda. Ingatlah kisah Nabi Yusuf ‘alayhissalaam yang mana bila tidak karena pertolongan Allah maka Nabi pun tidak dapat menahan godaan wanita bangsawan yang cantik jelita. Apalah lagi kita yang beriman jauh di bawah para Nabi.

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan zina) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (QS. Yusuf: 24).

Dan mulailah memperhatikan dengan seksama kegiatan dan pergaulan anak-anak kita, didiklah dengan ilmu agama, tanamkan akhlak yang mulia. Anak-anak perlu dibimbing, diberi pengertian hingga diberi sikap tegas agar terjaga pergaulannya. Belajar agama juga bila perlu dipaksa karena kecenderungan anak-anak adalah lebih suka bermain saja. Jika kita geram melihat kebobrokan moral di sekitar kita bahkan juga sebagian pemimpin kita, maka mulailah dengan membenahi keluarga dan anak-anak kita sebab merekalah yang kelak menjalankan negara ini, dan perbuatan mereka akan ditanyakan kepada orangtua pula di akhirat kelak. Wallahu a’lam.

“Yaa Allah yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, dengan RahmatMu aku memohon pertolongan, perbaikilah keadaanku seluruhnya. Dan janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau hanya sekejab mata (tanpa pertolonganMu).

Doa Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallama ketika pagi dan sore (HR. An Nasa’i, Al Hakim – hadits Shohih).

 

%d bloggers like this: